Kembali
Mode hapus aktif. Klik paragraf, foto, judul, tabel, atau bagian lain yang tidak ingin masuk PDF.
JurnalPost.com

MEWUJUDKAN MERDEKA BELAJAR ALA KI HAJAR DEWANTARA: TELAAH KONSEP IMPLEMENTASI AJARAN TAMANSISWA DALAM KURIKULUM MODERN

Tim Editor: Redaksi · Tanggal: 14 Juli 2025

Konsep Implementasi Ajaran Tamansiswa

Disusun oleh :
Viona Fransisca (2022015128)
Zainnur Wijayanto
Email: [email protected]
Afiliasi: Pendidikan Matematika, Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa

ROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SARJANAWIYATA TAMANSISWA
2025

PENDAHULUAN
Mewujudkan Merdeka Belajar ala Ki Hajar Dewantara: Telaah Konsep Implementasi Ajaran Tamansiswa dalam Kurikulum Modern” berakar pada pemikiran Ki Hajar Dewantara sebagai Bapak Pendidikan Nasional Indonesia yang menekankan pendidikan sebagai proses memanusiakan manusia secara menyeluruh. Konsep pendidikan menurutnya didasarkan pada asas kemerdekaan, di mana peserta didik diberi kebebasan secara lahir dan batin untuk mengatur kehidupannya sesuai dengan aturan masyarakat, tanpa adanya paksaan atau hukuman yang dapat mematikan jiwa merdeka dan kreativitasnya. Sistem among yang diperkenalkan Ki Hajar Dewantara menegaskan pentingnya kebebasan dan kemandirian dalam pembelajaran, yang berorientasi pada kemerdekaan batin, pikiran, dan tenaga peserta didik.

Pendidikan merupakan hal yang penting bagi setiap manusia, negara maupun pemerintah, maka pendidikan selalu di tumbuh kembangkan secara sistematis sesuai dengan kebutuhan manusia. Di Indonesia sebenarnya telah banyak dilakukan pembaharuan dalam pendidikan.

Pendidikan di Indonesia menghadapi tantangan untuk mengembangkan sistem yang tidak hanya berorientasi pada kepentingan kolonial, tetapi juga berbasis identitas nasional. Konsep Merdeka Belajar yang diperkenalkan oleh Nadiem Makarim bertujuan untuk memberikan kebebasan kepada siswa dalam proses belajar, sejalan dengan filosofi Ki Hajar Dewantara yang menekankan pentingnya kemandirian dan pengembangan karakter. Dengan mengadopsi sistem Among, diharapkan anak-anak dapat tumbuh dengan bebas, mengeksplorasi potensi mereka, dan menjadi individu yang berdaya saing di masa depan.

Ajaran-ajaran Ki Hajar Dewantara, seperti Tri Pusat Pendidikan, Tri Kon, dan prinsip Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani, mengandung nilai-nilai yang sangat relevan dengan semangat kurikulum modern, termasuk Kurikulum Merdeka yang kini sedang diimplementasikan. Dalam ajaran Tamansiswa, siswa dipandang sebagai subjek pendidikan yang memiliki potensi, kehendak, dan kebebasan berpikir. Pendidikan diarahkan untuk membentuk manusia merdeka secara lahir dan batin, yakni manusia yang mampu berpikir kritis, kreatif, serta bertanggung jawab terhadap dirinya dan lingkungan sosialnya.

Oleh karena itu, telaah terhadap implementasi ajaran Tamansiswa dalam konteks kurikulum modern menjadi penting untuk dilakukan. Penelitian ini berupaya menggali bagaimana prinsip-prinsip pendidikan ala Ki Hajar Dewantara dapat dihidupkan kembali dalam pelaksanaan Kurikulum Merdeka saat ini, baik secara konseptual maupun praktik di lapangan. Dengan demikian, diharapkan pendidikan Indonesia tidak hanya maju secara teknis, tetapi juga kokoh secara filosofis, menuju terciptanya manusia Indonesia seutuhnya yang merdeka dalam belajar dan bertindak.

Tujuan utama artikel ini adalah Untuk menelaah relevansi dan implementasi ajaran Ki Hajar Dewantara, khususnya nilai-nilai Tamansiswa seperti Trilogi Kepemimpinan dan pendidikan budi pekerti, dalam konteks Kurikulum Merdeka dan pendidikan abad ke-21, serta mengidentifikasi strategi dan tantangan dalam mewujudkan konsep Merdeka Belajar yang sejati berdasarkan filosofi pendidikan nasional.

Pertayaan Penelitian :
1. Bagaimana penerapan Trilogi kepemimpinan dalam pembelajaran?
2. Bagaimana model internalisasi nilai Budi Pekerti?
3. Apa relevansi Ki Hajar Dewantara dalam Pendidikan Moderen?

Metode
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan desain deskriptif ekploratif. Penelitian dilakukan dengan studi Pustaka terhadap karya-karya Ki Hajar Dewantara, dokumen-dokumen tamansiswa dan literatur akademik terkini tentang Pendidikan karakter dan kurikulum Merdeka. analisis dilakukan dengan menggunakan model Miles dan Humberman yang meliputi reduksi data, penyajian, dan penarikan simpulan. Keabsaan data dijaga triangulasi sumber dan metode.

Hasil Dan Pembahasan
1. Penerapan Trilogi kepemimpinan dalam pembelajaran
Penerapan trilogi kememimpinan dalam pembelajaran Sistem pendidikan di Indonesia memiliki semboyan yang diprakasai oleh Bapak Pendidikan Nasional Ki Hajar Dewantara. Semboyan itu dikenal sebagai Trilogi Pendidikan Ki Hajar Dewantara “ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani” (Sugihartono,dkk. 2007). Semboyan “ing ngarsa sung tulada” memiliki arti di depan seseorang harus dapat memberi contoh (Siswoyo,2007). Dalam perannya sebagai pemimpin dan pendidik, kepala sekolah dan guru menjadi tokoh, panutan, dan identifikasi bagi para peserta didik, dan lingkungannya. Perilaku kepala sekolah guru menjadi sorotan dan sangat mempengaruhi perilaku para peserta didik, sehingga guru harus memiliki kualitas pribadi tertentu. Berkaitan dengan tanggung jawab, kepala sekolah memiliki tanggung jawab yaitu terlaksananaya kurikulummerdeka dengan baik dan tepat sesuai dengan yang diharapkan. Dalam hal ini guru harus bertanggungawab terhadap segala tindakannya dalam pembelajaran di sekolah, dan dalam bermasyarakat. Dalam menanamkan disiplin, Kepala sekolah dan guru harus mematuhi berbagai peraturan dan tata tertib secara konsisten. Semboyan “ing madya mangun karsa” memiliki arti ditengah membangkitkan kehendak, memberikan motivasi. Guru sebagai orang tua kedua bagi peserta didik harus dapat memberi motivasi dan kesempatan kepada peserta didik, sehingga peserta didik dapat mengembangkan ide-ide dan mengembangkan potensi yang dimilikinya. Guru dapat memberi siswa anak tangga ke pemahaman yang lebih tinggi, dengan catatan siswa sendiri yang memanjat anak tangga tersebut. Semboyan “tut wuri handayani”, tidak lain berarti pengakuan terhadap otonomi individu untuk berkembang, namun tidak terlepas dari dialog atau interaksi dari manusia lain termasuk pendidik (Siswoyo, 2007). Sebagai seorang pendidik, dari belakang seorang guru harus bisa memberikan dorongan dan arahan. Berdasarkan hal tersebut, peserta didik diberi kebebasan untuk mengembangkan segala potensi yang dimilikinya. Apabila dalam prosesnya peserta didik melakukan tindakan yang menyimpang, guru memilikikewajiban untuk mengarahkan dan menasehati peserta didik tersebut agar tidak menyimpang dari norma-norma yang berlaku.

Implementasi Trilogi Pendidikan Ki Hajar Dewantara pada sekolah dasar akan lebih efektif bila diterapkan menggunakan media pembelajaran yang sesuai dan akan menjadi bermakna apabila dilakukan dalam kondisi yang nyaman, memberikan rasa aman bagi peserta didik, serta dilakukan secara menarik dan interaktif. Oleh karenanya, media pembelajaran yang berupa hiburan menjadi salah satu alternatif yang tepat bagi upaya implementasi Trilogi Pendidikan Ki Hajar Dewantara dengan memasukkan tiga unsur yaitu seni, edukasi, dan entertainment yaitu dengan menggunakan media pembelajaran dan lingkungan belajar yang didesain sedemikian rupa sesuai mata pelajaran yang diajarkan.

Ing ngarso sung tulodo; Ing madyo mangun karsa; Tut wuri handayani. Itulah yang seharusnya dilakukan oleh seorang kepala sekolah menurut Ki Hajar Dewantara. Dalam dunia pendidikan maka semboyan itu menggambarkan peran seorang kepala sekolah, guru atau pendidik. Kumpulan peran yang cukup lengkap, yaitu: menjadi teladan, memberikan semangat/motivasi, dan memberikan kekuatan. Apabila semboyan itu dilaksanakan maka akan memberikan pengaruh positif terhadap anak didiknya. Ing ngarsa sung tuladha, berarti seorangguru harus mampu menjadi contoh bagi siswanya,baik sikap maupun pola pikirnya. Anak akan melakukan apa yang dicontohkan oleh gurunya, bila guru memberikan teladan yang baik maka anak akan baik pula perilakunya.Dalam hal ini, guru harus selalu memberikan pengarahan dan mau menjelaskan supaya siswa menjadi paham dengan apa yang dimaksudkan oleh guru. Ing madya mangun karsa, berarti bila guru berada di antara siswanya maka guru tersebut harus mampu memberikan inspirasi dan motivasi bagi siswanya, sehinggga siswa diharapkan bisa lebih maju dalam belajar. Jika guru selalu memberikan semangat kepada siswanya, maka siswa akan lebih giat karena merasa diperhatikan dan selalu mendapat pikiran -pikiran positif dari gurunya sehingga anak selalu memandang ke depan dantidak terpaku pada kondisinya saat ini.

2. Model Internalisasi Budi Pekerti
Internalisasi nilai budi pekerti merupakan proses menanamkan nilai-nilai moral, etika, dan kebajikan dalam diri peserta didik secara menyeluruh dan berkesinambungan. Dalam perspektif ajaran Tamansiswa, nilai-nilai ini tidak sekadar diajarkan secara kognitif, tetapi dihidupi melalui keteladanan, pembiasaan, dan pembudayaan dalam kehidupan sekolah.

Penanaman nilai budi pekerti harus menyesuaikan dengan tingkat perkembangan kejiwaan anak, baik perkembangan kognitif, moral, intelektual, maupun emosional. Semakin tinggi tingkat kematangan anak maka semakin besar porsinya. Pada taraf pendidikan rendah, nilai-nilai dasar dikenalkan dan proses penanamannya dilakukan secara kontinu sampai jenjang sekolah menengah tahap demi tahap ditingkatkan dan harus mampu mengantarkan anak kepada proses kesadaran dan penghayatan serta pembentukan nilai hidup. Semakin banyak guru memperkenalkan nilai-nilai dan kesadaran ilmiahnya tinggi, anak akan semakin yakin bahwa apa yang dianut dan diyakini guru adalah sesuatu yang baik, berharga, dan pantas selalu diperjuangkan.

Penanaman budi pekerti dalam ajaran Tamansiswa dilakukan melalui pendidikan yang holistik dan kontekstual, dengan menekankan keteladanan guru (Ing ngarsa sung tuladha), pembiasaan nilai-nilai luhur dalam keseharian, serta penciptaan lingkungan belajar yang mendukung perkembangan akal, rasa, dan karsa siswa. Menurut Dewantara (n.d.), tujuan pendidikan adalah membentuk manusia merdeka yang berbudi pekerti, bukan sekadar cerdas secara intelektual. Hal ini ditegaskan Soebadio (2000) dan Tilaar (2002), bahwa pendidikan karakter harus berlangsung melalui contoh nyata dan praktik hidup, bukan sekadar pengajaran verbal. Nilai-nilai seperti jujur, disiplin, gotong royong, dan tanggung jawab ditanamkan melalui proses alami dalam komunitas belajar yang manusiawi dan membebaskan (Zubaedi, 2021).

Dalam ajaran Ki Hajar Dewantara dan Tamansiswa, budi pekerti bukan sekadar pelajaran moral atau etika yang diajarkan secara teoritis, melainkan inti dari seluruh proses pendidikan. Pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara bertujuan untuk menuntun segala kekuatan kodrat anak agar mereka menjadi manusia yang berbudi pekerti luhur, merdeka lahir dan batin, serta berguna bagi masyarakat dan bangsanya.

3. Relevansi Ajaran Ki Hajar Dewantara dalam Pendidikan Modern
Ajaran Ki Hajar Dewantara tetap relevan dalam pendidikan modern karena menekankan pembelajaran yang berpusat pada peserta didik, pembentukan karakter, serta nilai-nilai lokal yang kuat. Prinsip Tut Wuri Handayani sejalan dengan konsep student-centered learning (Soebadio, 2000), pendidikan yang kontekstual dan holistik (Tilaar, 2002), serta pentingnya penanaman nilai moral di tengah kemajuan teknologi (Zubaedi, 2021). Di era globalisasi, ajaran Tamansiswa juga dianggap mampu memperkuat identitas budaya bangsa dalam pendidikan multikultural (Suryasa et al., 2022).

Ajaran-ajaran pendidikan Ki Hajar Dewantara kian relevan dan masih aktual karena mengajarkan nilai-nilai pendidikan deliberatif yang membuka jalan bagi pengembangan potensi unik manusia sebagai insan yang merdeka.

Maka perlu kiranya mengingat kembali ajaran pendidikan Ki Hajar Dewantara dan mempertimbangkannya sebagai role model dan inspirasi bagi sistem pendidikan nasional hari ini. Ajaran pendidikan Ki Hajar Dewantara mengacu pada nilai-nilai pendidikan yang memandang tinggi martabat guru dan siswa. Masing-masing mempunyai peran dan kedudukan yang sudah digariskan sesuai dengan nilai-nilai kebaikan mengacu pada keadaban. Sehingga tidak ada celah bagi siswa maupun guru dalam tindakan bullying, merendahkan martabat satu sama lain karena semua bersepakat pada nilai-nilai keadaban dalam suatu kesadaran yang dijunjung bersama.

Berikut adalah 3 aspek pokok dan beberapa istilah penting dari ajaran pendidikan Ki Hajar Dewantara yang dirangkum dari buku Ki Hajar Dewantara, Taman Indrya, Karja Ki Hadjar Dewantara, 1962, maupun buku Mengenal Tamansiswa Seri 1, Majelis Luhur Taman Siswa, 1997.

a. Sistem Among
Sistem Among berasal dari bahasa Jawa yaitu mong atau momong, yang artinya mengasuh anak. Para guru atau dosen disebut pamong yang bertugas untuk mendidik dan mengajar anak sepanjang waktu dengan kasih sayang. Tujuan dari Sistem Among adalah membangun anak didik untuk menjadi manusia beriman dan bertaqwa, merdeka lahir dan batin, budi pekerti luhur, cerdas dan berketrampilan, serta sehat jasmani dan rokhani agar menjadi anggota masyarakat yang mandiri dan bertanggung jawab atas kesejahteraan tanah air serta manusia pada umumnya. Dalam pelaksanaan Sistem Among, setelah anak didik menguasai ilmu, mereka didorong untuk mampu memanfaatkannya dalam masyarakat, didorong oleh cipta, rasa, dan karsa.
Sistem Among adalah cara pendidikan yang dipakai dalam sistem pendidikan Taman Siswa, dengan maksud mewajibkan pada guru supaya mengingati dan mementingkan kodrat-iradatnya anak-anak, dengan tidak melupakan segala keadaan yang mengelilinginya. Oleh karena itu alat ”perintah, paksaan dengan hukuman” yang biasa dipakai dalam pendidikan zaman dahulu, harus diganti dengan aturan: memberi tuntunan dan menyokong pada anak-anak di dalam mereka bertumbuh dan berkembang karena kodrat-iradatnya sendiri, melenyapkan segala yang merintangi pertumbuhan dan perkembangan sendiri itu serta mendekatkan anak-anak kepada alam dan masyarakatnya. Perintah dan paksaan hanya boleh dilakukan jika anak-anak tidak dapat dengan kekuatannya sendiri menghindarkan mara-bahaya yang akan menimpanya, sedangkan hukuman tak boleh lain dari pada sifatnya kejadian yang sebetulnya harus dialami, sebagai buah atau akibat kesalahannya; hukuman yang demikian itu lalu semata-mata menjadi penebus kesalahan, bukan siksa dari orang lain (Tauchid, 1972:99-101 dalam 50 Tahun Taman siswa).

b. Guru Ibarat Juru Tani
“… haruslah kita ingat, bahwa pendidikan itu hanyalah suatu “tuntunan” di dalam hidup tumbuhnya anak-anak kita. Ini berarti, bahwa hidup tumbuhnya anak-anak itu terletak di luar kecakapan atau kehendak kaum pendidik.” Kita kaum pendidik hanya dapat menuntun tumbuhnya atau hidupnya kekuatan-kekuatan itu, agar dapat memperbaiki lakunya (bukan dasarnya) hidup dan tumbuhnya itu.” (Taman Indrya, Karja Ki Hadjar Dewantara, Bagian Pertama Pendidikan, 1962:21).
Guru sebagaimana juru tani juga tidak bisa memaksa tanaman padi mempercepat buahnya agar segera bisa dipanen demi kepentingan mendesak, tapi semua itu harus diikuti dengan kesabaran, ketelatenan, dan keuletan.

c. Pendidikan yang Memerdekakan
Pendidikan memegang peranan penting dalam menentukan kemajuan suatu bangsa, karena melalui pendidikan yang berkualitas, masyarakat dapat dibekali dengan keterampilan, pengetahuan, dan sikap yang diperlukan untuk menghadapi tantangan global. Tulisan ini mengeksplorasi hubungan antara kualitas pendidikan dengan perkembangan suatu bangsa, serta dampak negatif yang timbul akibat rendahnya kualitas pendidikan. Selain itu, tulisan ini juga membahas pemikiran Paulo Freire tentang pendidikan sebagai alat pembebasan, yang menekankan pentingnya pendekatan dialogis, penyadaran kritis, dan relevansi kontekstual dalam proses pendidikan. Pendekatan Freire ini diusulkan sebagai solusi untuk mengatasi berbagai tantangan dalam sistem pendidikan Indonesia, terutama terkait kesenjangan akses dan kualitas pendidikan di daerah terpencil dan terpinggirkan. Selanjutnya, tulisan ini juga mengevaluasi pentingnya revitalisasi prinsip pendidikan yang dikemukakan oleh Ki Hajar Dewantara dalam upaya menciptakan sistem pendidikan yang lebih inklusif, relevan, dan memberdayakan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa penerapan konsep pendidikan yang lebih demokratis dan inklusif dapat berkontribusi secara signifikan dalam mendorong transformasi sosial yang positif di Indonesia.

Kurniawati, (2022) menyatakan bahwa pendidikan di Indonesia saat ini menghadapi situasi yang kompleks, di mana peningkatan akses pendidikan belum sepenuhnya diiringi dengan peningkatan kualitas yang memadai. Meskipun berbagai upaya telah dilakukan oleh pemerintah untuk memperluas akses pendidikan, seperti program wajib belajar 12 tahun dan pemberian bantuan pendidikan melalui Kartu Indonesia Pintar (KIP), tantangan terkait kualitas pendidikan tetap menjadi masalah yang mendesak untuk diatasi.

Salah satu tantangan terbesar dalam pendidikan di Indonesia adalah ketimpangan akses antara wilayah perkotaan dan pedesaan. Di daerah perkotaan, siswa umumnya memiliki akses yang lebih baik terhadap fasilitas pendidikan, seperti sekolah dengan infrastruktur yang memadai, tenaga pengajar yang berkualitas, dan akses ke teknologi informasi. Sebaliknya, di daerah pedesaan, terutama di wilayah terpencil, akses terhadap pendidikan sering kali terbatas. Sekolah-sekolah di pedesaan mungkin kekurangan guru, fasilitas yang minim, dan jarak yang jauh antara tempat tinggal siswa dengan sekolah, yang semuanya berkontribusi pada rendahnya kualitas pendidikan di daerah tersebut (Ayuningtyas, 2021).

Pemikiran Paulo Freire tentang pendidikan pembebasan menawarkan pendekatan alternatif yang dapat memperkuat sistem pendidikan di Indonesia. Dengan mengadopsi konsep-konsep seperti pendidikan dialogis, kesadaran kritis, dan pendidikan kontekstual, pendidikan dapat menjadi alat untuk memberdayakan siswa agar lebih sadar akan ketidakadilan sosial dan siap menjadi agen perubahan dalam masyarakat. Ini menekankan perlunya pendidikan yang lebih dialogis, inklusif, dan relevan dengan konteks sosial siswa.
Filosofi pendidikan Ki Hajar Dewantara, dengan prinsip-prinsipnya Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, dan Tut Wuri Handayani, tetap relevan dalam konteks pendidikan modern di Indonesia. Prinsip-prinsip ini menekankan pentingnya guru sebagai teladan, motivator, dan pendukung dalam proses pembelajaran. Meskipun ada banyak tantangan dalam menerapkan prinsip-prinsip ini, seperti kurangnya pelatihan guru yang memadai dan dominasi metode pengajaran satu arah, revitalisasi prinsip-prinsip ini sangat penting untuk menciptakan lingkungan belajar yang lebih inklusif dan partisipatif.

Untuk meningkatkan kualitas pendidikan, pemerintah dan pemangku kepentingan perlu berinvestasi dalam pelatihan berkelanjutan bagi guru, penyediaan fasilitas pendidikan yang memadai, dan pengembangan kurikulum yang relevan dengan kebutuhan lokal dan global. Dengan demikian, pendidikan di Indonesia dapat menjadi lebih inklusif dan memberdayakan, mencetak individu yang kompeten, inovatif, dan adaptif dalam menghadapi tantangan zaman.

Simpulan dan Implementasi
Simpulan : Ajaran Ki Hajar Dewantara, khususnya nilai-nilai dalam sistem Tamansiswa, memiliki relevansi yang kuat dengan pendidikan modern dan Kurikulum Merdeka. Prinsip pendidikan yang membebaskan, pembelajaran yang berpusat pada peserta didik, serta penekanan pada budi pekerti dan kebudayaan lokal menjadikan ajaran ini sebagai fondasi filosofis pendidikan nasional. Konsep Tut Wuri Handayani dan Trilogi Kepemimpinan sangat sejalan dengan pendekatan pembelajaran abad ke-21 yang menuntut guru menjadi fasilitator dan siswa menjadi subjek aktif. Pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara bukan sekadar mentransfer ilmu, tetapi menuntun anak menjadi manusia yang merdeka lahir dan batin.

Implementasi : Implementasi ajaran Ki Hajar Dewantara dalam pendidikan kontemporer dapat dilaksanakan melalui penintegrastian nilai-nilai Tamansiswa ke kurikulum, belajar kontekstual dan berdiferensiasi, keteladanan kepribadian guru, pembiasaan nilai-nilai karakter di kehidupan sekolah, serta keterlibatan aktif keluarga dan masyarakat sebagai salah satu tri pusat pendidikan (keluarga, sekolah, dan lingkungan). Arah pendekatan ini akan mengembangkan sistem pendidikan yang tidak hanya melaksanakan orientasi pada prestasi akademik, namun juga untuk pendewasaan karakter dan kebebasan berpikir siswa.

Daftar Pustaka
Hamzah, M. R., Mujiwati, Y., Zuhriyah, F. A., & Suryanda, D. (2022). Kurikulum Merdeka Belajar sebagai Wujud Pendidikan yang Memerdekakan Peserta Didik. Arus Jurnal Pendidikan, 2(3), 221-226.
Indayanti, I., & Mutia, M. (2018). Konsep Pembelajaran Berbasis Sistem Among Dalam Penanaman Pendidikan Karakter Siswa (Telaah Pemikiran Ki Hajar Dewantara) (Doctoral dissertation, IAIN CURUP).
Insani, S. N., Haryono, A., & Fahrudin, R. N. (2024). Peran filosofi pendidikan Ki Hadjar Dewantara dalam membangun pendidikan karakter siswa. Jurnal Integrasi dan Harmoni Inovatif Ilmu-Ilmu Sosial, 4(7), 2-2.
Masitoh, S., & Cahyani, F. (2020). Penerapan sistem among dalam proses pendidikan suatu upaya mengembangkan kompetensi guru. Kwangsan: Jurnal Teknologi Pendidikan, 8(1), 122-141.
Munjin, M. (2008). Internalisasi Nilai-nilai Budi Pekerti Pada Anak. KOMUNIKA: Jurnal Dakwah Dan Komunikasi, 2(2), 219-232.
Wangid, M. N. (2009). Sistem among pada masa kini: Kajian konsep dan praktik pendidikan. Jurnal Kependidikan Penelitian Inovasi Pembelajaran, 39(2).
Wardani, I. K., Nugroho, A. C., Sabekti, M., Sutopo, A., & Anif, S. (2024). Kepemimpinan Berbasis Trilogi Pendidikan Ki Hajar Dewantara “Ing Ngarso Sun Tuladha Ing Madya Mangun Karsa Tut Wuri Handayani” Untuk Menunjang Pelaksanaan Kurikulum Merdeka Belajar di Sekolah Dasar. Didaktika: Jurnal Kependidikan, 13(2), 2491-2502.
Wardani, S., Asbari, M., & Misri, K. I. (2023). Pendidikan yang Memerdekakan, Memanusiakan dan Berpihak pada Murid. Journal of Information Systems and Management (JISMA), 2(5), 35-43.

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/read/mewujudkan-merdeka-belajar-ala-ki-hajar-dewantara-telaah-konsep-implementasi-ajaran-tamansiswa-dalam-kurikulum-modern/19803/
Dicetak dari JurnalPost.com pada 08 November 2026 09:40.