
Penulis: Nashwa Erla Nayyara
JurnalPost.com – Nyeri punggung menjadi salah satu gangguan kesehatan yang paling umum terjadi pada pegawai kantor di seluruh dunia. Rutinitas kerja yang repetitif dan dilakukan dalam posisi duduk berkepanjangan merupakan faktor utama pemicu masalah ini. Sikap tubuh yang tidak benar saat bekerja di depan komputer, penggunaan kursi yang tidak sesuai dengan prinsip ergonomi, serta kurangnya gerakan fisik selama jam kerja menyebabkan beban berlebihan pada struktur tulang belakang. Hal ini membuat otot-otot punggung menegang, sehingga timbul sensasi nyeri, kekakuan, dan bahkan bisa berkembang menjadi masalah muskuloskeletal kronis dalam jangka waktu lama. (Organization, 2021)
Masalah ini tidak hanya mempengaruhi kondisi fisik, tetapi juga berdampak pada kinerja seseorang. Nyeri punggung dapat menurunkan kemampuan fokus, mengurangi motivasi kerja, meningkatkan tingkat stres, dan bahkan menyebabkan ketidakhadiran yang berkepanjangan. (Nkwopara, 2025) Situasi ini tentu saja memberikan efek negatif terhadap produktivitas pribadi dan efisiensi perusahaan. Sayangnya, banyak pegawai yang belum memiliki pemahaman dan kemampuan memadai untuk mencegah atau menangani masalah ini secara mandiri. Kebanyakan dari mereka hanya mengandalkan pengobatan sementara, seperti minum obat penghilang rasa sakit, tanpa mengatasi akar penyebabnya.
Menyadari pentingnya masalah tersebut, tim pengabdian masyarakat merancang program intervensi edukatif yang bertujuan untuk meningkatkan wawasan pegawai tentang pentingnya ergonomi dan memberikan keterampilan praktis melalui latihan fisioterapi ringan. Program ini dibuat agar mudah diimplementasikan di tempat kerja tanpa memerlukan peralatan khusus atau ruangan luas. (Shariat et al., 2018) Fokus utamanya adalah menumbuhkan kesadaran bahwa mencegah lebih baik daripada mengobati.
Pelaksanaan kegiatan terbagi menjadi dua tahap pokok. Tahap pertama melibatkan penyuluhan interaktif yang menjelaskan dasar-dasar ergonomi kerja, seperti teknik duduk yang benar, penempatan monitor yang optimal, serta pentingnya menyeimbangkan waktu duduk dengan waktu berdiri atau berjalan. Dalam sesi ini, peserta juga mendapat penjelasan tentang anatomi dasar tulang belakang dan penyebab umum nyeri punggung. Tujuannya agar pegawai memahami hubungan antara kebiasaan kerja harian dengan risiko gangguan kesehatan muskuloskeletal.Tahap kedua mencakup praktik langsung latihan peregangan dan penguatan otot inti (core muscles). Latihan ini meliputi gerakan sederhana seperti meregangkan otot leher, bahu, punggung, dan pinggang yang bisa dilakukan di sela-sela jam kerja. Gerakan tersebut dimaksudkan untuk meningkatkan aliran darah, mengurangi ketegangan otot, serta memperbaiki postur tubuh. Latihan penguatan otot inti, seperti plank sederhana dan gerakan pelvic tilt, juga diajarkan untuk memperkuat penyangga utama tulang belakang. Penelitian fisioterapi menunjukkan bahwa kombinasi antara edukasi ergonomi dan latihan fisik ringan dapat mengurangi tingkat nyeri punggung secara bermakna jika dilakukan secara teratur. (Yunita et al., 2025)
Hasil penilaian menunjukkan dampak positif yang jelas. Sekitar 85% peserta melaporkan merasa lebih nyaman saat bekerja setelah menerapkan prinsip ergonomi yang tepat. Selain itu, sekitar 65% mengalami penurunan keluhan nyeri punggung ringan hingga sedang setelah dua minggu rutin melakukan latihan peregangan. Peserta juga merasa lebih segar dan terpusat saat bekerja, terutama jika latihan dilakukan sebelum memulai tugas atau selama istirahat siang. Temuan ini selaras dengan berbagai studi yang menyatakan bahwa peregangan di tempat kerja dapat mengurangi kelelahan otot, meningkatkan konsentrasi, dan menurunkan stres kerja. (Susanti & Putri, 2020)
Faktor kunci yang mendukung keberhasilan program ini adalah kemudahan dalam menerapkan latihan serta dukungan dari manajemen perusahaan. Pihak manajemen memberikan penghargaan tinggi dan menyatakan ketertarikan untuk mengintegrasikan materi ergonomi ke dalam pelatihan rutin karyawan. Mereka juga mempertimbangkan penilaian ulang terhadap peralatan kantor, seperti mengganti kursi dan meja kerja dengan model yang lebih ergonomis sesuai panduan WHO dalam program promosi kesehatan kerja. Langkah ini menunjukkan komitmen kuat perusahaan dalam menciptakan lingkungan kerja yang sehat dan berkelanjutan.
Sebagai langkah kelanjutan program, tim pengabdi menyerahkan modul edukatif digital kepada perusahaan. Modul ini mencakup panduan latihan harian, poster ergonomi, serta tautan video demonstrasi yang bisa diakses kapan saja oleh semua karyawan. Selain itu, perusahaan disarankan menunjuk “agen perubahan” di setiap divisi yang bertugas mengingatkan dan mendorong karyawan lain untuk melakukan latihan peregangan secara rutin. Pendekatan ini diharapkan dapat mempertahankan budaya kerja sehat yang telah terbentuk melalui kegiatan ini. (Beres, 2002)
Dari segi sosial, program ini memberikan keuntungan ganda. Bagi pegawai, mereka mendapatkan keterampilan baru yang langsung bisa diterapkan untuk menjaga kesehatan diri di tempat kerja. Sementara bagi perusahaan, peningkatan kenyamanan dan produktivitas karyawan tentu berkontribusi pada pencapaian tujuan organisasi. (Andersen et al., 2010) Dengan demikian, program ini bukan hanya kegiatan kesehatan, melainkan investasi jangka panjang untuk kesejahteraan sumber daya manusia.
Secara umum, program integrasi pendidikan ergonomi dan latihan fisioterapi ringan ini terbukti ampuh dalam meningkatkan kesadaran pegawai tentang pentingnya menjaga postur tubuh dan aktivitas fisik saat bekerja. Melalui pendekatan edukatif yang praktis, peserta tidak hanya mendapat pengetahuan, tetapi juga motivasi untuk mengubah kebiasaan kerja yang tidak sehat. Keberhasilan program ini membuktikan bahwa upaya promosi dan pencegahan yang dirancang dengan baik dapat memberikan hasil konkret untuk peningkatan kesehatan kerja.
Sebagai langkah berikutnya, disarankan agar perusahaan melakukan penyuluhan dan latihan fisik secara berkala, berinvestasi pada peralatan kerja ergonomis, serta melaksanakan pemantauan kesehatan karyawan secara rutin. Dengan cara ini, kesejahteraan dan produktivitas pegawai dapat terus dijaga, serta risiko gangguan muskuloskeletal dapat diminimalkan. Harapannya, model program ini bisa diterapkan di berbagai tempat kerja lainnya agar semakin banyak pegawai kantor yang terhindar dari masalah nyeri punggung dan menikmati kualitas hidup yang lebih baik.
DAFTAR PUSTAKA
Andersen, L. L., Christensen, K. B., Holtermann, A., Poulsen, O. M., Sjøgaard, G., Pedersen, M. T., & Hansen, E. A. (2010). Effect of physical exercise interventions on musculoskeletal pain in all body regions among office workers: a one-year randomized controlled trial. Manual Therapy, 15(1), 100–104.
Beres, E. (2002). Guidelines on occupational safety and health management systems ILO-OSH 2001.
Nkwopara, C. J. (2025). Investigating the impact of ergonomic risk factors and musculoskeletal pain on the mental health of young construction workers in British Columbia. University of British Columbia.
Organization, W. H. (2021). WHO/ILO joint estimates of the work-related burden of disease and injury, 2000–2016: global monitoring report.
Shariat, A., Cleland, J. A., Danaee, M., Kargarfard, M., Sangelaji, B., & Tamrin, S. B. M. (2018). Effects of stretching exercise training and ergonomic modifications on musculoskeletal discomforts of office workers: a randomized controlled trial. Brazilian Journal of Physical Therapy, 22(2), 144–153.
Susanti, N., & Putri, A. R. (2020). Penyuluhan Dan Pelatihan Fisioterapi Pada Balita Di Posyandu Balita Seruni XII Poncol Kota Pekalongan. PENA ABDIMAS: Jurnal Pengabdian Masyarakat, 1(1).
Yunita, A. Y., Nurshal, R. A., & Mutiara, S. (2025). PENYULUHAN DAN LATIHAN FISIOTERAPI UNTUK MENCEGAH NYERI PUNGGUNG PADA PEKERJA KANTORAN. Awal Bros Journal of Community Development, 6(1), 19–25.

Biodata Penulis
Nama : Nashwa Erla Nayyara
Prodi : Fisioterapi
Fakultas : Fakultas Ilmu Kesehatan
Universitas : Universitas Muhammadiyah Malang