JurnalPost.com – Penemuan jasad ibu dan anak yang sudah mengering beberapa hari yang lalu tepatnya tanggal 7 September 2023 yang merupakan warga perumahan umum Bukit Cinere Indah, Depok, Jawa Barat. Kejadian ini merupakan bukti nyata bahwa tingkat keperdulian masyarakat dengan tetangga semakin berkurang. Menurut penjelasan warga sekitar, mereka hanya tinggal berdua (ibu dan anak), tidak pernah bersosialisasi, dan rumahnya pun sudah tidak terawat lagi (detik.com, 7/9/2023).
Kasus kematian ibu dan anak ini mengingatkan kita pada kasus kematian satu keluarga di Kalideres bulan November 2022 yang lalu. Dari kedua kasus ini ada kemiripan yang sama yaitu jasad yang ditemukan dalam keadaan sudah rusak/membusuk. Ini menunjukkan bahwa kematian mereka tidak segera diketahui oleh orang terdekat, termasuklah para tetangga yang tinggal di sekitar rumah korban.
Peradaban kapitalistik saat ini membuat sikap individualisme menjadi karateristik masyarakatnya. Masyarakat kapitalistik yang hanya mementingkan asas manfaat dalam berperilaku, menciptakan manusia-manusia yang hanya mementingkan keuntungan. Banyak masyarakat yang bergaul sesama circlenya dalam status sosial. Bahkan, kebanyakan cenderung abai, tertutup, egosentrik yang hanya peduli terhadap dirinya dan keluarganya masing-masing.
Sikap inilah yang semakin menggerus rasa kepedulian terhadap lingkungan terdekat. Sikap peduli kepada tetangga dianggap campur tangan terhadap urusan orang lain. Individualisme bertentangan dengan fitrah manusia sebagai mahluk sosial yang membutuhkan orang lain ketika menjalankan aktivitas dalam kehidupan sehari-hari.
Sistem kapitalis sekuler menjadikan hubungan antar individu adalah hubungan yang menghasilkan manfaat. Standar kebahagiaan masyarakatnya adalah materi, baik berupa harta kekayaan, jabatan atau ketenaran. Apabila mereka telah mendapatkan semua itu maka mereka menganggap tidak membutuhkan orang lain. Padahal pada hakekatnya manusia tidak bisa hidup tanpa bantuan orang lain. Dalam hal ini negara gagal membentuk masyarakat ideal, yaitu masyarakat yang menghasilkan interaksi produktif dan saling tolong menolong.
Selama negeri ini masih menggunakan sistem kapitalisme sekuler maka masyarakat yang tidak saling perduli akan semakin banyak dan kasus-kasus seperti ini akan terus berulang. Berbeda dengan ajaran Islam yang menjadikan sikap perduli dengan tetangga adalah sikap yang mulia, bahkan merupakan suatu kewajiban. Rasullulah saw. bersabda: “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, maka hendaklah memuliakan tetangganya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Islam yang memiliki mekanisme terwujudnya kepedulian dalam kehidupan bermasyarakat. Berbuat baik kepada tetangga sesuai dengan kemampuan, misalnya memberi salam, bertemu dengan wajah berseri, tersenyum, dan saling memberi hadiah. Serta memperhatikan keadaannya sehingga dapat membantunya, dan saling menjaga dari hal-hal yang tidak diinginkan. Dengan pedoman ajaran Islam, maka manusia akan dapat dikembalikan kepada fitrahnya sebagai mahluk sosial sebagaimana telah ditetapkan oleh Dzat yang menciptakannya, yaitu Allah swt.
Hal tersebut akan terwujud jika masyarakat mau mengadopsi ajaran Islam sebagai pandangan hidupnya. Sehingga masyarakat bukan hanya sekumpulan orang saja, namun juga yang memiliki perasaan, pemikiran, dan peraturan yang sama dalam interaksi sosial. Dalam Islam interaksi ini tidak hanya kepada sesama muslim saja tetapi kepada non muslim juga kita dituntut untuk berakhlak mulia.
Ketika standar kebahagiaan hidup disandarkan pada aturan Islam secara kaffah maka kebahagiaan dalam kehidupan bermasyarakat akan terwujud dengan sendirinya. Masyarakat akan saling peduli dan berlomba-lomba dalam kebaikan dan membangun kemaslahatan di tengah kehidupan bermasyarakat. Apabila hal ini terjadi secara global maka akan terwujudlah rahmatan lil ‘alamin.
Wallahua’lambishowab.

Oleh: Neliana, S.E. (Mubalighoh)