Kembali
Mode hapus aktif. Klik paragraf, foto, judul, tabel, atau bagian lain yang tidak ingin masuk PDF.
JurnalPost.com

Metode Casework : Meningkatkan Kepercayaan Diri Anak Jalanan Putus Sekolah

Tim Editor: Redaksi · Tanggal: 13 Juni 2024
Dokumentasi selama kegiatan

JurnalPost.com – Dalam buku Pendidikan untuk Pembangunan Nasional yang ditulis oleh (Muhammad Ali, 2009:33) disebutkan bahwa keunggulan pendidikan dasar ada 2, yaitu: 1) Pihak-pihak yang terlibat yaitu peserta didik akan dibekali dengan kemampuan dasar seperti membaca, menulis, berhitung dan berpikir kritis, kemampuan memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi, kemampuan berkomunikasi dengan orang lain melalui pendidikan dasar ini. dan 2). Pendidikan tingkat dasar akan memberikan landasan dalam persiapan memasuki pendidikan tinggi dimasa yang akan datang, pendidikan tingkat dasar akan memberikan pengaruh terhadap studi pada jenjang yang lebih tinggi dimasa yang akan datang.

Anak jalanan merupakan salah satu jenis PPKS yang rentan mengalami putus sekolah. Permasalahan putus sekolah yang mereka alami dapat menyebabkan anak jalanan kehilangan kesempatan mendapatkan hak pendidikan yang akan mempengaruhi cara mereka berinteraksi secara sosial, sehingga berdampak pada terbatasnya kesempatan kerja dan kesejahteraan hidup yang lebih baik di masa depan. Oleh karena itu, diperlukan upaya pemberian layanan sosial kepada anak jalanan yang putus sekolah agar dapat kembali bersekolah.

Atas dasar itulah, saya Saffanah Qanitah HS dengan NIM 210902049, mahasiswi Ilmu Kesejahteraan Sosial, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Sumatera Utara melakukan Praktik Kerja Lapangan (PKL) yang berfokus meningkatkan kepercayaan diri anak jalanan yang putus sekolah ini dengan cara menerapkan metode pelayanan sosial kepada salah satu anak jalanan berinisial Z di Komunitas Peduli Anak (KOPA) yang terletak di Jl. Syah Bandar No.23, AUR, Kec. Medan Maimun, Kota Medan, Sumatera Utara, dengan bimbingan dari Dosen pengampu mata kuliah Praktikum I sekaligus merupakan Supervisor Sekolah saya yaitu Bapak Fajar Utama Ritonga S.Sos., M.Kesos.

Sedikit berkenalan dengan KOPA, Komunitas peduli anak (KOPA) merupakan organisasi berbentuk Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang bergerak di bidang Sosial, Pendidikan, Keagamaan dan Kesejahteraan Sosial Keluarga dan Anak. Dari pengalaman penanganan anak jalanan dan anak bermasalah pada saat berdirinya yayasan sosial di bidang anak, Syafri Tanjung dan kawan-kawan membentuk Lembaga ini. KOPA didirikan pada tahun 2005 dan lahir atas dasar kesejahteraan dan kemandirian anak jalanan dan anak bermasalah (anak yatim piatu, anak autis, serta anak yang orang tuanya berprofesi sebagai pedagang kaki lima (pedagang kecil) dan orang tuanya bercerai/broken home).

Pendiri KOPA yaitu bapak Syafri Tanjung memperkenalkan saya pada salah satu anak naungan KOPA, yaitu anak perempuan yang berinisial Z. Ia merupakan anak jalanan yang kesehariannya berjualan koran dan tisu di jalanan, serta telah putus sekolah saat ia menduduki kelas 1 SMP tak lama ini. Saya yang merupakan praktikan, dalam hal ini melakukan model Pelayanan Sosial dengan menggunakan Metode Casework menurut tahapan dari Skidmore Thackeray, dan Farley (1994) untuk mengetahui lebih dalam mengenai permasalahan klien (Z) serta program intervensi apa yang tepat untuk menyelesaikan permasalahan klien tersebut.
Berikut tahapan metode Casework menurut Skidmore Thackeray, dan Farley (1994) yang saya terapkan selama praktikum:

1) Tahap Penelitian (Study Phase)
Tahap dimana praktikan melakukan pendekatan (engagement) dengan klien. Pada tahap ini juga praktikan menjelaskan dan memberikan pemahaman kepada klien bahwa klien sendirilah yang menentukan hasil terapi yang dilakukan. Praktikan memberikan motivasi kepada klien agar dapat mengembangkan diri, menyadarkan klien akan permasalahannya dan harus segera melakukan perubahan demi kelangsungan hidup yang lebih baik.

Pada tahap ini praktikan mengajak klien untuk membuat aksesoris yang sedang tren yaitu aksesoris dari manik-manik. Praktikan mengajari klien cara membuat strap phone, gelang, dan cincin. Sambil mengajaknya membuat aksesoris tersebut, praktikan menjelaskan bahwa hal ini bisa menjadi hobi baru jika ia antusias membuatnya sehingga dapat mengisi waktu luang. Selain itu belajar membuat aksesoris juga dapat menambah keterampilan sehingga dapat dijadikan ide bisnis dan menambah penghasilan untuk uang jajan klien, dengan begitu klien tidak perlu lagi berjualan di pinggir jalan yang berbahaya bagi anak kecil seperti klien. Terlihat jelas bahwa selama pembuatan aksesoris klien merasa senang dan meminta untuk datang kembali membuat aksesoris lagi keesokan harinya. Karena klien memiliki antusiasme yang tinggi, maka praktikan mengundangnya untuk datang kembali membuat aksesoris di keesokan harinya, dan pada saat itu klien memiliki rasa ingin tahu yang tinggi tentang seperti apa cara membuat berbagai aksesoris lainnya dan bagaimana cara menjualnya. Praktikan juga memfasilitasi dan mendidiknya sebagai bentuk dukungan terhadap kepentingan klien.

Setelah dirasa hubungan klien dan praktikan semakin dekat, praktikan kemudian mengkonfirmasi kepada klien apakah ingin melanjutkan proses terapi ini atau tidak, yang akan dituangkan dalam surat kontrak. Praktikan kemudian menyiapkan surat kontrak dan klien menyetujuinya, dan intervensi siap dilanjutkan ke tahap asesmen.

2) Tahap Pengkajian (Assessment Phase)
Sejak tahap penelitian, praktikan telah melakukan asesmen singkat mengenai latar belakang klien, hobi dan kehidupan sehari-hari, namun untuk lebih mendalam dilakukan juga wawancara saat memasuki tahap asesmen, dimana sebelumnya klien telah menyetujui kontrak. surat. Tahap asesmen berjalan lancar karena proses pendekatan sebelumnya telah berhasil.
Pada tahap ini praktikan bertanya tentang hubungannya dengan keluarga, percintaan, lingkungan sosial dan teman-temannya. Selain itu praktikan juga menanyakan tentang pendidikan klien, kendala yang dialaminya, apakah ada permasalahan yang cukup serius sehingga menghambat aktivitasnya, bagaimana perasaannya jika mengalami permasalahan tersebut, apa yang dilakukannya saat menghadapi permasalahan, apa saja yang klien suka dan tidak suka, dan pertanyaan tentang harapan dan aspirasi klien. Pertanyaan-pertanyaan tersebut merupakan langkah awal bagi praktikan untuk melanjutkan perencanaan mengenai treatment apa yang sesuai dengan permasalahan klien sesuai dengan hasil asesmen. Alat asesmen yang digunakan adalah Ecomap.

Jadi, hasil asesmennya adalah klien merupakan seorang anak jalanan yang setiap hari berjualan koran dan tisu di jalan bersama teman-temannya. Klien saat ini berusia 13 tahun, kelas 1 SMP. Namun klien diketahui putus sekolah karena selalu di-bully oleh teman-temannya di sekolah sehingga takut dan tidak percaya diri lagi untuk bersekolah. Perundungan yang diterimanya berupa kekerasan fisik, hingga kekerasan verbal seperti ejekan karena dirinya miskin dan anak seorang penjual kue. Klien menjadi tidak percaya diri lagi karena merasa berbeda kasta dengan teman-temannya dan tidak mempunyai hal yang dapat dibanggakan sehingga dapat percaya diri kembali bersekolah. Setelah informasi yang diperlukan terpenuhi, langkah selanjutnya adalah berdiskusi dengan klien program apa yang baik untuk meningkatkan rasa percaya diri klien.

3) Tahap Intervensi
Pada tahap ini program yang telah direncanakan dapat dilaksanakan pada klien. Berdasarkan diskusi dalam perencanaan program, klien merasa senang jika praktikan kembali memberikan keterampilan membuat aksesoris, karena hal ini dapat meningkatkan keterampilannya sehingga dapat dijadikan ide bisnis dan menambah penghasilan, dibandingkan harus berjualan di pinggir jalan. Hal ini sangat didukung oleh para praktikan karena praktikan beranggapan bahwa dengan meningkatkan keterampilan klien diharapkan klien semakin percaya diri dan dapat bangga dengan keterampilan dan penghasilan yang dimilikinya, selain itu juga dapat bermanfaat dalam jangka panjang bagi klien jika ingin berwirausaha.

Tentunya untuk menumbuhkan rasa percaya diri klien yang kuat tidak cukup hanya mengandalkan pengembangan skill saja, maka praktikan memberikan motivasi untuk mengubah perilaku agar klien dapat menjadi dirinya sendiri, bangga dan mensyukuri apa yang dimilikinya, merubah kebiasaan buruk dan terus melakukan kebaikan, menyayangi diri sendiri dan tidak mudah menyerap omongan negatif seseorang, selalu memberikan afirmasi positif pada diri sendiri, menjaga lingkaran pertemanan, dan lain sebagainya. Selain itu praktikan juga memberikan motivasi agar semangat belajar agar klien semangat mengejar cita-citanya dan optimis untuk mengenyam pendidikan tinggi, serta menunjang cita-cita klien. Pengembangan keterampilan dan motivasi selalu diberikan kepada klien secara berkala sehingga klien dapat membuat aksesoris sendiri bahkan dapat mengajarkan ilmunya kepada teman-temannya. Klien juga bersemangat untuk bersekolah kembali dan yakin bahwa dirinya siap dan percaya diri kembali untuk mulai menjalin pertemanan di sekolah nantinya. Klien juga telah membaca isi poster yang bertemakan “self-love” yang telah praktikan tempel di KOPA dan klien telah memahaminya dan mengaplikasikan isi poster tersebut pada dirinya.

4) Tahap Terminasi
Tahap ini merupakan tahap dimana hubungan antara praktikan dan klien dapat diakhiri. Artinya program telah berhasil dilaksanakan oleh klien dan semua tujuan telah tercapai. Nah, karena klien sudah mau berusaha berubah dan sudah berhasil mencapai tujuan yang kita harapkan, maka praktikan memberinya hadiah berupa perlengkapan sekolah dengan tujuan agar dia semakin semangat bersekolah, serta beberapa hadiah lainnya.

Saya mengucapkan terima kasih kepada Komunitas Peduli Anak (KOPA), terkhusus kepada Pak Syafri Tanjung selaku ketua/pendiri KOPA yang telah memberikan izin dan memfasilitasi praktikum saya dan telah memberikan izin kepada saya untuk menangani permasalahan Z (anak jalanan yang putus sekolah) yang merupakan salah satu anak naungan KOPA. Terima kasih kepada supervisor praktikum saya yaitu Bapak Fajar Utama Ritonga S.Sos., M.Kesos yang telah membimbing saya selama praktikum.

Penulis : Saffanah Qanitah HS (210902049) | Ilmu Kesejahteraan Sosial | FISIP | USU

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/read/metode-casework-meningkatkan-kepercayaan-diri-anak-jalanan-putus-sekolah/15152/
Dicetak dari JurnalPost.com pada 04 November 2026 19:41.