Oleh : Jihan Fauzizah
JurnalPost.com – Seperti yang kita tahu jika banyak pondok pesantren yang melahirkan generasi Qur’ani terutama di pondok pesantren yang memang dikhususkan untuk menghafal Al-Qur’an. Di sana para santri diberikan target dalam menghafal setiap harinya adalah satu halaman. Hal ini ditentukan karena untuk membantu para santri agar target dalam menghafal itu tertata. Karena jika tidak, mereka akan bermalas-malasan bahkan mungkin ada yang absen dalam menyetorkan hafalannya dalam satu hari.
Pondok pesantren biasanya menerapkan sistem hafalan yang kuat. Seperti mengulang hafalan sebanyak lima halaman, bahkan ada sebagian pondok yang menerapkan sistem lima juz sekali duduk. Para Kyai berharap dengan adanya sistem ini, para santri tidak hanya difokuskan dalam mengejar target hafalan, akan tetapi seberapa kuatnya hafalan tersebut.
Keutamaan dari seseorang yang hafal Al-Quran antara lainnya seperti yang diriwayatkan oleh kitab Arba’una Hadistan fii fadl Al-Qur’an di mana kitab ini banyak mengkaji tentang keutamaan-keutamaan untuk mereka yang menghafal Al-Qur’an. Di dalam sebuah hadis juga banyak yang menjelaskan tentang keutamaan bagi seseorang yang menghafal Al-Qur’an.
Beberapa keutamaannya di antara lain adalah:
1. didahulukan untuk menjadi imam salat berjamaah
2. orang tuanya akan diberikan mahkota di akhirat
3. mendapat kesempatan untuk menyelamatkan depalan anggota keluarganya
4. kedudukannya di akhirat dihitung dari seberapa banyak ayat yang ia hafal
5. para penghafal Al-Qur’an akan diistimewakan oleh Allah
Melihat dari keutamaan bagi mereka yang menghafal Al-Qur’an membuat hati bergetar, karena ternyata para Ahli Qur’an memang semulia itu di hadapan Allah. Mereka tak hanya membahagiakan orang tuanya di dunia dengan gelar Al-Hafidz yang mereka terima, namun di akhirat juga mereka mendapat posisi yang begitu mulia. Tingkat kedudukannya begitu tinggi.
Seharusnya semua itu bisa dijadikan panutan bagi setiap orang. Tapi ternyata menjadi Ahli Qur’an juga tidak mudah, karena untuk mendapatkan semua itu para penghafal Qur’an juga melewati beberapa fase dan juga tantangan. Banyak dari mereka yang gugur di tengah jalan, bahkan ada yang memilih untuk berhenti dan tidak melanjutkan hafalannya. Akan tetapi keputusan seorang santri untuk mundur dari proses menghafal Al-Qur’an biasanya bukan terjadi secara tiba-tiba, melainkan hasil dari akumulasi tekanan, kondisi psikologis, serta faktor lingkungan. Menghafal Al-Qur’an adalah aktivitas yang sangat berat secara mental, spiritual, dan disiplin. Sebagian santri merasa beban untuk terus menambah hafalan, setoran harian, dan menjaga hafalan lama terlalu besar dibanding kemampuan atau kondisi pribadi mereka saat itu. Ketika hafalan mulai sering lupa, setoran tidak lancar, atau mereka merasa tertinggal dari teman lain, rasa kecewa pada diri sendiri dapat membuat motivasi merosot tajam.
Selain itu, beberapa santri mungkin menghadapi tekanan eksternal—harapan orang tua, tuntutan lingkungan pesantren, atau perasaan takut tidak mencapai standar yang ditetapkan ustadz. Tekanan spiritual seperti rasa “tidak pantas,” “tidak kuat menjaga amanah hafalan,” atau rasa bersalah karena sering lupa juga dapat membuat mereka memilih berhenti agar tidak merasa terus terbebani. Hal ini merupakan faktor dari para santri untuk memilih mundur, terutama jika santri tersebut adalah anak pertama. Mereka diharuskan membantu kedua orangtuanya, menjadi harapan keluarga dalam melanjutkan usaha perjuangan kedua orangtuanya.
Faktor lain yang sering terjadi adalah kurangnya dukungan emosional, metode menghafal yang tidak cocok, atau kebutuhan pribadi yang tidak terpenuhi seperti kesehatan, waktu istirahat, dan keseimbangan antara akademik dan ibadah. Pada beberapa kasus, santri sebenarnya tidak kehilangan kecintaan pada Al-Qur’an, tetapi mereka merasa bahwa melanjutkan hafalan di kondisi psikologis tertentu justru membuat hubungan spiritual dengan Al-Qur’an menjadi tegang dan penuh tekanan. Mundur bagi mereka adalah cara untuk menjaga agar hubungan itu tetap positif.
Pada akhirnya, mundurnya seorang santri tidak berarti kegagalan atau kurangnya iman. Setiap orang memiliki kapasitas, ritme belajar, dan jalan spiritual yang berbeda. Proses menghafal Al-Qur’an seharusnya menjadi perjalanan hati, bukan sekadar pencapaian. Ketika tekanan lebih besar daripada ketenangan, mengambil jeda atau mundur bisa menjadi pilihan yang sehat dan bijaksana.
Dengan adanya kasus tentang para santri penghafal Al-Quran yang mundur di tengah perjalanan, bisa menjadi pembelajaran bagi setiap orang terutama yang ingin terjun dalam dunia Qur’ani. Selain keinginan, mereka juga harus menyiapkan hatinya dengan matang dalam melawan satu-persatu tantangan yang akan dilalui dalam menghafal. Seperti yang dijelaskan di awal, bahwa banyak faktor yang mempengaruhi gugurnya para santri dalam menghafal. Selain kesiapan pada dirinya sendiri, para santri juga harus bisa mendapat dukungan dari keluarga. Terkadang rasa ingin mengeluh seringkali banyak para santri rasakan, apalagi jika menemukan ayat yang panjang dan susah untuk dihafal. Ditambah jika ada masalah yang ada di pondok, hal tersebut sangat menguras banyak energi positif.
Dukungan keluarga juga berperan penting, karena jika para santri jenuh dengan hafalan yang tidak jadi-jadi. Mereka akan dibuat kelimpungan bahkan ada juga yang menangis. Di sini peran keluarga sangat dibutuhkan, di mana orang tua harus bisa memberikan nasehat dan juga pencerahan. Jika boleh, orang tua juga bisa membawa anak-anaknya untuk pergi melihat keindahan alam atau hanya sekedar keluar, supaya pikiran mereka tidak suntuk.
Kesehatan mental para santri penghafal Al-Quran begitu penting, karena menghafal satu hari satu halaman saja sangat tidak mudah. Mereka harus bisa mengorbankan waktu untuk berjuang dalam menghafal. Mendapatkan ayat demi ayat, hingga hafalan mereka tuntas.
Maka dari itu, para santri diwajibkan untuk selalu mengingat Allah dan meluruskan apa yang sudah menjadi niatnya. Selain itu, mereka juga harus bisa pandai dalam mengatur waktu. Dan jika memang mereka memiliki faktor lain seperti ekonomi, keluarga, mereka masih bisa mencari jalan lain seperti tetap meneruskan hafalannya di rumah walaupun hanya satu ayat saja. Dengan tujuan supaya hafalan mereka tetap terjaga, walaupun di tempat yang berbeda.
Ada beberapa cara yang harus diperhatikan, antara lainnya seperti
1. Muraja’ah (Mengulang Hafalan)
Adanya muraja’ah para santri diharapkan tetap menjaga hafalannya dengan artian tidak bermaksud untuk menghilangkan sebuah hafalannya. Karena jika hilang, maka mereka akan mendapat dosa besar yang bahkan tidak bisa diampuni oleh Allah.
2. Mendengarkan Murottal
Menjaga hafalan dengan cara mendengarkan murottal dari qori’ bisa memperkuat hafalan, terlebih pada saat penghafal santri putri tengah memasuki fase datang bulan. Karena sebagian ulama ada yang berpendapat bahwa seorang perempuan yang haid tidak boleh memegang bahkan menyentuh Al-Qur’an.
3. Mengikuti Kegiatan Simaaan dan Lomba
Hal ini juga dapat membantu para penghafal Al-Qur’an menjaga hafalannya, karena mereka terdorong oleh keinginan ingin memenangkan lomba sehingga mereka akan bersemangat dalam mengulang hafalannya.
4. Amalkan dalam Kehidupan Sehari-hari
Seperti halnya di saat salat, biasanya para penghafal Al-Qur’an akan membacakan perhalaman dalam satu rakaat salat. Dengan tujuan supaya hafalannya bisa tertata, dan juga konsisten dalam bermuraja’ah.