
Penulis : Choirunnisa Salsabila Putri Yuliana
NPM : 2240301169
JurnalPost.com – Keragaman bahasa di lingkungan sekolah dasar adalah kenyataan yang tidak bisa diabaikan, terutama di negara multikultural seperti Indonesia yang memiliki lebih dari 700 bahasa daerah. Anak-anak yang duduk di bangku SD berasal dari latar belakang keluarga yang beragam, baik secara budaya, agama, maupun bahasa. Tidak sedikit dari mereka yang menggunakan bahasa ibu atau bahasa daerah sebagai alat komunikasi utama di rumah, dan baru mengenal bahasa Indonesia secara aktif saat memasuki jenjang pendidikan formal. Dalam konteks ini, sekolah menjadi ruang pertama bagi anak-anak untuk berinteraksi dalam situasi sosial yang lebih luas, di mana mereka harus beradaptasi secara linguistik dan sosial dengan lingkungan yang heterogen. Sayangnya, keberagaman bahasa ini kerap kali dipandang sebagai hambatan dalam proses pembelajaran, bukan sebagai kekayaan budaya dan potensi pedagogis.
Faktanya, penelitian menunjukkan bahwa anak-anak yang tumbuh dalam lingkungan multilingual memiliki keunggulan kognitif, seperti kemampuan berpikir fleksibel, daya ingat yang lebih baik, dan keterampilan problem-solving yang lebih kuat. Selain itu, mereka juga cenderung lebih terbuka terhadap perbedaan dan memiliki sensitivitas sosial yang lebih tinggi. Oleh karena itu, pendekatan pendidikan yang merangkul keragaman bahasa justru dapat mendorong tumbuhnya sikap toleransi dan empati sejak dini. Ketika anak-anak melihat bahwa bahasa yang mereka gunakan di rumah diakui dan dihargai di sekolah, mereka akan merasa lebih percaya diri dan termotivasi untuk belajar. Mereka juga belajar bahwa tidak ada satu bahasa pun yang lebih unggul dari yang lain, dan bahwa perbedaan bahasa bukanlah alasan untuk mendiskriminasi atau merendahkan orang lain.
Peran guru dalam konteks ini sangat vital. Guru bukan hanya sebagai pengajar, tetapi juga sebagai fasilitator keberagaman dan agen pembentuk karakter siswa. Guru yang sensitif terhadap latar belakang bahasa siswa akan berusaha menciptakan lingkungan kelas yang inklusif dan ramah bahasa. Misalnya, guru dapat mengakomodasi bahasa ibu dalam pembelajaran tertentu, seperti meminta siswa menceritakan dongeng dari daerah masing- masing, menulis puisi dalam bahasa daerah, atau memperkenalkan kosa kata lokal dalam konteks budaya. Hal ini tidak hanya memperkuat identitas linguistik siswa, tetapi juga memperkaya pengalaman belajar seluruh kelas. Strategi ini juga membantu menjaga keberlangsungan bahasa daerah yang kian terancam punah di era globalisasi.
Lebih jauh, sekolah seharusnya menjadi tempat di mana anak-anak tidak dipaksa untuk meninggalkan bahasa ibunya demi menyesuaikan diri dengan standar bahasa formal, melainkan tempat yang memberi ruang untuk berkembang dalam keragaman. Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan tentu penting, namun penguasaan bahasa nasional tidak seharusnya menjadi alasan untuk menekan atau menegasi bahasa daerah. Sebaliknya, pendidikan dasar harus mampu menjembatani antara bahasa ibu dan bahasa nasional, sehingga proses belajar tidak hanya berlangsung secara kognitif, tetapi juga secara afektif dan kultural.
Kesadaran akan pentingnya merayakan keragaman bahasa pada anak SD juga harus melibatkan orang tua, pembuat kebijakan, dan masyarakat luas. Pemerintah perlu mendorong kebijakan pendidikan yang mendukung pendekatan multilingual, sementara orang tua dapat memperkuat identitas bahasa anak di rumah. Dengan demikian, anak-anak akan tumbuh dalam lingkungan yang menghargai asal-usul mereka sekaligus membekali mereka untuk menjadi bagian dari masyarakat yang lebih luas. Menumbuhkan toleransi dan keberagaman sejak dini bukanlah hal yang mudah, tetapi melalui pengakuan terhadap bahasa sebagai identitas, langkah kecil itu bisa dimulai di ruang kelas SD. Merayakan keragaman bahasa berarti menanamkan nilai-nilai inklusivitas, keterbukaan, dan saling menghormati yang akan dibawa anak-anak hingga dewasa kelak.