Kembali
Mode hapus aktif. Klik paragraf, foto, judul, tabel, atau bagian lain yang tidak ingin masuk PDF.
JurnalPost.com

Mengungkap Isu Bias Gender dalam Pemberitaan Online

Tim Editor: Redaksi · Tanggal: 9 Januari 2024

JurnalPost.com – Dalam era digital yang terus berkembang, akses informasi menjadi semakin mudah melalui platform berita online. Revolusi informasi yang dihadirkan oleh platform berita online memberikan kebebasan akses informasi tanpa batas. Platform berita online menjadi jembatan tanpa batas yang menghubungkan kita dengan berbagai peristiwa global secara instan. Meskipun demikian, dibalik keragaman informasi yang dapat diakses, isu yang menonjol dalam ranah pemberitaan online adalah bias gender. Artikel ini akan menggali lebih dalam fenomena ini, mengidentifikasi dampaknya yang kompleks, dan merinci langkah-langkah konkret menuju pemberitaan yang lebih adil dan seimbang dari segi gender. Pemberitaan online sering kali tidak mencerminkan keberagaman gender dengan baik. Mulai dari pemilihan topic hingga naratif yang dibangun, Iga Radhina, seorang mahasiswa Ilmu Komunikasi Untag Surabaya seringkali mendapati adanya bias yang merugikan salah satu pihak, terutama perempuan.

Fenomena ini memunculkan pertanyaan kritis tentang bagaimana peran gender tercermin dalam pemberitaan dan bagaimana hal itu dapat mempengaruhi pandangan masyarakat. Sebagai contoh konkret, kasus video porno yang melibatkan Giselle Anastasia pada tahun 2021 menjadi sorotan di berbagai media. Dalam melaporkan kasus ini, dalam berita tersebut terlihat cenderung memusatkan perhatian pada topik seksisme yang terkait dengan Gisella Anastasia, menonjolkan aspek-aspek tertentu yang mungkin tidak hanya merugikan indvidu melainkan juga menciptakan narasi seksis yang dapat merembet ke pandangan masyarakat secara lebih luas. Dampak bias gender dalam berita online memiliki konsekuensi yang signifikan terhadap persepsi individu dan masyarakat secara keseluruhan. Tidak hanya mempengaruhi pandangan terhadap perempuan, tetapi juga dapat membatasi peran dan persepsi laki-laki, yang pada akhirnya dapat merugikan dan meningkatkan kesenjangan di berbagai bidang kehidupan. Dalam konteks ini, dampak psikolois menjadi lebih terlihat , terutama terkait dengan perkembangan citra diri dan kepercayaan diri individu.

Fenomena serupa terlihat pada situasi yang melibatkan Google, di mana perusahaan tersebut harus menghadapi denda yang signifikan sebagai akibat dari terbukti melakukan diskriminasi terhadap pegawai perempuannya. Sebagai upaya untuk menanggulangi bias gender dalam pemberitaan online, penyelesaian konkret yang diajukan adalah agar Google menyesuaikan gaji pegawai mereka. Fokus dari penyesuaian ini bukan semata-mata terkait dengan perbedaan jenis kelamin, melainkan juga pengakuan atas nilai dan kontribusi yang setara dari setiap individu. Prinsip ini mendasarkan diri pada perlakuan yang adil terhadap pegawai, tanpa memandang jenis kelamin, yang melibatkan pengetahuan dan tanggung jawab yang setara di antara laki-laki dan perempuan.

Dalam konteks ini, Dr. Merry Fridha T., M.Si., seorang dosen di bidang komunikasi dan gender di Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya, menyoroti dampak besar yang dimiliki oleh berita online terhadap opini masyarakat. Pernyataannya menegaskan bahwa upaya mengenali dan mengatasi bias gender dalam pemberitaan tidak hanya bersifat mendekati kebenaran informasi, tetapi juga menjadi elemen kunci dalam mendorong perubahan positif menuju kesetaraan gender. Oleh karena itu, pengetahuan dan pemahaman mengenai pentingnya kesetaraan gender di dalam ranah media massa menjadi aspek yang krusial dan perlu dipromosikan, tidak hanya di kalangan jurnalis tetapi juga di tingkat kebijakan perusahaan dan tingkat kesadaran masyarakat secara luas.

Melalui penekanan pada prinsip perlakuan yang adil dan setara terhadap seluruh anggota tim, tanpa memandang jenis kelamin, baik lelaki maupun perempuan, perusahaan dan media online dapat berfungsi sebagai agen perubahan positif dalam menciptakan lingkungan kerja yang benar-benar inklusif. Dengan demikian, penanganan kasus diskriminasi seperti yang terjadi pada Google dapat dijadikan sebagai pengalaman pembelajaran yang berharga dan panggilan bagi industri media dan perusahaan pada umumnya untuk memastikan kesetaraan gender di berbagai aspek, termasuk aspek pembayaran dan pengakuan atas kontribusi individu.

Oleh: IGA RADHINA

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/read/mengungkap-isu-bias-gender-dalam-pemberitaan-online/10617/
Dicetak dari JurnalPost.com pada 05 November 2026 12:36.