Kembali
Mode hapus aktif. Klik paragraf, foto, judul, tabel, atau bagian lain yang tidak ingin masuk PDF.
JurnalPost.com

Mengurai Polemik MBG: Siapa Diuntungkan, Siapa Tertinggal?

Tim Editor: Redaksi · Tanggal: 23 April 2026

MBG

Oleh : Raissa Aliifah Ananta (032) dan Windi Aura Revalina (035)

JurnalPost.com – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) hadir sebagai salah satu kebijakan ambisius pemerintah dalam menjawab persoalan gizi dan ketahanan pangan di Indonesia. Di tengah masih tingginya angka stunting dan kesenjangan akses pangan, program ini membawa harapan besar, khususnya bagi anak-anak dari keluarga rentan. Namun, seperti kebijakan besar lainnya, MBG tidak lepas dari polemik. Di satu sisi dipuji sebagai langkah progresif, di sisi lain dikritik karena dinilai belum matang secara perencanaan dan berpotensi menimbulkan ketimpangan baru. Pertanyaannya, siapa yang sebenarnya diuntungkan, dan siapa yang berisiko tertinggal?

Secara konseptual, MBG bertujuan untuk meningkatkan asupan gizi anak sekolah, sekaligus mengurangi beban ekonomi keluarga. Program ini juga diharapkan mampu menekan angka stunting yang hingga kini masih menjadi tantangan serius. Berdasarkan data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI), prevalensi stunting nasional masih berada di kisaran 21% pada tahun 2023. Angka ini memang menunjukkan penurunan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, namun masih jauh dari target yang ditetapkan pemerintah, yaitu 14%. Dalam konteks ini, MBG diposisikan sebagai intervensi langsung yang menyasar kelompok paling rentan, yaitu anak-anak usia sekolah.

Namun, efektivitas program ini tidak bisa hanya diukur dari niat baiknya. Tantangan utama terletak pada implementasi. Salah satu kritik yang muncul adalah potensi salah sasaran. Tanpa sistem pendataan yang akurat, program ini berisiko dinikmati oleh kelompok yang sebenarnya tidak membutuhkan, sementara kelompok yang benar-benar rentan justru terlewatkan. Selain itu, distribusi yang tidak merata antarwilayah juga dapat memperlebar kesenjangan, terutama antara daerah perkotaan dan pedesaan atau wilayah 3T (tertinggal, terdepan, terluar).

Dari sisi anggaran, MBG juga menimbulkan perdebatan. Program berskala nasional tentu membutuhkan biaya yang sangat besar. Beberapa estimasi menyebutkan bahwa kebutuhan anggaran dapat mencapai ratusan triliun rupiah per tahun jika diterapkan secara luas. Di tengah keterbatasan fiskal, muncul kekhawatiran bahwa program ini dapat menggeser prioritas anggaran dari sektor lain yang juga krusial, seperti pendidikan, kesehatan, dan pembangunan infrastruktur. Di sinilah muncul pertanyaan tentang efisiensi: apakah manfaat yang dihasilkan sebanding dengan biaya yang dikeluarkan?

Di sisi lain, tidak dapat dipungkiri bahwa MBG juga memiliki potensi dampak positif yang signifikan. Bagi keluarga berpenghasilan rendah, program ini dapat mengurangi beban pengeluaran harian. Bagi anak-anak, akses terhadap makanan bergizi dapat meningkatkan konsentrasi belajar, kesehatan, dan produktivitas jangka panjang. Studi global menunjukkan bahwa intervensi gizi pada usia dini memiliki dampak besar terhadap kualitas sumber daya manusia di masa depan. Dengan kata lain, MBG bukan hanya soal makan hari ini, tetapi juga investasi jangka panjang bagi bangsa.

Menariknya, program ini juga dapat memberikan efek ekonomi jika dirancang dengan tepat. Misalnya, dengan melibatkan pelaku usaha lokal seperti petani, peternak, dan UMKM dalam rantai pasok makanan. Jika bahan pangan dipasok dari produksi lokal, maka MBG tidak hanya meningkatkan gizi anak, tetapi juga menggerakkan ekonomi daerah. Namun, tanpa desain yang matang, peluang ini bisa terlewatkan, bahkan justru didominasi oleh pemasok besar yang tidak berbasis lokal.

Lalu, siapa yang diuntungkan? Secara ideal, kelompok anak-anak dari keluarga miskin adalah penerima manfaat utama. Namun, dalam praktiknya, ada kemungkinan kelompok lain juga diuntungkan, seperti penyedia jasa katering besar atau pihak-pihak yang terlibat dalam pengadaan. Sebaliknya, kelompok yang berisiko tertinggal adalah masyarakat di daerah terpencil yang sulit dijangkau distribusi, serta pelaku usaha kecil yang tidak memiliki akses ke sistem pengadaan program.

Untuk memastikan MBG benar-benar tepat sasaran dan efektif, beberapa langkah perbaikan perlu dilakukan. Pertama, pemerintah harus memperkuat basis data penerima manfaat. Integrasi data dari berbagai sumber, seperti Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS), perlu dilakukan secara berkala agar program benar-benar menyasar kelompok yang membutuhkan. Transparansi dan akuntabilitas juga harus ditingkatkan untuk mencegah kebocoran anggaran.

Kedua, desain implementasi harus adaptif terhadap kondisi daerah. Tidak semua wilayah memiliki karakteristik yang sama, sehingga pendekatan yang digunakan juga tidak bisa seragam. Di daerah perkotaan, distribusi mungkin lebih mudah dilakukan, sementara di daerah terpencil diperlukan inovasi, seperti pemberdayaan dapur komunitas atau kerja sama dengan lembaga lokal.

Ketiga, pelibatan ekonomi lokal harus menjadi prioritas. Pemerintah dapat menetapkan kebijakan yang mendorong penggunaan bahan pangan dari petani dan pelaku usaha lokal. Selain meningkatkan keberlanjutan program, langkah ini juga dapat menciptakan multiplier effect bagi perekonomian daerah. Dalam jangka panjang, MBG dapat menjadi motor penggerak ekonomi berbasis komunitas.

Keempat, evaluasi berkala harus dilakukan secara transparan. Program sebesar MBG tidak bisa berjalan tanpa mekanisme pengawasan yang kuat. Evaluasi tidak hanya melihat output, seperti jumlah makanan yang dibagikan, tetapi juga outcome, seperti perbaikan status gizi dan dampaknya terhadap prestasi belajar anak. Dengan demikian, kebijakan dapat terus disempurnakan berdasarkan data dan bukti empiris.

Pada akhirnya, polemik MBG mencerminkan dinamika dalam perumusan kebijakan publik di Indonesia. Program ini memiliki potensi besar untuk memberikan manfaat, tetapi juga mengandung risiko jika tidak dikelola dengan baik. Kunci utamanya terletak pada perencanaan yang matang, implementasi yang tepat, dan evaluasi yang berkelanjutan.

MBG bukan sekadar program makan gratis, melainkan cerminan komitmen negara terhadap kualitas generasi masa depan. Agar tidak menjadi sekadar wacana populis, program ini harus mampu menjawab pertanyaan mendasar: apakah benar-benar menjangkau mereka yang paling membutuhkan? Jika tidak, maka yang terjadi bukanlah solusi, melainkan reproduksi ketimpangan dalam bentuk yang baru.

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/read/mengurai-polemik-mbg-siapa-diuntungkan-siapa-tertinggal/24861/
Dicetak dari JurnalPost.com pada 08 November 2026 14:37.