Kembali
Mode hapus aktif. Klik paragraf, foto, judul, tabel, atau bagian lain yang tidak ingin masuk PDF.
JurnalPost.com

MENGUAK LEMBAR-LEMBAR USANG PADA MANUSKRIP TAFSIR JALALAIN K.H. MUKALLIM DARI KANGGRAKSAN CIREBON

Tim Editor: Redaksi · Tanggal: 15 Desember 2025

JurnalPost.com – Pencarian saya terhadap manuskrip Tafsir Jalalain bermula dari rasa ingin tahu terhadap kemungkinan adanya naskah kuno dari Indramayu. Setelah pencarian awal di Google tidak menemukan hasil, saya memperluas pencarian ke wilayah Cirebon dan menemukan informasi digitalisasi naskah oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Cirebon yang mencantumkan sebuah manuskrip Tafsir Jalalain. Saya menghubungi akun Instagram dinas tersebut, lalu diarahkan kepada Pak Farihin sebagai perantara naskah tersebut dan selanjutnya kepada pemilik naskah, Ustadz Nur Khalis. Kami sepakat bertemu pada 13 Oktober 2025, dan saya pun berangkat untuk melihat langsung manuskrip yang sebelumnya hanya saya ketahui melalui internet.

Berdasarkan wawancara dengan Ustadz Nur Khalis, penulis Manuskrip Tafsir Jalalain adalah K.H. Mukallim, seorang ulama yang memiliki hubungan langsung dengan jaringan intelektual pesantren besar Nusantara. Syaikh Abdullah bin Abdul Qahhar Banten adalah seorang ulama besar banten yang hidup pada abad ke-18 dikenal melalui karya-karyanya seperti kitab “Masyahid Al-Nasik” dan “Fath Al-Mulk. Penulisan Tafsir Jalalain dilakukan ketika beliau mengikuti pengajian langsung dari gurunya, pada masa ketika penyalinan dan pendiktean merupakan metode utama transmisi ilmu.

K.H. Mukallim dikenal sebagai ulama yang produktif menulis, terutama dalam bidang dasar-dasar keislaman seperti bahasa Arab, sastra, dan tashrif. Informasi tentang jaringan dan karya beliau juga diperkuat oleh temuan para peneliti naskah seperti Dr, Ahmad Ginanjar Sya’ban. Hingga kini, warisan intelektual K.H. Mukallim masih dapat ditelusuri melalui keluarga serta manuskrip-manuskrip yang diwariskan, termasuk Tafsir Jalalain yang menjadi objek kajian ini.

Manuskrip Tafsir Jalalain kini disimpan oleh Ustaz Nur Khalis, keturunan keenam K.H. Mukallim, sebagai amanah keluarga yang diwariskan kakeknya. Pada awalnya ia belum memahami nilai penting naskah tersebut, namun setelah belajar di Pondok Pesantren Lirboyo ia mulai mengkajinya lebih serius. Baginya, merawat manuskrip ini adalah bentuk penghormatan terhadap teladan ulama terdahulu yang tetap berkarya dalam berbagai keterbatasan. Semangat tersebut mendorongnya untuk terus menjaga dan menghidupkan kembali nilai keilmuan yang terkandung dalam manuskrip warisan tersebut.

Dalam kajian filologi, terdapat dua pendekatan komplementer untuk memahami sebuah manuskrip secara utuh: kodikologi dan tekstologi. Keduanya saling melengkapi, namun memiliki fokus yang berbeda.

Kodikologi berfokus pada aspek material atau fisikal dari naskah. Studi ini mencakup segala hal yang berkaitan dengan wujud fisik manuskrip, seperti jenis alas tulis yang digunakan (misalnya kertas, daluang, atau lontar), sejarah dan asal-usul keberadaan naskah, cap kertas atau watermark, kolofon (catatan di akhir naskah yang biasanya berisi informasi penyalin dan tanggal pembuatan), serta analisis aksara atau gaya penulisan (paleografi). Dengan kata lain, kodikologi memperlakukan naskah sebagai sebuah artefak fisik yang memiliki sejarah dan karakteristik material tersendiri. (Fathurahman, 2015)

Sementara itu, tekstologi merupakan cabang dari filologi yang berpusat pada kajian isi teks itu sendiri. Jika kodikologi mempelajari “wadahnya”, maka tekstologi mendalami “isinya”. Aspek ini menelaah segala hal yang tertulis di dalam naskah, mulai dari substansi pesan, kandungan cerita, struktur bahasa, hingga makna yang terkandung di dalamnya. Tekstologi pada intinya adalah studi tentang kandungan intelektual dan naratif dari sebuah manuskrip (Syania Nur Anggraini, 2022).

Aspek Kodikologi Manuskrip

Gambar1.1 penyimpanan Manuskrip
(Sumber: Dokumentasi peneliti, Cirebon, 2025).

Manuskrip tafsir Jalalain yang ditemukan di Graksan, Cirebon, menunjukkan karakteristik khas manuskrip lokal Nusantara yang diwariskan turun-temurun. Penyimpanan awal dilakukan secara sederhana oleh pemilik sebelumnya, yakni kakeknya, yang menaruh manuskrip di bagian atap rumah. Meskipun demikian, kondisi fisiknya relatif terjaga karena kemudian dibungkus plastik dan disimpan dalam kardus oleh pewaris berikutnya, Ustadz Kholis.

Gambar 1.2 Cover Manuskrip Gambar 1.3 Isi Manuskrip
(Sumber: Dokumentasi peneliti, Cirebon, 2025). ( Sumber: Dokumentasi peneliti, Cirebon, 2025)
Gambar 1.4 Watermark kertas eropa Gambar 1.5 bagian terakhir manuskrip
(Sumber: Dokumentasi Peneliti, Cirebon, 2025) (Sumber : Dokumentasi peneliti, Cirebon, 2025)

Dari aspek material, sampul manuskrip dibuat dari kulit hewan sapi, sementara halaman-halamannya ditulis di atas kertas Eropa yang dikenali melalui keberadaan watermark tipe coat of arms (Lambang daerah atau pabrik) banyak digunakan pada manuskrip Nusantara abad ke-18 hingga ke-19. Adapun tintanya menggunakan tinta celup berbahan dasar minyak jafaron, yakni tinta tradisional yang umum dipakai para penulis naskah di Jawa pada masa itu. Pada bagian akhir manuskrip tersebut tidak terdapat sampulnya.

Dari sudut paleografi, manuskrip memperlihatkan variasi karakter tulisan, gaya penyalinan, serta catatan-catatan pegon dibawahnya yang menunjukkan proses transmisi ilmu melalui metode dikte guru, suatu praktik yang lazim sebelum akses kitab cetak meluas. Keberadaan catatan personal dan karya syarah lokal dalam manuskrip ini menguatkan nilai pentingnya sebagai sumber primer tradisi intelektual pesantren.
Secara keseluruhan, aspek kodikologi manuskrip ini memperlihatkan dinamika peredaran kertas, gaya tulis, penggunaan tinta, metode perawatan, serta konteks penyalinan yang mencerminkan realitas sosial-intelektual ulama Nusantara pada masa ketika akses terhadap kitab sangat terbatas dan proses transmisi ilmu mengandalkan hafalan, dikte, serta penyalinan manual.

ASPEK TEKSTOLOGI

Gambar 1.5 bagian surat Ar-Ra’d ayat 1-2
(Sumber: Dokumentasi Peneliti, Cirebon, 2025)

Pada aspek tekstologi, pembacaan difokuskan pada salah satu bagian manuskrip, yakni tafsir Surah ar-Ra‘d ayat 1-2. Naskah ini menunjukkan pola penulisan yang khas: ayat al-Qur’an dituliskan dengan tinta hitam, sedangkan tafsirannya ditandai dengan tinta merah untuk membedakan antara ayat dan penjelasannya. Di bawah ayat dan tafsirannya terdapat catatan tambahan beraksara Pegon yang berfungsi sebagai penjelas makna atau penanda i‘rab.

Diantara tinjauan tekstologinya sebagai berikut:

Scholia

Scholia merupakan bentuk penafsiran yang dicatat pada tiap halaman naskah, biasanya berupa tulisan tambahan yang membahas hal serupa dengan isi teks utama. Selain itu, scholia juga dapat dipahami sebagai catatan yang berkaitan dengan isi naskah, seperti koreksi teks, penanda awal juz, dan keterangan tambahan lainnya. (Ghaffar & Madura, n.d.)

a. Lafal Tambahan

Pada lafal بأنَّهُ منْ عندِهِ dengan bertulis pegon kang ngukuhakae

Pada lafal بِلِقَاءِ رَبِّكُمْ dengan bertulis pegon tetemune

Pada lafal تُوْقِنُونَ Tur kang
b) Tanda waqaf Pada manuskrip Tafsir Jalalain, penanda waqaf atau pergantian ayat ditunjukkan dengan penggunaan simbol berupa titik.

Daftar Pustaka
Fathurahman, O. (2015). Filologi Indonesia. Prenadamedia Group.
Ghaffar, M. H. A., & Madura, D. (n.d.). Karakteristik Manuskrip. 59–80.
Syania Nur Anggraini, M. M. (2022). Telaah Kodikologi dan Tekstologi pada manuskrip Mushaf Al-Qur’an Raden Soleh Lamongan. 12, 215–242.

Tentang Penulis:
Dwi Cahya Ningsih adalah mahasiswa semester 5 Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, UIN Walisongo Semarang. Ia memiliki minat besar pada kajian manuskrip, khususnya Manuskrip Al-Qur’an. Kecintaannya pada dunia traveling sering ia manfaatkan untuk menelusuri sebuah daerah demi menemukan dan mendokumentasikan Manuskrip yang sangat berharga.

Alhamdulillah, hasil perjalanannya dapat diterbitkan dalam bentuk artikel populer. Penulis sangat bersyukur dan berterima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan dukungan serta ikut andil dalam proses penerbitan tulisannya.

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/read/menguak-lembar-lembar-usang-pada-manuskrip-tafsir-jalalain-k-h-mukallim-dari-kanggraksan-cirebon/21759/
Dicetak dari JurnalPost.com pada 08 November 2026 11:17.