
Dosen Pengampu : Dea Mustika, S.Pd., M. Pd
Disusun Oleh : Ella Sefi Anggun Afifah D, Natila Salsa Billa, Rizka Akmariani, Tri Andesta, Zacky Aprilian Mahendra.
Jurusan : Pendidikan Guru Sekolah Dasar
Universitas Islam Riau
JurnalPost.com – Dalam dunia pendidikan, menumbuhkan minat belajar siswa merupakan tantangan yang penting. Salah satu pendekatan yang terbukti efektif dalam pembelajaran tematik adalah melalui penerapan metode pembelajaran kolaboratif. Metode ini menekankan pada keterlibatan aktif siswa dalam pembelajaran yang melibatkan kolaborasi atau kerja sama antar siswa sehingga dapat meningkatkan aktivitas siswa dalam pelaksanaan belajar di dalam kelas. Pembelajaran kolaboratif memiliki esensi bahwa pengetahuan dapat dibangun melalui usaha bersama oleh siswa dan guru melalui komunikasi yang baik (Nuramalina, Basuki, & Suyono, 2019). Hal ini berarti bahwa komunikasi merupakan kunci dalam pembelajaran kolaboratif. Oleh karena itu, dalam pembelajaran kolaboratif menekankan bahwa setiap individu atau siswa saling berkomunikasi dalam kelompok guna membangun dan mengasah pengetahuan serta dalam pelaksanaannya tidak menekankan sistem kompetisi namun mengutamakan pembelajaran yang berdasarkan pada aktivitas siswa mencari informasi melalui proses diskusi dan bekerja sama dengan kelompok (berkolaborasi).
Melalui pendekatan ini, pendidik dapat menciptakan pengalaman pembelajaran yang lebih bermakna, memicu minat belajar yang lebih besar dan membantu siswa untuk mencapai potensi belajar mereka secara optimal. Minat belajar adalah sesuatu yang dapat menggerakan ketertarikan sehingga menghasilkan motivasi seseorang dalam melakukan suatu aktivitas tertentu. Minat belajar siswa sekarang ini sangatlah perlu diperhatikan oleh kalangan pendidik, karena salah satu faktor yang menjadikan seseorang meraih kesuksesan adalah adanya minat dalam diri seseorang. Apalagi dalam hal pendidikan, minat belajar sangatlah dibutuhkan bagi para peserta didik untuk menunjang dalam keberhasilan belajarnya. Pada faktanya yang terjadi saat ini bahwa siswa di sekolah dasar mengalami penurunan hasil belajar dikarenakan kurangnya minat belajar pada setiap siswa.
Pembelajaran tematik terpadu sangat memungkinkan jika bersifat kolaboratif. Pembelajaran Pembelajaran tematik terpadu sangat memungkinkan jika bersifat kolaboratif. Pembelajaran kolaboratif menurut Sato (dalam Djamilah, 2008:3) adalah pembelajaran yang dilaksanakan dalam kelompok, namun tujuannya bukan untuk mencapai kesatuan yang didapat melalui kegiatan kelompok. Para peserta didik dalam kelompok didorong untuk menemukan beragam pendapat atau pemikiran yang dikeluarkan oleh tiap individu dalam kelompok. Pembelajaran tidak terjadi dalam kesatuan, namun pembelajaran merupakan hasil dari keragaman atau perbedaan. Pembelajaran tematik adalah pembelajaran terpadu yang menggunakan tema untuk mengaitkan beberapa mata pelajaran sehingga dapat memberikan pengalaman bermakna kepada murid (Abdul Majid, 2014:80). Dengan demikian, Pembelajaran tematik merupakan salah satu model pembelajaran terpadu (integrated instruction) yang merupakan suatu sistem membelajaran yang memungkinkan peserta didik, baik secara individu maupun kelompok aktif menggali dan menemukan konsep serta prinsip-prinsip keilmuan secara holistik, bermakna dan otentik.
Faktor-faktor yang memengaruhi minat belajar
Ada beberapa faktor yang dapat memengaruhi minat belajar siswa, antara lain:
1. Faktor Internal:
a. Minat dan bakat alami siswa terhadap subjek tertentu.
b. Tingkat pemahaman dan kepercayaan diri siswa terhadap kemampuan dalam materi pelajaran tertentu.
c. Motivasi intrinsik siswa, seperti keinginan untuk mencari pengetahuan baru atau rasa puas ketika berhasil memahami suatu konsep(Nantara, 2021).
2. Faktor Eksternal:
a. Kualitas pengajaran dan pendekatan pembelajaran yang digunakan oleh pendidik.
b. Dukungan dan dorongan yang diberikan oleh keluarga terhadap kegiatan belajar siswa di rumah.
c. Lingkungan belajar di sekolah, termasuk fasilitas yang tersedia dan interaksi antara siswa dan guru (Rifdan dkk., 2022).
d. Pengaruh teman sebaya dan lingkungan sosial di sekitar siswa dapat memengaruhi minat belajar
3. Pengalaman Sebelumnya:
a. Pengalaman positif atau negatif sebelumnya dalam mempelajari subjek tertentu dapat memengaruhi minat belajar siswa terhadap subjek tersebut di masa depan.
b. Keberhasilan atau kegagalan sebelumnya dalam mencapai tujuan belajar dapat mempengaruhi motivasi dan minat belajar siswa.
Karakteristik Pembelajaran Kolaboratif
Ritu Chandra (2015) menunjukkan bahwa pembelajaran kolaboratif bukan hanya metode di kelas, tetapi juga melibatkan perasaan menghargai, respek, atau hormat penuh kepada setiap anggota kelompok. Ini juga menekankan kemampuan dan kontribusi setiap anggota kelompok. Untuk setiap tindakan kelompok, ada pembagian wewenang dan tanggung jawab. Pembelajaran kolaboratif didasarkan pada kerja sama dan kolaborasi oleh anggota kelompok. Ini melibatkan interaksi sosial yang melibatkan komunitas siswa dan guru, di mana anggotanya berbagi pengalaman dan informasi. Adapun beberapa karakteristik pembelajaran kolaboratif, yaitu :
1. Ketergantungan positif
Ketergantungan yang positif antar siswa dalam suatu kelompok menjadi prasyarat terjadinya kerja sama yang positif. Jika setiap siswa dalam kelompok menyadari bahwa berhasil tanpa berkontribusi pada keberhasilan orang lain, akan ada ketergantungan yang positif.
2. Interaksi
Karena aktivitas kognitif penting dan kecakapan interpersonal yang dinamis hanya dapat terjadi dalam interaksi yang dinamis, interaksi antar anggota kelompok sangat penting. Berbagai aktivitas, seperti memeriksa pemahaman orang lain, berbagi informasi dengan anggota kelompok lain, dan mempresentasikan hasil diskusi, adalah contoh dari interaksi dinamis ini. Sistem dukungan akademik terbentuk melalui interaksi antara anggota kelompok, di mana setiap anggota berkomitmen untuk membantu anggota kelompok lain.
3. Pertanggungjawaban individu dan kelompok
Keberhasilan setiap anggota kelompok sangat penting dalam pembelajaran kolaboratif. Selain itu, tujuan pembelajaran kolaboratif adalah untuk meningkatkan kemampuan siswa secara individual. Semua anggota kelompok harus bertanggung jawab atas kontribusinya, dan kelompok harus bertanggung jawab atas pencapaian tujuan. Hanya setelah kinerja setiap individu dievaluasi dan hasilnya didistribusikan ke kelompok dan individu yang bersangkutan untuk memastikan bahwa anggota yang memerlukan bantuan, dukungan, atau penguatan untuk belajar dapat bertanggung jawab.
4. Pengembangan kecakapan interpersonal
Pembelajaran kelompok yang lebih kompetitif berbeda dengan pembelajaran secara individual. Selain keterampilan akademik, pembelajaran kolaboratif akan mengajarkan kecakapan sosial. Perlu diingat bahwa kecakapan sosial tidak muncul secara spontan selama pembelajaran kolaboratif. Pembelajaran bersama yang berkelanjutan diharapkan dapat meningkatkan keterampilan sosial seperti kepemimpinan (leadership), kemampuan membuat keputusan, berkomunikasi, membangun kepercayaan, dan mengatasi konflik.
5. Pembentukan kelompok heterogen
Membentuk kelompok memungkinkan setiap orang dalam kelompok untuk berbicara tentang bagaimana mencapai tujuan mereka dan untuk membangun hubungan kerja yang efektif. Setelah membentuk kelompok, jelaslah apa yang harus dilakukan oleh setiap anggota kelompok. Untuk membentuk kelompok kolaboratif, ada beberapa prinsip. Salah satunya adalah perlunya menerima berbagai jenis siswa, seperti menggabungkan siswa yang pendiam dengan siswa yang lebih mudah berkomunikasi, siswa yang rendah diri dan optimistis, serta siswa yang sangat termotivasi dan rendah diri. Kebiasaan bekerja, etnik, dan gender harus dipertimbangkan saat membentuk kelompok. Jumlah kelompok yang sebenarnya tidak diketahui. Kelompok terlalu besar atau terlalu kecil tidak akan memungkinkan siswa berpartisipasi secara aktif, dan kelompok terlalu kecil juga tidak akan memungkinkan dinamisasi. Kelompok empat atau lima siswa biasanya merupakan ukuran yang baik.
6. Berbagi pengetahuan antara guru dan siswa
Ketika guru menggunakan pembelajaran kolaboratif, mereka menghargai dan mengembangkan pembelajaran berdasarkan pengalaman, pengetahuan, strategi, dan budaya yang dibawa siswa. Ketika siswa melihat bahwa pengalaman, pengetahuan, dan strategi penyelesaian masalah mereka dihargai dan digunakan, mereka akan lebih termotivasi untuk mendengarkan dan belajar dengan cara lain. Mereka juga akan lebih mampu membuat hubungan antara pengetahuan “pribadi” dan “sekolah” mereka. Siswa telah diberdayakan dalam kegiatan pembelajaran ini.
7. Berbagi otoritas antara guru dan siswa
Menilai (mengevaluasi) apa yang telah dipelajari siswa, menetapkan tujuan pembelajaran, dan mendesain tugas belajar adalah tugas guru yang dominan dalam pembelajaran tradisional. Pembelajaran kooperatif tidak. Dalam kelas yang bekerja sama, pendidik berbagi oritas dengan siswa dengan cara yang spesifik. Siswa secara aktif berpartisipasi dalam penetapan tujuan belajar, pendesaian tugas, dan evaluasi ketercapaian tujuan belajar.
8. Guru sebagai mediator
Guru bertindak sebagai mediator dalam pembelajaran kolaboratif. Dalam hal ini, guru membantu siswa untuk menghubungkan pengetahuan baru dengan yang sudah mereka ketahui sebelumnya, memberikan gambaran tentang apa yang harus dilakukan ketika mereka menghadapi masalah, dan membantu mereka belajar bagaimana belajar (learn how to learn). Langkah-langkah Pembelajaran Kolaboratif Berikut ini langkah-langkah pembelajaran kolaboratif, yaitu :
Macam-macam Model Pembelajaran Kolaboratif
Ada banyak macam pembelajaran kolaboratif yang pernah dikembangkan oleh para ahli maupun praktisi pendidikan, teristimewa oleh para ahli Student Team Learning pada John Hopkins University. Tetapi hanya sekitar sepuluh macam yang mendapatkan perhatian secara luas, yaitu:
1. Learning Together.
Dalam metode ini kelompok-kelompok sekelas beranggotakan siswa-siswa yang beragam kemampuannya. Tiap kelompok bekerjasama untuk menyelesaikan tugas yang diberikan oleh guru. Satu kelompok hanya menerima dan mengerjakan satu set lembar tugas. Penilaian didasarkan pada hasil kerja kelompok.
2. Teams-Games-Tournament (TGT).
Setelah belajar bersama kelompoknya sendiri, para anggota suatu kelompok akan berlomba dengan anggota kelompok lain sesuai dengan tingkat kemampuan masing-masing. Penilaian didasarkan pada jumlah nilai yang diperoleh kelompok.
3. Group Investigation (GI).
Semua anggota kelompok dituntut untuk merencanakan suatu penelitian beserta perencanaan pemecahan masalah yang dihadapi. Kelompok menentukan apa saja yang akan dikerjakan dan siapa saja yang akan melaksanakannya berikut bagaimana perencanaan penyajiannya di depan forum kelas. Penilaian didasarkan pada proses dan hasil kerja kelompok.
4. Academic-Constructive Controversy (AC).
Setiap anggota kelompok dituntut kemampuannya untuk berada dalam situasi konflik intelektual yang dikembangkan berdasarkan hasil belajar masing-masing, baik bersama anggota sekelompok maupun dengan anggota kelompok lain. Kegiatan pembelajaran ini mengutamakan pencapaian dan pengembangan kualitas pemecahan masalah, pemikiran kritis, pertimbangan, hubungan antarpribadi, kesehatan psikis dan keselarasan. Penilaian didasarkan pada kemampuan setiap anggota maupun kelompok mempertahankan posisi yang dipilihnya.
5. Jigsaw Proscedure (JP).
Dalam bentuk pembelajaran ini, anggota suatu kelompok diberi tugas yang berbeda-beda tentang suatu pokok bahasan. Agar setiap anggota dapat memahami keseluruhan pokok bahasan, tes diberikan dengan materi yang menyeluruh. Penilaian didasarkan pada rata-rata skor tes kelompok.
6. Student Team Achievement Divisions (STAD).
Para siswa dalam suatu kelas dibagi menjadi beberapa kelompok kecil. Anggota-anggota dalam setiap kelompok saling belajar dan membelajarkan sesamanya. Fokusnya adalah keberhasilan seorang akan berpengaruh terhadap keberhasilan kelompok dan demikian pula keberhasilan kelompok akan berpengaruh terhadap keberhasilan individu siswa. Penilaian didasarkan pada pencapaian hasil belajar individual maupun kelompok.
7. Complex Instruction (CI).
Metode pembelajaran ini menekankan pelaksanaan suatu proyek yang berorientasi pada penemuan, khususnya dalam bidang sains, matematika dan pengetahuan sosial. Fokusnya adalah menumbuhkembangkan ketertarikan semua anggota kelompok terhadap pokok bahasan. Metode ini umumnya digunakan dalam pembelajaran yang bersifat bilingual (menggunakan dua bahasa) dan di antara para siswa yang sangat heterogen. Penilaian didasarkan pada proses dan hasil kerja kelompok.
8. Team Accelerated Instruction (TAI).
Bentuk pembelajaran ini merupakan kombinasi antara pembelajaran kooperatif/ kolaboratif dengan pembelajaran individual. Secara bertahap, setiap anggota kelompok diberi soal-soal yang harus mereka kerjakan sendiri terlebih dulu. Setelah itu dilaksanakan penilaian bersama-sama dalam kelompok. Jika soal tahap pertama telah diselesaikan dengan benar, setiap siswa mengerjakan soal-soal tahap berikutnya. Namun jika seorang siswa belum dapat menyelesaikan soal tahap pertama dengan benar, ia harus menyelesaikan soal lain pada tahap yang sama. Setiap tahapan soal disusun berdasarkan tingkat kesukaran soal. Penilaian didasarkan pada hasil belajar individual maupun kelompok.
9. Cooperative Learning Stuctures (CLS).
Dalam pembelajaran ini setiap kelompok dibentuk dengan anggota dua siswa (berpasangan). Seorang siswa bertindak sebagai tutor dan yang lain menjadi tutee. Tutor mengajukan pertanyaan yang harus dijawab oleh tutee. Bila jawaban tutee benar, ia memperoleh poin atau skor yang telah ditetapkan terlebih dulu. Dalam selang waktu yang juga telah ditetapkan sebelumnya, kedua siswa yang saling berpasangan itu berganti peran.
10. Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC).
Model pembelajaran ini mirip dengan TAI. Sesuai namanya, model pembelajaran ini menekankan pembelajaran membaca, menulis dan tata bahasa. Dalam pembelajaran ini, para siswa saling menilai kemampuan membaca, menulis dan tata bahasa, baik secara tertulis maupun lisan di dalam kelompoknya.
Berikut ini langkah-langkah pembelajaran kolaboratif
1. Para siswa dalam kelompok menetapkan tujuan belajar dan membagi tugas sendiri-sendiri.
2. Semua siswa dalam kelompok membaca, berdiskusi, dan menulis.
3. Kelompok kolaboratif bekerja secara bersinergi mengidentifikasi, mendemontrasikan, meneliti, menganalisis, dan memformulasikan jawabanjawaban tugas atau masalah dalam LKS atau masalah yang ditemukan sendiri.
4. Setelah kelompok kolaboratif menyepakati hasil pemecahan masalah, masingmasing siswa menulis laporan sendiri-sendiri secara lengkap.
5. Guru menunjuk salah satu kelompok secara acak (selanjutnya diupayakan agar semua kelompok dapat giliran ke depan) untuk melakukan presentasi hasil diskusi kelompok kolaboratifnya di depan kelas, siswa pada kelompok lain mengamati, mencermati, membandingkan hasil presentasi tersebut, dan menanggapi. Kegitan ini dilakukan selama lebih kurang 20-30 menit.
6. Masing-masing siswa dalam kelompok kolaboratif melakukan elaborasi, inferensi, dan revisi (bila diperlukan) terhadap laporan yang akan dikumpulan.
7. Laporan masing-masing siswa terhadap tugas-tugas yang telah dikumpulkan, disusun perkelompok kolaboratif.
8. Laporan siswa dikoreksi, dikomentari, dinilai, dikembalikan pada pertemuan berikutnya, dan didiskusikan.
Faktor-faktor yang menjadi penentu minat belajar siswa meliputi motivasi intrinsik, dukungan sosial, pengalaman belajar sebelumnya, preferensi belajar, dan kualitas lingkungan pembelajaran. Motivasi intrinsik merupakan dorongan yang timbul dari dalam diri siswa untuk belajar karena minat, keinginan, dan kepuasan pribadi. Dukungan sosial dari keluarga, teman sebaya, dan guru berperan penting dalam membentuk minat belajar siswa. Pengalaman belajar sebelumnya dan preferensi belajar individu dapat memengaruhi minat belajar siswa terhadap subjek tertentu. Selain itu, kualitas lingkungan pembelajaran, termasuk kebebasan dalam mengeksplorasi ide, dukungan dari guru, dan suasana kelas yang kondusif, berkontribusi dalam membentuk minat belajar siswa.
Metode pembelajaran kolaboratif dapat mempengaruhi minat belajar siswa dengan menciptakan pengalaman pembelajaran yang menarik, interaktif, dan bermakna. Dengan memfasilitasi partisipasi aktif siswa, mendorong pemikiran kreatif, dan memungkinkan penemuan pengetahuan secara mandiri. Tujuan pembelajaran kolaboratif adalah untuk membantu siswa berkolaborasi untuk menyelesaikan masalah, menyelesaikan tugas, membuat produk, atau merancang atau “menghasilkan” pencapaian baru. Dalam proses belajar mengajar pembelajaran kolaboratif ini sangat tepat digunakan di ruangan kelas. Karena pembelajaran ini dapat meningkatkan pemahaman siswa, menyampaikan ide, maupun gagasan di depan banyak orang serta meningkatkan tanggung jawab individu. Siswa diharapkan aktif, dan berpikir kritis untuk mempermudah interaksi antar individu dan kelompok di antara anggota kelompok, memungkinkan tiap kelompok menunjukkan keterampilan sosial dan kemampuan komunikasi.