Oleh: Puspa Khairunnisa 2240301183
JurnalPost.com – Saat ini, media sosial merupakan bagian tak terpisahkan dari kehidupan generasi milenial. Mayoritas mahasiswa aktif memakai media sosial seperti Facebook, Instagram, ataupun Twitter dalam berinteraksi juga berbagi informasi. Selain itu, banyak pula mahasiswa yang menggunakan media sosial sebagai sumber belajar di luar kampus.
Di sisi lain, pembelajaran sastra yang berlangsung di perguruan tinggi masih bersifat konvensional dan kurang memanfaatkan teknologi. Metode ceramah dan diskusi kelas masih dominan digunakan oleh dosen. Mahasiswa kurang termotivasi untuk mengikuti perkuliahan sastra yang cenderung membosankan. Hal ini berpengaruh pada rendahnya minat dan prestasi belajar mahasiswa di mata kuliah sastra.
Berdasarkan latar belakang tersebut, peneliti tertarik untuk mengusulkan pemanfaatan media sosial dalam pembelajaran sastra di perguruan tinggi. Dengan demikian, tujuan penulisan artikel ini yaitu untuk mengajukan model pemanfaatan media sosial sehingga bisa untuk meningkatkan minat dan hasil belajar mahasiswa di dalam mata kuliah sastra.
Media sosial saat ini sudah menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dari generasi muda. Mayoritas mahasiswa aktif menggunakan media sosial misal Facebook, Instagram, dan Twitter untuk berinteraksi dengan teman sejawat maupun menjadikan sumber belajar mandiri di luar kampus. Di sisi lain, pembelajaran sastra yang berlangsung di perguruan tinggi masih bersifat konvensional dan kurang memanfaatkan teknologi digital. Metode ceramah dan diskusi kelas masih dominan digunakan dosen tanpa adanya inovasi. Akibatnya, minat dan prestasi belajar mahasiswa tampak menurun.
Oleh karena itu, penulis berpikir bahwa perlu adanya upaya pemanfaatan media sosial dalam pembelajaran sastra di perguruan tinggi. Penulis mengusulkan model pemanfaatan
Facebook group maupun Instagram sebagai sarana pendamping perkuliahan sastra. Dosen dapat mengunggah berbagai materi kuliah secara daring untuk diakses mahasiswa. Selain itu, mahasiswa dapat saling berdiskusi dan bertanya mengenai konsep-konsep sastra yang dibahas. Mereka juga dapat berkreasi dengan mengunggah karya sastra buatan sendiri untuk dinilai. Dengan model pembelajaran yang lebih dinamis dan interaktif melalui media sosial diharapkan mahasiswa akan semakin tertarik dan termotivasi mengikuti perkuliahan sastra. Pengalaman belajar sastra di kampus pun menjadi lebih bermakna dan menyenangkan.
Pemanfaatan media sosial dapat dilakukan dengan berbagai macam model dan teknik pembelajaran yang inovatif. Misalnya seperti model pembelajaran berbasis proyek yang melibatkan unsur kreativitas dan kolaborasi antar mahasiswa. Dosen dapat memberikan tantangan berupa pengerjaan proyek sastra, seperti membuat drama, film pendek, podcast, atau buku elektronik bertemakan karya sastra tertentu. Proses pengerjaan proyek dapat didokumentasikan bisa juga diposting ke media sosial sehingga teman dan dosen dapat memberikan masukan secara real time. Penilaian akhir ditentukan berdasarkan kualitas karya dan implementasi unsur-unsur sastra dalam proyek. Model ini diharapkan dapat meningkatkan kompetensi mahasiswa di bidang sastra secara lebih praktis dan menyenangkan.
Selain itu, pembelajaran sastra juga bisa dilakukan dengan metode pendekatan linguistik yang melibatkan analisis bahasa dan format teks karya sastra. Mahasiswa dapat dibagi menjadi kelompok kecil dan ditugaskan untuk meneliti karya sastra tertentu, misalnya puisi, lalu membuat poster atau hasil analisis mereka tentang unsur bahasa, tema, gaya bahasa, dan format teks yang digunakan. Kemudian hasil karya mereka dapat dipresentasikan dan didiskusikan secara daring di media sosial untuk mendapatkan masukan dan saran perbaikan dari dosen dan teman yang lain. Metode ini diharapkan dapat meningkatkan kemampuan analisis sastra mahasiswa secara lebih mendalam.