Kembali
Mode hapus aktif. Klik paragraf, foto, judul, tabel, atau bagian lain yang tidak ingin masuk PDF.
JurnalPost.com

Meningkatkan Efisiensi dan Kustomisasi dalam Manufaktur Aditif

Tim Editor: Redaksi · Tanggal: 8 Mei 2024

JurnalPost.com – Era industri 4.0 telah membawa perubahan besar pada sektor manufaktur. Integrasi dalam sistem produksi konvensional telah meningkatkan produktivitas, efisiensi, dan layanan secara signifikan. Inovasi seperti Internet of Things (IoT), big data, dan kecerdasan buatan (AI) mampi menciptakan lingkungan produksi yang lebih efisien dan adaptif. Integrasi data menjadi kunci dalam pemanfaatan potensi Industri 4.0. Dengan menggabungkan data dari berbagai sumber, Perusahaan mampu memperoleh wawasan yang lebih dalam mengenai operasu mereka, yang mengarah pada peningkatan kualitas dan inovasi produk. Proses ini mendukung managemen informasi yang lebih efektif untuk membantu Perusahaan dalam mengambil pengambilan keputusan yang lebih strategis.

Manufaktur Aditif: Revolusi dalam Teknik Industri
Manufaktur aditif yang dikenal juga dengan Additive Manufacturing atau 3D printing merupakan inovasi yang memungkinkan pembuatan objek 3D dengan menambahkan material secara berlapis untuk menghasilkan bentuk yang diinginkan (A. T. Rohman, H.S.B. Rochardjo, 2020). Berbeda dengan metode manufaktur konvensional yang membuang material untuk membentuk objek, penggunaan manufaktur aditif mampu memberikan beberapa keuntungan, seperti efisien, fleksibel, kecepatan, dan dapat dikustomisasi.

Manufaktur aditif pertama kali digunakan untuk mengembangkan prototipe pada tahun 1981 oleh Dr. Hideo Kodama, yang merupakan seorang peneliti asal Jepang dari Nayoga Municipal Industrial Research Institute. Dikenal sebagai rapid prototyping karena kemampuannya untuk cepat menghasilkan model fisik dari desain digital. Kemudian pada tahun 1983, Chuck Hull, seorang insinyur Amerika, memainkan peran kunci dalam revolusi manufaktur Aditif.

Hull memperkenalkan dunia pada Stereolitografi (SLA). Teknologi ini menggunakan laser untuk mengerasi lapisan demi lapisan resin cair, membentuk objek 3D. SLA memungkinkan pembuatan prototipe dengan cepat dan akurat. Setelah itu, Scott Crump muncul dengan penemuan Fused Deposition Modeling (FDM). Pada akhir tahun 1980-an, Crump mengembangkan teknologi ini. FDM menggunakan filamen termoplastik yang dilelehkan dan diekstrusi melalui nozzle untuk mencetak objek 3D. Crump mendirikan perusahaan Stratasys pada tahun 1989 dan mematenkan teknologi FDM (Putra et al., 2022).

Perbedaan utama antara SLA dan FDM adalah dalam bahan dan prosesnya. SLA fokus pada penggunaan resin dan pengerasan dengan cahaya UV, sementara FDM menggunakan material termoplastik yang dipanaskan dan diekstrusi. FDM menjadi populer karena kemudahan penggunaan dan biaya yang lebih rendah dibandingkan dengan SLA.

Trend Terkini dalam Manufaktur Aditif
Manufaktur aditif telah menarik perhatian global dan digunakan dalam berbagai sektor, yang awalnya hanya digunakan untuk prototyping cepat, kini dapat digunakan untuk memproduksi banyak produk akhir, seperti penerbangan, perbaikan, otomotif, kesehatan, dan ritel.

Inovasi Manufaktur Aditif di 2023:
1. Powder Bed Fusion (PBF): Teknik pencetakan 3D dengan menggunakan serbuk logam yang dilelehkan untuk membentuk objek.
2. Automasi Manufaktur Aditif: Penggunaan otomatisasi dalam jalur produksi dengan 3D printing.
3. Bahan Baru: Inovasi dalam bahan yang digunakan untuk mencetak 3D.
4. Vat Polymerization (VPP): Teknik menggunakan resin cair yang diaktivasi oleh cahaya UV untuk membentuk objek.
5. Direct Energy Deposition: Proses menambahkan material secara langsung ke permukaan objek.
6. Material Extrusion: Menggunakan filamen termoplastik yang dilelehkan dan diekstrusi melalui nozzle.
7. Pencetak 3D Lanjutan: Pengembangan pencetak 3D dengan kemampuan lebih tinggi.
8. Produksi Volume Tinggi: Peningkatan dalam produksi massal menggunakan teknologi AM.
9. Binder Jetting: Proses menggunakan binder untuk mengikat serbuk logam menjadi objek.
10. Rapid Prototyping: Pengembangan prototipe dengan cepat dan akurat.

Kesimpulan
Kemampuan untuk menggabungkan informasi dari tahap desain hingga produksi akhir memungkinkan manufaktur aditif untuk menciptakan produk yang tidak hanya efisien, tetapi juga disesuaikan dengan kebutuhan khusus pelanggan. Dengan inovasi terkini seperti Powder Bed Fusion (PBF) dan bahan baru, manufaktur aditif terus meningkatkan fleksibilitas dan akurasi produksi, membawa industri manufaktur ke era baru yang penuh potensi dan adaptabilitas.

Penulis: Christella Ludwina Novenia (mahasiswa Universitas Airlangga) 

DAFTAR PUSTAKA
A. T. Rohman, H.S.B. Rochardjo, H. (2020) ‘Journal of Mechanical Design and Testing’, 2(1). Available at: https://doi.org/http://dx.doi.org/10.22146/jmdt.v2i1.53597.
Putra, O. et al. (2022) ‘Eksplorasi Desain dan Teknik Fabrikasi Digital untuk Elemen Desain Interior Berbasis Teknologi Manufaktur Aditif’, 7(2), pp. 73–84. Available at: https://doi.org/10.12962/j12345678.v7i2.15115.
https://www.startus-insights. com/innovators-guide/additive-manufacturing-trends/

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/read/meningkatkan-efisiensi-dan-kustomisasi-dalam-manufaktur-aditif/14103/
Dicetak dari JurnalPost.com pada 07 November 2026 23:46.