Kembali
Mode hapus aktif. Klik paragraf, foto, judul, tabel, atau bagian lain yang tidak ingin masuk PDF.
JurnalPost.com

Mitos Gunung Lawu dan Cara Media Memperkuat Mitos Tersebut

Tim Editor: Redaksi · Tanggal: 10 Januari 2026

Oleh: Ferdian Putra Mabruri

JurnalPost.com – Dunia pendakian di Indonesia beberapa tahun terakhir mendapat banyak sekali sorotan dari berbagai kalangan, angka pendakian di seluruh Indonesia terus meningkat seiring dengan media digital yang terus mewartakan dunia pendakian, banyak orang yang mulai mendaki ke gunung gunung tinggi yang ada di Indonesia. Di antara sekian banyak gunung populer yang ada di Indonesia, khususnya di pulau Jawa, Gunung Lawu menjadi salah satu gunung yang paling sering di bicarakan, selain karena keindahan dan kesulitan pendakiannya, gunung Lawu menyimpan cerita mistis yang memang di yakini oleh warga sekitar dan semakin di perparah oleh media media digital yang terus mewartakannya.

Tidak bisa dipungkiri lagi bahwa cerita-cerita mistis masih sangat di minati oleh masyarakat Indonesia karena mengandung ketidaktahuan dan memancing rasa ingin tahu, maka tidak heran apabila banyak dari pendaki maupun masyarakat modern mengenal gunung Lawu bukan dari buku sejarah atau tentang keindahannya, melainkan dari cerita cerita mistis yang ada di dalamnya, mulai dari suara gamelan yang tak kasat mata, makhluk halus penunggu gunung Lawu, bau menyengat yang entah datang dari mana dan lain sebagainya, ini semua berasal dari video video yang di unggah oleh konten kreator di platform digital seperti Youtube, Tik Tok atau bahkan Twitter. Sering kali konten konten yang membahas tentang misteri bisa menggaet banyak penonton, lalu pertanyaan muncul, mengapa mitos yang beredar di gunung Lawu begitu kuat setelah adanya media digital dan bagaimana peran media kemudian membentuk persepsi dalam  informasi tersebut?

Cerita mistis tentang gunung Lawu bukanlah hal baru, warga sekitar sudah lama percaya bahwa Lawu adalah lokasi spiritual dalam artian tempat para leluhur “Bersemayam”, sekaligus menjadi situs penting dalam sejarah Jawa. Namun mitos mitos tersebut mendapat tempat baru di media digital, Konten kreator menyajikan konten horor gunung Lawu lengkap dengan cerita mistis, suasana malam hari gunung Lawu, hingga penampakan makhluk ghaib gunung Lawu. Apalagi jika berbicara di platform media digital Tik Tok, di sana saya melihat lebih ekstrem lagi dalam menampilkan konten horor gunung Lawu, bahkan potongan perjalanan ke Cemorosewu mendapatkan jutaan tayangan. Semua ini membuat citra gunung Lawu yang ada dalam benak masyarakat menjadi beragam, ada yang menganggapnya sebagai gunung yang indah, wisata alam, ruang budaya, panggung cerita mistik dan untuk warga sekitar menganggap gunung Lawu sebagai tempat yang sakral dan juga menjadi tempat peribadatan.

Jika kita perhatikan dengan lebih detail lagi, media melakukan framing terhadap gunung Lawu, dikatakan bahwa gunung Lawu adalah gunung mistis, mayoritas pemberitaan mengenai dan konten mengenai gunung tersebut sering menggunakan pendekatan dramatik, judul clickbait, musik mencekam, narasi hiperbolis dan sudut pandang yang menekankan ketakutan. Hal ini adalah bagian dari framing media, media ingin menonjolkan aspek tertentu untuk membentuk persepsi publik. Disinilah literasi media menjadi sangat penting, kita perlu sadar bahwa media memiliki kecenderungan untuk memilih sudut pandang yang “laku”, dan memang konten mistis masih menjadi konten yang mudah sekali mendapatkan views, Akibatnya masyarakat Lebih berfokus pada cerita mistis yang ada di bandingkan dengan sejarah dan kekayaan gunung Lawu, ini juga menjadi penyebab tingkat kecelakaan pendakian gunung Lawu meningkat, karena alih alih pendaki fokus pada apa yang seharusnya mereka lakukan, mereka malah sibuk dengan cerita cerita mistis yang beredar, akhirnya jadi tidak fokus dengan apa saja peralatan yang harus di bawa, dan pengetahuan apa yang seharusnya di miliki untuk mendaki gunung Lawu, inilah yang menyebabkan tingkat orang hilang dan kecelakaan di gunung naik.

Mengapa masyarakat mudah terpengaruh oleh framing yang di lakukan media mengenai cerita mistis?, saya akan memberikan beberapa alasan yang mendukung hal tersebut.

  1. Efek Viral dan Algoritma.

Platform seperti Youtube dan Tik Tok cenderung mendorong konten yang memancing emosi, dan cerita horor menjadi salah satu pemicu emosi, rasa takut dan penasaran yang di hadirkan dalam konten horor cepat membuat seseorang menekan tombol share.

  1. Kurangnya kebiasaan verifikasi.

Banyak penonton menerima cerita mistis sebagai kebenaran yang berdiri sendiri, sebagai penonton yang bijak, sudah seharusnya kita mencari tahu terlebih dahulu kebenaran yang disajikan, kita coba mencari informasi lain dan membandingkannya, padahal faktanya sebagian besar konten di buat hanya untuk hiburan.

Lalu bagaimana kira menyikapi cerita mistik yang terus menerus di framing oleh media? Literasi media tidak memaksa kita untuk menolak budaya atau mitos, seorang sahabat pernah bilang pada saya, “bahwa mitos tidak perlu kita yakini tapi perlu kita hormati”, Justru literasi media dalam hal ini mengajak kita masuk lebih dalam untuk memahami konteks, mana yang memang betul betul tradisi dan mana yang hanya sekedar hiburan dan mana yang membutuhkan verifikasi. Ada beberapa langkah yang bisa kita lakukan untuk lebih berpikir kritis dalam membaca konten mistis.

  1. Periksa sumber dari informasi tersebut, apakah pembuat konten memberikan data atau hanya sekedar asumsi pribadi tanpa bukti?
  2. Analisis tujuan konten, apakah konten yang di buat untuk edukasi budaya atau hanya sekedar untuk hiburan.
  3. Bandingkan konten yang akan kita konsumsi dengan konten yang lain, agar kita memiliki beberapa sudut pandang.
Sumber artikel: https://jurnalpost.com/read/mitos-gunung-lawu-dan-cara-media-memperkuat-mitos-tersebut/22763/
Dicetak dari JurnalPost.com pada 08 November 2026 08:44.