Kembali
Mode hapus aktif. Klik paragraf, foto, judul, tabel, atau bagian lain yang tidak ingin masuk PDF.
JurnalPost.com

Opini Publik di Era Media Sosial- Antara Fakta dan Persepsi

Tim Editor: Redaksi · Tanggal: 16 Januari 2026
(Tangkapan layar unggahan akun X Harian Jogja yang menampilkan Lisa Mariana, yang belakangan menjadi sorotan publik di media sosial)

Oleh: Fanya Alsya Putri

JurnalPost.com Lisa Mariana merupakan seorang selebgram dan model majalah dewasa yang muncul ditengah huru hara kasus perselingkuhan. Lisa Mariana ini diduga sebagai simpanan seorang tokoh publik di Indonesia, yaitu mantan gubernur Jawa Barat. Ia juga mengklaim bahwa memiliki satu anak, yang dimana anak tersebut adalah hasil hubungannya dengan seorang tokoh publik, tetapi klaim tersebut dibantah oleh pihak yang bersangkutan.

Lewat media sosialnya saat itu, Lisa mengaku dipaksa oleh tim dari pihak terkait untuk membantah adanya hubungan dengan mantan gubernur Jawa Barat itu. Klarifikasi ini disampaikannya setelah Lisa Mariana mengunggah sejumlah bukti percakapan yang diduga melibatkan dirinya dan seorang tokoh publik melalui Instagram Story. Mantan gubernur Jawa Barat itu langsung membantah isu perselingkuhan tersebut. Ia menekankan isu itu sebagai fitnah keji berlandaskan ekonomi. Ia menjelaskan bahwa dirinya hanya pernah bertemu Lisa satu kali dalam konteks permohonan bantuan kuliah, sekitar empat tahun yang lalu.

Karena merasa dirugikan akhirnya Lisa Mariana dilaporkan ke Bareskrim Polri, diduga telah melakukan tindakan pencemaran nama baik terhadap mantan gubernur Jawa Barat itu. Sebelum sidang pembuktian gugatan itu, Bareskrim Polri resmi mengumumkan tes DNA yang menunjukkan tidak adanya kecocokan atau nonidentik antara Ridwan Kamil, Lisa, dan anaknya.

Dengan adanya klarifikasi resmi dan hasil pemeriksaan yang disampaikan, persoalan ini sebenarnya sudah memiliki titik jelas. Namun, reaksi publik selama isu ini berkembang memperlihatkan pola yang menarik dalam cara orang memahami informasi di internet. Karena itu, penting membahas lebih jauh soal literasi digital dan bagaimana isu bisa cepat menyebar tanpa verifikasi.

Kasus Lisa Mariana ini viral karena ada sebuah postingan yang diunggah oleh pihak tak dikenal. Yang dimana hal tersebut menimbulkan berbagai macam opini publik, dan semakin banyak pihak yang mulai ikut menyebarkan berita tersebut. Salah satunya adalah akun-akun gosip yang semakin memanas dan memicu kontroversi di media sosial.

Banyak orang berspekulasi meski belum ada kejelasan terkait unggahan postingan tersebut. Semakin banyak bukti-bukti berupa potongan video, foto, ataupun cerita yang tidak berdasar menyebar dengan cepat. Hal inilah yang menunjukkan bahwa banyak orang yang lebih cepat percaya hanya karena sebuah potongan video tanpa adanya sumber yang jelas. Tidak mencari tau terlebih dahulu kebenarannya seperti apa, hanya menelan mentah-mentah berita yang sedang viral. Dan percaya terhadap komentar, karena lebih dominan emosi daripada logika.

Situasi semakin memanas ketika Lisa menyampaikan klaim pribadi mengenai hubungannya dengan seorang tokoh publik dan menyebut bahwa ia memiliki seorang anak dari hubungan tersebut. Klaim itu segera dibantah oleh pihak yang dituduh. Melalui pernyataan resmi, ia  menegaskan bahwa tuduhan tersebut tidak benar.

Perkembangan isu ini memperlihatkan bagaimana informasi yang belum jelas bisa berubah menjadi kebenaran baru bagi sebagian orang hanya karena sering dibagikan. Banyak pengguna internet lebih terpancing oleh judul, potongan video, atau komentar, daripada mencari fakta lengkap. Hal seperti ini membuat ruang digital mudah diwarnai kesimpangsiuran dan fitnah, apalagi ketika menyangkut tokoh publik.

Etika bermedia sosial seharusnya menjadi pegangan masyarakat, terlebih dalam isu personal yang menyangkut kehormatan. Sayangnya, sebagian orang justru memperlakukan ruang digital seperti tempat hiburan tanpa aturan. Narasi yang dibangun bisa dengan cepat menggiring opini tanpa mempertimbangkan dampak psikologis maupun sosial bagi individu yang disebut.

Pada akhirnya, kasus viral seperti ini menunjukkan bahwa masyarakat perlu lebih berhati-hati dalam menerima dan menyebarkan informasi. Tidak semua yang terlihat meyakinkan di internet adalah benar, dan tidak semua yang ramai dibicarakan layak dipercaya begitu saja. Literasi digital bukan hanya soal kemampuan menggunakan media sosial, tetapi juga kemampuan untuk memilah informasi, mempertanyakan sumber, dan memahami dampaknya. Dengan sikap yang lebih kritis, ruang digital bisa menjadi tempat yang lebih sehat dan tidak mudah dipenuhi oleh fitnah maupun opini yang menyesatkan.

Oleh: Fanya Alsya Putri

Referensi
Kompas.com (2025, 20 Oktober) Lisa Mariana Jadi Tersangka, Ini Perjalanan Kasus Pencemaran Nama Baik Ridwan Kamil
https://nasional.kompas.com/read/2025/10/20/06582781/lisa-mariana-jadi-tersangka-ini-perjalanan-kasus-pencemaran-nama-baik-ridwan?page=all
Karnita (2025, 20 Agustus) Publik Bijaklah Atas Kasus RK dan Lisa Mariana
https://www.kompasiana.com/karnitakar4943/68a5d162ed64156287625025/publik-bijaklah-atas-kasus-rk-dan-lisa-mariana?

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/read/opini-publik-di-era-media-sosial-antara-fakta-dan-persepsi/23420/
Dicetak dari JurnalPost.com pada 08 November 2026 21:15.