
Oleh: David Chandra – Mahasiswa Universitas Siber Asia
JAKARTA, JurnalPost.com — Pesatnya perkembangan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dan otomatisasi di era Industry 4.0 telah mengubah lanskap kehidupan manusia secara signifikan. Di satu sisi, teknologi ini menawarkan efisiensi dan kemudahan tanpa batas. Namun di sisi lain, hadir kekhawatiran mendalam terkait lunturnya nilai-nilai kemanusiaan, rasa empati, dan interaksi sosial yang otentik.
Memasuki konsep Society 5.0, manusia dituntut untuk menempatkan teknologi sebagai sarana guna mempermudah kehidupan, bukan malah dikendalikan oleh teknologi itu sendiri. Fenomena AI anxiety (kecemasan terhadap AI) dan krisis identitas digital kini menjadi tantangan nyata yang dihadapi masyarakat modern, khususnya generasi muda.
Sentuhan Manusia yang Tak Tergantikan
Dalam kacamata kajian Estetika Humanisme, keberadaan teknologi canggih seharusnya tidak menggeser literasi manusia (Human Literacy). Literasi manusia mencakup kemampuan untuk berempati, berpikir kritis, beretika, serta mengapresiasi keindahan dan rasa kemanusiaan—hal-hal yang tidak mampu direplikasi secara penuh oleh algoritma komputer.
“Teknologi mampu mengolah jutaan data dalam hitungan detik, tetapi teknologi tidak memiliki nurani, kepekaan emosional, dan pemahaman nilai estetika dalam kehidupan sosial,” ujar kajian literatur estetika modern.
Krisis empati kerap muncul ketika interaksi fisik digantikan oleh layar digital. Fenomena cyberbullying, maraknya disinformasi, hingga sikap acuh tak acuh di media sosial menjadi bukti bahwa kemajuan teknologi yang tidak diimbangi dengan pemahaman humanisme dapat memicu degradasi moral.
Menuju Keseimbangan Digital dan Kemandirian Berpikir
Untuk menghadapi dinamika ini, penerapan Society 5.0 harus diimbangi dengan penguatan fondasi karakter. Beberapa langkah kritis yang perlu diambil antara lain:
Pendidikan Berbasis Human Literacy: Mengintegrasikan nilai-nilai estetika, etika, dan kebudayaan ke dalam kurikulum berbasis teknologi.
Pengembangan Kemampuan Emosional (EQ): Mengasah rasa empati dan kepedulian sosial di tengah gempuran otomatisasi.
Berpikir Kritis dan Sistematis: Melatih masyarakat untuk menyaring informasi digital secara rasional dan bijak agar tidak mudah terpengaruh oleh konten provokatif.
Konsep Society 5.0 yang ideal bukan hanya tentang seberapa canggih robot atau AI yang dimiliki sebuah bangsa, melainkan seberapa bijak manusia memanfaatkan teknologi tersebut untuk memanusiakan manusia (humanizing technology).
Perkembangan zaman tidak bisa dihentikan, namun arah perkembangan tersebut berada di tangan manusia. Melalui pendekatan Estetika Humanisme, masyarakat diajak untuk tetap mempertahankan nilai-nilai luhur kemanusiaan, kesenian, dan etika di tengah arus modernisasi. Dengan demikian, teknologi akan tetap menjadi alat penunjang kehidupan, sementara manusia tetap menjadi pemegang kendali peradaban yang beradab dan berempati.