
JurnalPost.com – Diketahui bahwa telaah kritis adalah proses menilai secara cermat dan sistematis hasil penelitian ilmiah atau literatur untuk menilai kebenaran, kemanfaatan dan relevansinya dalam konteks tertentu. Telaah kritis dilakukan dengan membuat ringkasan atau mengambil suatu kutipan tertentu dari sebuah literatur kemudian memeriksa faktor-faktor seperti validitas internal, kemampuan generalisasi dan relevansi.
Telaah kritis (critical review, critical appraisal) dilakukan sebagai upaya akademisi berkomunikasi secara ilmiah dengan memberikan penilaian positif (dukungan) atau negatif (sanggahan) pada suatu jurnal atau literatur akademis. Kritik yang disampaikan memiliki beberapa kriteria yang tergantung dari disiplin ilmu. Telaah kritis secara umum memiliki dua bagian dalam penyajiannya, yaitu: ringkasan dan penilaian / evaluasi.
Khusus pada bagian penilaian, telaah kritis dilakukan dengan memberikan pertanyaan evaluasi untuk suatu kutipan / bukti dari suatu literatur. Menurut The Center for Evidence-Based Management (CEBMa), suatu organisasi nirlaba independen yang didirikan oleh sekelompok ilmuwan dan praktisi manajemen internasional yang memiliki otoritas pada praktik berbasis bukti di bidang manajemen dan kepemimpinan, beberapa pertanyaan evaluasi yang umumnya diajukan, antara lain:
– Apakah bukti tersebut berasal dari sumber yang terkenal dan terpercaya?
– Apakah bukti telah dievaluasi dengan cara apa pun? Jika ya, bagaimana?
– Seberapa mutakhir buktinya? Seberapa besar ukuran efeknya?
– Implikasi apa yang dimiliki studi ini bagi praktik Anda? Apakah itu relevan?
– Bisakah hasil diterapkan ke organisasi Anda?
Secara sederhana, telaah kritis buku tersebut dengan cara yang sederhana, antara lain:
1. Meringkas atau mengkutip beberapa pernyataan atau artikel penting dari buku tersebut,
2. Memberikan 3 pertanyaan imajiner sebagai evaluasi pernyataan dari buku tersebut. Yang juga berfungsi sebagai alat penyaring awal telaah kritis (mengikuti metode yang digunakan filsuf Socrates),
3. Membandingkan dengan argumentasi atau penjelasan rasionalitas dari sumber atau literatur lain.

Dan juga memberikan kesimpulan akhir telaah kritis yaitu pendapat akhir setuju atau tidak terhadap pernyataan atau kutipan dari buku tersebut. Yang mana bila dapat memenuhi jawaban “Ya” untuk 3 pertanyaan serta sejalan dengan rasionalitas kelompok.
Berikut contoh melakukan telaah kritis (yang sederhana) terhadap suatu buku
1. If business is evil because there is something seriously wrong with the entire capitalist endeavor, and the role it plays in American democracy, then we must abolish our present economic system and adopt a better one. We must make sure that business students get a good education in Business Ethics,
–> Jika bisnis itu jahat karena dinyatakan ada sesuatu yang jahat dari pelaku usaha kapitalis, dan mempertimbangkan pengaruhnya dalam demokrasi Amerika, maka kita harus menghapus sistem ekonomi kita saat ini dan mengadopsi yang lebih baik. Kita harus memastikan bahwa para siswa yang mempelajari bisnis mendapatkan pendidikan yang baik dalam Etika Bisnis,

2. Benedict’s idea was that instead of (only) begging to support a life of prayer and meditation, his monks should work in the fields and at other tasks, to teach them humility. (His model was the arresting figure of Jesus, towel wrapped around his waist, washing the feet of his disciples—the task assigned to the lowest of the servants).
–> Ide Benediktus adalah bahwa selain memohon untuk mendukung kehidupan dengan berdoa dan meditasi, para calon pastor sebaiknya juga bekerja di ladang dan melakukan tugas lain. Hal itu bertujuan untuk mengajari mereka tentang kemanusiaan dan kerendahan hati (mengikuti panutan Yesus yang membasuh kaki murid-muridnya, tugas yang seharusnya dikerjakan oleh hamba yang paling rendah). Peraturan ini berlaku bagi semua calon pastor atau biarawan di tempat Benediktus, sehingga tugas untuk bekerja ini menjadi kebiasaan yang masuk akal. Pada awalnya, kebanyakan dari mereka adalah bangsawan, dari kelas penguasa, dan bekerja di ladang adalah hal yang paling memalukan yang dapat mereka pikirkan. Mereka melakukan pekerjaan ini sebagai bagian dari “panggilan” mereka. Panggilan ini berarti melaksanakan pesan langsung dari Tuhan untuk hidup dengan cara tertentu (hidup seperti apa yang Tuhan inginkan kepada mereka). Pekerjaan yang tadinya membeda-bedakan status sosial, menjadi suatu hal yang mulia dan baik. Peran Etika disini menyatakan bahwa bekerja keras ialah hal yang mulia dan bahkan suci. Hal ini kemudian menjadi penentu bagi pertumbuhan komersial dan peradaban industri di era selanjutnya.

3. A contract is indeed a powerful thing. We all know about moral obligations— thou shalt do no murder, thou shalt not steal, etc. Moral obligations are non-optional (you don’t have any choice about being bound by them), and everlasting— as long as families exist, there will be an obligation to take care of the children and honor the father and mother. But a contract is optional. You don’t have to agree to a contract. But if you do agree, then you are under a very strong moral obligation to fulfill it—all the stronger because it was of your own free will that you made it.
–> Kontrak merupakan hal yang sangat kuat. Kita semua telah paham tentang kewajiban atau tanggung jawab moral bahwa jangan membunuh, jangan mencuri, dll. Kewajiban moral ini bersifat non-opsional: “Kita tidak punya pilihan untuk terikat olehnya”. Kewajiban moral juga berlaku selamanya: “Selama keluarga masih ada, akan ada kewajiban orang tua untuk merawat anak-anak dan anak yang harus menghormati ayah dan ibunya”. Tetapi kontrak bersifat opsional. Anda tidak harus menyetujui kontrak. Tetapi ketika Anda telah menyetujuinya, maka Anda berada di bawah kewajiban moral yang sangat kuat untuk memenuhinya. Hal itu yang paling kuat karena itu adalah keinginan bebas Anda sendiri yang telah Anda buat.

4. Martin Luther, an ex-monk, took notice of the fact that the honest burgher, working to support his family, seemed to be doing exactly what the monks did as part of their vocation. Very well then, it must be that every person had a vocation from God, to work honestly, to produce excellent products, to earn a living in the sweat of his brow in the way for which he was best fitted.
–> Martin Luther, seorang mantan biarawan, memperhatikan bahwa seseorang yang bekerja dengan jujur dan untuk memenuhi kebutuhan keluarganya, ialah sama seperti seorang pastor yang melakukan “panggilan” mereka. Oleh karena itu, semestinya setiap orang yang mempunyai panggilan dari Tuhan, untuk bekerja dengan jujur untuk menghasilkan pekerjaan terbaik, untuk mencari nafkah dari keringatnya sendiri dengan cara yang paling sesuai untuknya.

5. Franklin provides a strong restatement of the work ethic, along with assurances that work will provide prosperity. ‘‘Keep thy shop, & thy shop will keep thee’’, he advised. He had no use for laziness: ‘‘Employ thy time well, if thou meanest to gain leisure’’, ‘‘Be always ashamed to catch thy self idle,’’ and was sure that honest toil would always yield prosperity. (don’t forget ‘‘haste makes waste,’’ and ‘‘Early to bed, early to rise, makes a man healthy, and wealthy, and wise’’).
–> Benjamin Franklin (Bapak bangsa dan negarawan dari Amerika Serikat) memberikan perumpamaan yang kuat tentang etos kerja dan jaminan bahwa hal itu akan memberikan kemakmuran:
– Jagalah toko Anda, maka toko itu akan menjagamu;
– Pergunakan waktumu dengan baik, jika ingin mendapatkan banyak waktu luang;
– Selalu malu saat mendapati dirimu menganggur;
– Yakinlah bahwa kerja keras yang jujur akan selalu menghasilkan kemakmuran;
– Jika sesuatu dilakukan dengan terburu-buru, maka hasilnya tidak akan memuaskan;
– Tidur lebih cepat dan bangun lebih awal membuat orang sehat, kaya dan bijaksana.

Demikian tips melakukan telaah kritis terhadap suatu buku, tips ini bisa juga dipergunakan untuk keperluan lain sesuai kebutuhan. Selamat mencoba !
Penulis : Amadeus Sanda Layuk