
JurnalPost.com – Pemilihan Umum 2024 diwarnai dengan beragamnya cara calon presiden dalam memasarkan dirinya. Berdasarkan Peraturan Komisi Pemilihan Umum (PKPU) Nomor 3 Tahun 2022, menjelaskan bahwa masa kampanye Pemilu berlangsung 28 November 2023 hingga 10 Februari 2024. Tahun 2024 penggunaan media sosial semakin masif di Indonesia, sehingga tidak heran apabila banyaknya cara calon presiden dalam berkampanye di media sosial.
Berdasarkan Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) menjelaskan bahwa pengguna internet di Indonesia mencapai 221 juta jiwa yang dimana penduduk Indonesia sendiri memiliki 278,8 juta jiwa pada tahun 2023. Hal ini pastinya akan menimbulkan reformasi pada tata cara berkomunikasi kepada massa yang secara masif berpindah ke media digital.
Kampanye di media digital sendiri memiliki dampak branding yang kuat, seperti “gemoy” pada calon presiden nomor urut 2, “slepet” pada calon wakil presiden nomor urut 1, dan lainnya. Hal tersebut yang membuat berwarnanya masa kampanye Pemilihan Umum tahun 2024.
Komisi Pemilihan Umum menerangkan bahwa pada Pemilihan Umum Tahun 2024 didominasi oleh Generasi Milenial dan Generasi Z sebagai pemilih. Generasi Milenial mencapai 66,82 juta orang serta Generasi Z mencapai 46,8 juta yang dimana persentasenya mencapai 56%. Seperti yang diketahui bahwa banyaknyaknya generasi-generasi milenial maupun Z yang mengakses internet lebih dari 6 jam sehari yang membuat mereka sebagai target utama dalam adanya kampanye pada media digital.
Berdasarkan hal tersebut, maka transformasi kampanye berubah untuk beralih kepada media digital. Perubahan bentuk kampanye pada media digital menjadi sebuah bukti komunikasi massa yang dilakukan oleh para calon presiden kepada masyarakat Indonesia.
Komunikasi massa yang dilakukan para calon presiden pada media digital memiliki caranya tersendiri. Sehingga ciri khas calon presiden pada media digital dalam melakukan kampanye dapat menentukan pola pikir masyarakat.
Contoh komunikasi massa pada Anies Rasyid Baswedan sebagai bentuk kampanye adalah ia memiliki akun tiktok dan sering melakukan live tiktok untuk dapat berinteraksi dengan masyarakat Indonesia lebih luas. Kemudian, juga Youtube yang biasanya dilakukan live streaming acara “Desak Anies” yang juga cara ia berkampanye.
Calon presiden nomor urut 2 juga memiliki websitenya sendiri, serta seringkali populer di media sosial dengan branding Prabowo Subianto dengan kata “gemoy”. Selain itu, juga calon wakil presidennya yang menaruh nomor whatsapp nya pada bio Instagram sebagai tempat pengaduan atau mengkritik ia.
Calon presiden nomor urut 3 pun tidak kalah dalam melakukan komunikasi massa pada media sosial. Mereka pun juga memiliki akun Youtube yang biasanya dibuat untuk live streaming kegiatan “Tabrak Prof. Mahfud” dan “Gelar Tikar Ganjar” yang juga merupakan bentuk kampanye nya.
Berdasarkan Fatma Laili Khoirun Nida yang merupakan Dosen Dakwah dan Komunikasi STAIN Kudus mengatakan bahwa, “Dalam media massa, keberadaan unsur persuasi sangat kental , dimana hampir semua kegiatan komunikasi massa dalam media massa menjadikan persuasi sebagai senjata utama dalam mempengaruhi masyarakat.” Hal tersebut membuktikan bahwa peran komunikasi massa begitu berdampak pada pola pikir masyarakat dalam menentukan pilihannya.
Berdasarkan hal tersebut apabila terjadi komunikasi massa pada media digital pastinya akan lebih masif dampaknya terhadap bagaimana masyarakat berpikir karena setiap harinya masyarakat pastinya banyak mengakses internet.
Pada masa Pemilihan Umum 2024 sudah tidak asing kembali dengan isu-isu politik yang selalu viral pada media sosial. Sehingga masyarakat menjadi lebih aware atas calon presiden yang akan mereka pilih nantinya. Hal ini membuat Pemilihan Umum 2024 menjadi sebuah warna yang berbeda dibanding dengan Pemilihan Umum sebelum- sebelumnya.
Media digital sendiri memiliki pengaruh dalam perubahan pola pikir masyarakat Indonesia yang dimana akses persebaran informasi yang semakin mudah membuat masyarakat akan lebih pintar dan paham dalam menanggapi suatu isu atau masalah. Sehingga langkah yang dilakukan oleh para calon presiden dan calon wakil presiden dalam berkampanye pada media digital dapat membantu masyarakat untuk lebih paham dan aware terhadap pilihan calon presiden.
Reformasi cara berkampanye pada media digital pada nyatanya tidak selalu mulus, seringkali ditemukan berbagai konten-konten hoaks yang disebarkan oleh pihak- pihak yang tidak bertanggung jawab. Tidak sedikit pula masyarakat yang percaya akan konten hoaks tersebut yang membuat gaduh interaksi- interaksi pada sosial media.
Komunikasi massa dalam melakukan kampanye di media digital nyatanya memiliki sisi positif serta negatifnya tersendiri. Namuun, transformasi perubahan pada cara berkampanye membuat warna Pemilihan Umum 2024 menjadi berbeda dari sebelum-sebelumnya.
Keefektifan komunikasi massa pada media digital untuk berkampanye menjadi sebuah pemahaman baru bagi masyarakat serta trobosan untuk kedepannya. Terlebih lagi calon presiden yang sudah sangat memanfaatkan sosial emdia dalam berinteraksi kepada masyarakat serta menyampaikan visi, misi, dan gagasan. Cara mereka tersendiri pastinya adalah cara yang mereka bangun untuk bisa membangun koneksi bersama dengan target yang mereka inginkan.
“Isu-isu yang diangkat oleh masing-masing calon mencerminkan kebutuhan dan harapan masyarakat, serta tantangan yang di hadapi oleh Indonesia saat ini” Jelas Hadi dan Arianto.
Adaptasi dari inovasi pada media digital dapat membuat pengaruh yang besar tidak hanya bagi pemilihan umum saja namun juga bagi demokrasi Indonesia kedepannya yang melibatkan masyarakat dalam keputusan kebijakan kepemerintahannya.
Menjadi Harapan pula untuk kedepannya mampu bersinergi dan menjadi negara yang maju karena sumber daya manusia yang sudah lebih aware dan paham atas apa yan mereka pilih dan atas apa yang terjadi nantinya di Indonesia terkait permasalahan-permasalahan yang ada. (Fahriza Rifalsyah)