
Oleh Gunawan Mu’amar Kadafi Mahasiswa Hubungan Internasional UIN Jakarta
Wacana Pergantian Nama Departemen Pertahanan Amerika Serikat
Mengapa wacana pergantian nama Departemen Pertahanan Amerika Serikat kembali mengemuka? Di tengah situasi global yang penuh ketegangan, Presiden Donald Trump justru menandatangani perintah eksekutif yang secara simbolis membuka ruang penggunaan nama Department of War sebagai sebutan sekunder bagi Department of Defense. Meski secara hukum nama resmi Departemen Pertahanan Amerika Serikat tidak berubah, langkah ini segera memantik perdebatan yang melampaui urusan administratif.
Perdebatan tersebut tidak berdiri di ruang hampa. Nama lembaga pertahanan sebuah negara adidaya memuat pesan politik, arah kebijakan, dan cara negara itu memosisikan diri di hadapan dunia. Karena itu, wacana penggunaan kembali istilah Department of War layak ditimbang secara lebih mendalam—bukan hanya apakah ia diperlukan, tetapi apa arti simbolik dan konsekuensinya bagi kebijakan luar negeri, doktrin militer, serta persepsi global terhadap Amerika Serikat.
Jejak sejarah dan makna simbolik kemenangan
Bagi para pendukungnya, istilah Department of War tidak sekadar mengingatkan pada masa lalu, tetapi merepresentasikan periode ketika Amerika Serikat tampil tegas dan keluar sebagai pemenang dalam konflik besar dunia. Presiden Trump kerap menekankan bahwa pada era Perang Dunia I dan II, tujuan militer Amerika Serikat dirumuskan secara jelas dan diakhiri dengan kemenangan yang tegas.
Dalam kerangka ini, penggunaan kembali nama Department of War dipahami sebagai upaya membangkitkan semangat juang yang dianggap memudar akibat pendekatan keamanan modern yang semakin prosedural dan defensif. Perang, dalam narasi ini, bukan semata kekerasan, melainkan simbol keberanian mengambil keputusan dan menyelesaikan konflik tanpa ambiguitas.
Pandangan tersebut diperkuat oleh pernyataan Menteri Pertahanan Pete Hegseth yang menilai bahwa isu ini bukan sekadar permainan istilah. Menurutnya, kata war mengirimkan pesan yang lebih lugas tentang orientasi militer Amerika Serikat: tidak hanya menjaga diri, tetapi memastikan kemenangan. Dengan demikian, wacana pergantian nama diposisikan sebagai penegasan identitas strategis, bukan sekadar perubahan administratif.
Lingkungan keamanan dan tuntutan ketegasan
Argumen lain yang mengemuka berkaitan dengan perubahan lanskap keamanan global. Persaingan geopolitik yang kian tajam, konflik asimetris, serta dinamika kekuatan besar dinilai menuntut sikap yang lebih tegas. Dalam konteks tersebut, istilah defense dipandang oleh sebagian kalangan kurang mencerminkan realitas ancaman kontemporer yang menuntut kesiapan ofensif dan proyeksi kekuatan.
Penggunaan istilah Department of War kemudian dimaknai sebagai sinyal politik bahwa Amerika Serikat tidak hanya siap merespons ancaman, tetapi juga bersedia bertindak secara proaktif. Nama ini menjadi pesan strategis—baik ke dalam maupun ke luar negeri—bahwa kebijakan keamanan nasional Amerika Serikat tidak lagi semata bersifat reaktif, melainkan menekankan ketegasan posisi.
Kritik atas substansi dan makna kebijakan
Meski terdengar tegas, wacana ini menuai kritik serius. Kritik pertama menyoroti sifatnya yang sangat simbolik. Secara konstitusional, perubahan nama resmi Departemen Pertahanan Amerika Serikat hanya dapat dilakukan oleh Kongres. Artinya, perintah eksekutif tersebut tidak mengubah struktur, mandat, maupun anggaran pertahanan secara nyata.
Tanpa perubahan doktrin, strategi, atau prioritas belanja militer, pergantian nama berisiko menjadi gestur retoris yang miskin dampak kebijakan. Kritik ini menegaskan bahwa ketegasan simbolik tidak selalu berbanding lurus dengan efektivitas strategis.
Kritik kedua berkaitan dengan persepsi global. Istilah Department of War membawa beban historis dan psikologis yang kuat. Di mata sebagian negara, penggunaan istilah ini dapat memperkuat citra Amerika Serikat sebagai aktor yang semakin mengedepankan solusi militer, sekaligus mempersempit ruang diplomasi di tengah situasi internasional yang rapuh.
Persoalan prioritas dan efektivitas
Selain itu, muncul pertanyaan mengenai prioritas kebijakan. Tantangan pertahanan Amerika Serikat saat ini bersifat konkret: kesejahteraan prajurit, kesiapan logistik, modernisasi teknologi, keamanan siber, serta investasi pada pencegahan konflik. Dalam konteks ini, wacana pergantian nama dinilai kurang mendesak dan berpotensi mengalihkan perhatian dari persoalan yang lebih substantif.
Perubahan nama juga bukan tanpa biaya. Penyesuaian dokumen, simbol, dan sistem komunikasi membutuhkan sumber daya yang tidak kecil. Tanpa manfaat strategis yang jelas, langkah ini berisiko dipersepsikan sebagai pemborosan yang lebih menonjolkan simbol daripada efektivitas.
Menimbang simbol dan realitas
Pada akhirnya, wacana pergantian nama Departemen Pertahanan Amerika Serikat mencerminkan ketegangan antara simbol dan realitas kebijakan. Nama memang memiliki daya pesan politik, tetapi tanpa perubahan strategi dan praktik yang nyata, ia mudah berhenti pada tataran retorika.
Karena itu, perdebatan ini menjadi relevan bukan semata karena istilah Department of War atau Department of Defense, melainkan karena pertanyaan yang lebih mendasar: apakah simbol ketegasan cukup untuk menjawab tantangan keamanan global, atau justru diperlukan keseimbangan antara kekuatan militer, kehati-hatian politik, dan diplomasi?