Oleh: Maria Oktavia Heting, mahasiswa sastra inggris universitas Kristen Indonesia
JurnalPost.com – Bahasa di Indonesia ini sangat beragam, termasuk bahasa-bahasa daerah di Indonesia, tentunya posisi bahasa di Indonesia ini beragam, ada yang menduduki bahasa yang sering digunakan atau (mayoritas) dan tidak banyak orang tau atau jarang digunakan yaitu (minoritas). Permasalahan yang terjadi di Bahasa Minoritas yaitu adalah penuturnya yang tidak banyak, yang dapat mengakibatkan kepunahan dari bahasa itu sendiri. Terkhususnya di Provinsi Nusa Tenggara Timur, khususnya daerah Alor, merupakan salah satu wilayah di Indonesia yang kaya akan keragaman budaya dan bahasa. Alor dikenal memiliki banyak Bahasa daerah yang digunakan oleh berbagai komunitas etnis di sana. Bahasa-bahasa ini. Mencerminkan identitas, sejarah, dan tradisi unik masyarakat Alor.
Beberapa Bahasa-bahasa daerah di Alor menghadapi ancaman Kepunahan. Pelestarian bahasa minoritas di Alor menghadapi berbagai tantangan. Salah satu contohnya adalah Bahasa Beilel merupakan salah satu bahasa daerah yang digunakan di Kabupaten Alor, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Bahasa ini adalah salah satu dari banyak bahasa minoritas Yang berada di Alor. Bahasa minoritas ini ditemukan oleh Abdul Rachman Patji seorang koordinator peneliti Bahasa etnik di LIPI, yang diterbitkan oleh BRIN pada 5 June 2013. Penutur dari bahasa ini hanya tinggal seorang. Terdapat seorang kakek Yang berada didusun Habollat bernama karim. Karim merupakan orang yang satu satunya bisa berbahasa Beilel, tanpa adanya teman untuk diajak berkomunikasi dengan menggunakan bahasa Beilel.
Bahasa minoritas Beilel diatas menjadikan kita contoh, bahwasanya masih ada dan mungkin banyak bahasa minoritas yang hampir hilang karna kurangnya penutur. Dengan hanya satu penutur bahasa Beilel di Alor dapat mengalami ancaman kepunahan. Sepuluh tahun kedepan mungkin Bahasa ini dapat menjadi hilang jika tidak diambil tindakan yang efektif untuk pelestarian bahasa ini. Jika pemerintah dapat berupaya untuk mempertahankan Bahasa ini, kemungkinan besar akan bertahan dengan cara pengembangan program pelestarian seperti pelatihan bahasa, pengembangan materi ajar tentang bahasa Beilel, dan penggunaan media sosial dapat juga membantu untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang bahasa ini, dan kemungkinan besar dapat meningkatkan jumlah penutur.
Di zaman sekarang tentunya banyak anak muda yang merantau dan terlahir dari daerah yang berbeda beda, dan terkadang jika kita keluar dari daerah tempat kita tinggal, kita bisa saja tidak menggunakan bahasa daerah kita, biasanya menggunakan bahasa Indonesia. Terkadang kita nyaman dengan bahasa Indonesia, daripada bahasa daerah kita sendiri, itu salah satu gejala awal yang dapat membuat bahasa daerah kita menjadi bahasa Minoritas, karna berkurangnya penutur. Selain itu, perlu diingat bahwa pelestarian bahasa daerah tidak hanya berfokus pada bahasa itu sendiri, tapi juga pada budaya dan tradisi yang terkait dengan bahasa tersebut. Oleh karena itu, perlu diadakan upaya untuk mempertahankan budaya dan tradisi masyarakat Alor yang terkait dengan Bahasa Beilel.
Kita sebagai anak muda, sebaiknya harus melestarikan bahasa-bahasa daerah kita, agar kelak anak, cucu, kita dapat mempelajari bahasa-bahasa daerah lainnya, dan tidak menjadi punah atau menjadi bahasa minoritas.
Referensi :
Jurnal Etnolingual, 6(2), 2022, 113–134. Reformasi Bahasa Minoritas Indonesia. Nilam Ayu Rahardini, AN Awaliyah
Bahasa Minoritas Kui dan Pembentukan Identitas Etnik Di Alor, Nusa Tenggara Timur Katubi Katubi, 2017. Masyarakat Indonesia 37(2), 199-219.
Khawatir Bahasa Etnik Punah, LIPI Terbitkan Kamus Bahasa Minoritas. SOFYAN HENDRA, Jakarta.JUN 5, 2013