
Sumber: shutterstock.com 2427091947
Oleh Vivi Kusumaningrum
JurnalPost.com – Di tengah masyarakat Indonesia yang multikultural, Nisfu Sya’ban dapat dipandang sebagai tradisi, kesempatan berdoa, sekaligus momen kesadaran diri untuk terus memperbaiki hubungan dengan Allah Swt. maupun sesama manusia. Keberagaman cara menyikapinya sudah seharusnya menjadikan hal tersebut sebagai kekayaan spiritual.
Persoalannya, mengapa perbedaan cara menyikapi Nisfu Sya’ban justru sering diperdebatkan?
Tradisi Sebagai Ekspresi, Bukan Tingkat Keimanan
Menjelang Nisfu Sya’ban, umat muslim sering menyambutnya dengan beragam cara. Sebagian memilih mengikuti tradisi membaca Yasin, tahlil, dan doa bersama di masjid. Sebagian lainnya menjalani malam tersebut dengan ibadah personal, misalnya membaca Al-Qur’an di rumah, bahkan ada yang melewatinya seperti malam-malam biasa. Ragam praktik ini umumnya diartikan sebagai ikhtiar spiritual dalam menyambut datangnya bulan Ramadhan.
Perbedaan cara beribadah tersebut menunjukkan satu hal penting: tradisi keagamaan lahir dari keinginan yang sama untuk mendekat diri kepada Allah, meskipun diekspresikan melalui cara yang berbeda. Keragaman ini mencerminkan dinamika keberagamaan masyarakat yang hidup dalam lingkup sosial.
Tradisi apa pun bentuknya, pada hakikatnya hanyalah sarana yang mengantarkan manusia pada tujuan yang sama: memohon ampun, memperbaiki diri dan membersihkan hati. Ketika tradisi dijadikan ukuran iman, esensi Nisfu Sya’ban justru berpotensi memudar, yang tersisa bukan lagi perenungan, melainkan perdebatan.
Praktik-praktik tradisi yang berkembang di Masyarakat, selama tetap berada dalam koridor ajaran Islam, dapat dipahami sebagai bentuk ‘urf atau kebiasaan baik yang tumbuh dari kesadaran kolektif umat. Pemaknaan ini menegaskan bahwa perbedaan praktik ibadah tidak serta-merta menjadi penanda tingkat keimanan di dalamnya.
Doa Menjadi Inti yang Sering Terlupa
Panjang bacaan dan megahnya sebuah acara tidak seharunya menjadi tolok ukur nilai doa itu sendiri. Yang terpenting justru kehadiran hati dan ketenangan batin saat seorang hamba berhadapan dengan Tuhannya.
Nisfu Sya’ban layak dimaknai sebagai salah satu momen terpenting untuk berdoa. Pada malam ini, umat Islam diajak untuk memohon ampun atas kesalahan, menyampaikan harapan akan masa depan yang lebih baik, serta mengungkapkan keluh kesah yang mungkin selama ini hanya tersimpan di dalam hati.
Kebiasaan lingkungan dapat mempengaruhi perbedaan cara berdoa umat Islam. Namun, kita menggeser dari “cara” menuju “apa” yang dihadirkan dalam doa. Pada akhirnya, doa adalah tentang keikhlasan dan kesadaran diri di hadapan Tuhan.
Kesadaran Diri sebagai Makna Nisfu Sya’ban
Hari-hari menuju bulan Ramadhan kian menghitung waktu, apa yang sebenarnya telah kita persiapkan? Lebih dari sekadar menambah kuantitas ritual, Nisfu Sya’ban mengajak umat Islam untuk bermuhasabah, menengok kembali sikap dan arah hidup yang sedang dijalani.
Kesadaran diri dalam momen ini tidak berhenti pada hubungan manusia dengan Allah Swt., juga merambah pada hubungan antarmanusia. Membersihkan hati dari iri, dendam, dan rasa tinggi hati menjadi bagian dari upaya memperbaiki diri. Sebab, dalam ajaran Islam, harapan akan ampunan Allah Swt. tidak terlepas dari cara manusia memperlakukan sesamanya. Dengan demikian, Nisfu Sya’ban menjadi pengingat bahwa perbaikan diri sejati selalu berjalan seiring dengan perbaikan sikap sosial.
Bijak Menyikapi Perbedaan di Tengah Umat
Bagaimana umat Islam dituntut untuk bersikap bijak dalam menyikapi ragam praktik ibadah yang berkembang di masyarakat?
Pertama, etika sosial beragama perlu kita tegakkan dengan saling menghormati perbedaan praktik ibadah. Sangat penting mengakui adanya hak setiap individu untuk menjalankan kehidupan spiritualnya sesuai dengan keyakinan dan pemahamannya. Sikap inilah yang menjadi fondasi esensial dalam kehidupan umat yang beragam.
Kedua, toleransi sejatinya dapat berjalan seiring dengan pendidikan agama yang baik. Pemahaman keagamaan yang matang justru mendorong umat untuk bersikap bijak dalam menyikapi perbedaan, bukan mudah terjebak dalam perdebatan.
Ketiga, kembali mempersiapkan diri dan bermuhasabah dibanding sibuk melihat cara orang lain beribadah. Pada dasarnya, yang paling penting bukanlah bagaimana ibadah dilakukan, melainkan sejauh mana ibadah tersebut mampu menghadirkan perubahan sikap dan kedekatan kepada Allah Swt.
Oleh karena itu, Nisfu Sya’ban dapat dijadikan sebagai waktu untuk memperbaiki diri, baik secara lahir maupun batin. Inti ibadah bukan terletak pada perbedaan tradisi, melainkan pada upaya mendekatkan diri kepada Allah Swt. dan berbuat baik kepada sesama.
REFERENSI
Tobroni. (2023). Pendidikan Agama Multikultural. Malang: UMM Press.
Normalita, A., Wahab, A., & Kafid, N. (2025). Praktik Toleransi Dan Harmonisasi Antar Pemeluk Agama (Studi Fenomenologi Desa Bondo, Jepara). Ri’ayah: Jurnal Sosial dan Keagamaan, 10(1), 104-114.
Hamid, A., Ritonga, S., & Nst, A. M. (2024). Kearifan lokal Dalihan Na Tolu sebagai pilar toleransi beragama pada masyarakat Tapanuli Selatan. Jurnal Ilmu Sosial Dan Humaniora, 13(1), 132-143.