Nama : Ni Made P. Gayatri Weda Sruti
NIM : 165241087
Kelas : TI-A2 ( Pengantar Teknologi Maju)
JurnalPost.com – Perjalanan manusia dalam mengembangkan teknologi telah mengalami lompatan besar yang disebut dengan istilah Revolusi Industri. Wilbert E. Moore, salah satu tokoh yang cukup berpengaruh dalam pengembangan teori struktural fungsionalisme, utamanya dalam kajian perubahan sosial, industrialisasi, dan stratifikasi sosial menjelaskan jika revolusi adalah transformasi total kehidupan bersama dalam bidang teknologi dan organisasi sosial ke arah pola-pola tradisional ekonomi dan politik didahului oleh negara-negara Barat yang telah stabil ( Sumber :Kompas.com. (2023, Juli 18). Pengertian revolusi menurut para ahli).
Revolusi dimulai saat abad ke-18, peristiwa perubahan ini disebut sebagai Revolusi Industri 1.0 yang ditandai dengan ditemukannya mesin uap. Penemuan mesin ini menggantikan tenaga manusia dan hewan dalam proses produksi. Melalui Revolusi Industri 1.0, era ini tentunya menjadi membantu dalam membuka jalan bagi perkembangan yang lebih pesat terhadap industri tekstil, besi, serta transportasi. Setelah melalui era Revolusi Industri 1.0, pada akhir abad ke-19 perkembangan teknologi mengalami lompatan yang ditandai dengan ditemukannya listrik, telepon, dan produksi massal menjadi tanda dimulainya Revolusi Industri 2.0. Dengan penemuan-penemuan baru pada era ini, pertumbuhan ekonomi mengalami lonjakan yang cukup besar, sehingga tersedianya lapangan kerja yang cukup banyak.
Revolusi Digital atau Revolusi Industri 3.0 dimulai sejak masa abad ke-20. Revolusi Digital ditandai dengan kehadiran teknologi informasi dan komunikasi berupa komputer, semikonduktor, dan internet dalam perkembangan dunia Industri. Otomatisasi menjadi kata kunci revolusi pada era ini, menggeser banyak proses manual ke arah yang lebih terintegrasi dan efisiensi. Saat Ini, manusia telah hidup dalam era Revolusi Industri 4.0, dimana konektivitas, biga data, kecerdasan buatan, dan robotika menyatu dalam mendorong kemajuan dunia yang serba otomatis dan cerdas. Pada era ini, tenaga manusia bukan lagi operator mesin, melainkan sebagai pengendali serta analisis sistem teknologi yang lebih canggih.
Dalam dunia teknik, utamanya Teknik Industri, Revolusi Industri 4.0 memunculkan tantangan dan peluang baru. Teknik industri kini tidak hanya berbicara soal produksi dan efisiensi, melainkan juga bagaimana mengintegrasikan manusia, mesin, data, dan proses bisnis dalam satu sistem yang saling mendukung. Misalnya, melalui pengendalian kualitas, perusahaan dapat menjamin produk tetap sesuai standar dan meningkatkan kepuasan pelanggan. Sementara ergonomi memastikan bahwa interaksi antara manusia dan mesin tetap aman dan nyaman.
Selanjutnya, manajemen operasi dan rantai pasok menjadi aspek vital dalam menjaga kelancaran distribusi produk dari bahan baku hingga ke tangan konsumen. Dengan bantuan teknologi seperti Machine Learning dan Big Data, perusahaan mampu memprediksi permintaan, mengatur jadwal produksi, dan menghindari pemborosan. Bahkan, tantangan global seperti keterlambatan pengiriman dapat diatasi melalui sistem rantai pasok berbasis blockchain yang transparan dan aman. Dari sisi keselamatan kerja, teknologi ikut berperan penting. Bahaya di tempat kerja seperti posisi kerja yang buruk atau tekanan psikologis, kini dapat diidentifikasi dan dikendalikan dengan sistem sensor pintar dan pendekatan ergonomis berbasis data. Melengkapi semua kemajuan ini ditandai dengan hadirnya Kecerdasan Buatan (AI). AI adalah simulasi kecerdasan manusia yang ditanamkan dalam mesin, teknologi ini memungkinkan komputer untuk berpikir, belajar, dan bertindak seperti manusia. AI tidak sekadar alat bantu, melainkan menjadi otak digital yang bisa merencanakan, menyelesaikan masalah, hingga memprediksi hasil. Dalam bisnis, AI dimanfaatkan untuk analisis keuangan, diagnosa medis, dan pengelolaan big data.
Beberapa contoh nyata dari AI adalah SIRI dan Alexa, asisten suara yang membantu dalam mempermudah beberapa kegiatan manusia. Contoh lainnya dapat dilihat pada bidang otomotif, mobil Tesla menggunakan AI untuk sistem autopilot yang memungkinkan kendaraan berjalan tanpa pengemudi. Selain itu, beberapa media sosial juga menggunakan bantuan AI dalam pengenalan wajah otomatis yang diketahui memiliki akurasi sebesar 97% Keunggulan AI dibanding kecerdasan manusia antara lain adalah kemampuannya yang konsisten, dapat direplikasi, dan bekerja lebih cepat dalam banyak kasus. Namun, manusia tetap unggul dalam hal kreativitas, intuisi, dan kemampuan memahami konteks secara luas.