
Oleh: Danya Nur Munifah (Mahasiswa Program Studi Komunikasi Digital dan Media, Sekolah Vokasi IPB University)
JurnalPost.com – Perkembangan teknologi saat ini didasari oleh lahirnya media sosial, saat ini media sosial dapat mengubah perilaku komunikasi dan sosial dalam masyarakat, khususnya remaja. Munculnya media sosial menjadikan komunikasi dapat dilakukan tanpa batas jarak dan waktu. Powel mendefinisikan jaringan media sosial sebagai sebuah komunitas yang terhubung melalui persahabatan, nilai-nilai, hubungan, ide dan pekerjaan (Powell, 2009). Andreas Kaplan dan Michael Haenlein mendefinisikan media sosial sebagai “sebuah kelompok aplikasi berbasis internet yang dibangun atas dasar ideologi dan teknologi Web 2.0, dan yang memungkinkan pertukaran informasi (Kaplan, Andreas, Michael, 2010). Dari berbagai definisi diatas dapat disimpulkan bahwa media sosial adalah tempat platform di mana orang-orang dari budaya yang berbeda dapat terkoneksi dan berinteraksi satu sama lainnya untuk bertukar informasi.
Sosial media mengalami perkembangan yang sangat signifikan dari tahun ke tahun, sejarah sosial media diawali pada era 70-an, yaitu ditemukannya sistem papan buletin yang memungkinkan untuk dapat berhubungan dengan orang lain menggunakan surat elektronik ataupun mengunggah dan mengunduh perangkat lunak, masih dilakukan dengan menggunakan saluran telepon yang terhubung dengan modem. Lalu, pada tahun 1995 lahir situs Geo Cities yaitu pelayanan web hosting (layanan penyewaan penyimpanan data-data website agar website dapat diakses dari manapun). Pada tahun 1997 sampai tahun 1999 muncul sosial media pertama yaitu Sixdegree.com dan Classmates.com. Tidak hanya itu, di tahun tersebut muncul juga situs untuk membuat blog pribadi, yaitu Blogger. Situs ini menawarkan penggunanya untuk bisa membuat halaman situsnya sendiri. Lalu, selanjutnya pada tahun 2002 Friendster menjadi sosial media yang sangat booming dan kehadirannya sempat menjadi fenomenal. Setelah itu pada tahun 2003 sampai saat ini bermunculan berbagai sosial media dengan berbagai karakter dan kelebihan masing-masing, seperti LinkedIn, MySpace, Facebook, Twitter, Instagram, TikTok, dan sebagainya.
Komunikasi menjadi sebuah pengaruh dalam proses pengiriman pesan dari komunikator kepada komunikan dalam sebuah media sosial agar dapat mencapai makna pesan yang sama. Lantas, dari sini pola perilaku komunikasi remaja mulai terbentuk, karena seorang remaja sudah mulai memiliki kemampuan berdiskusi dan berpikir secara konseptual. Menurut data dari Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) menemukan bahwa 98 persen dari anak-anak dan remaja tahu tentang internet dan 79,5 persen diantaranya adalah pengguna internet. Sehingga, kebanyakan remaja mulai merubah pola komunikasi antara dunia nyata dan dunia maya ketika sudah mengenal media sosial, dimana media sosial ditujukan menjadi salah satu sisi lain yang remaja miliki untuk mencari informasi, mencari teman baru, dan sebagai hiburan untuk menghindari dunia nyata.
Perubahan Gaya Berbicara dan Bahasa
Ketika kita sebagai remaja sudah mengenal media sosial, maka akan terjadi perubahan gaya berbicara dan bahasa, karena sebagai remaja, kita pasti akan menyesuaikan bagaimana seharusnya berkomunikasi di dunia maya, tanpa bisa melihat sifat atau perilaku aslinya. Sehingga, media sosial menjadi lebih berpengaruh terhadap penggunaan singkatan dan emoji, karena ketika remaja melakukan komunikasi di sosial media, para remaja membutuhkan validasi untuk bisa bebas berekspresi.
Penggunaan singkatan dan emoji menjadi salah satu cara remaja untuk mengekspresikan perasaan secara online. Selain emoji memiliki ikon yang unik, penggunaan emoji dapat mencairkan suasana sehingga dapat memberikan efek yang positif kepada lawan bicara. Penggunaan singkatan juga diartikan untuk lebih mengakrabkan diri seolah-olah sudah mengenal lawan bicara dalam waktu yang lama, singkatan juga memungkinkan untuk para remaja mendapatkan kosakata baru dengan nama lain bahasa gaul agar antara komunikan dan komunikator tidak mengalami kecanggungan ketika kembali berkomunikasi satu sama lain. Tentunya, melalui hal ini banyak remaja yang bisa membentuk citra dirinya melalui media sosial, ketika remaja sebagai komunikator mampu menyiratkan energi yang besar terhadap topik yang sedang dibicarakan, serta penggunaan emoji untuk mewakili perasaannya, maka seorang komunikan akan merasa bahwa seorang remaja tersebut memiliki sifat yang ramah, mudah didekati, lebih menghargai lawan bicaranya dan dapat berempati kepada orang lain. Hal tersebut dapat menciptakan sebuah personal branding yang bagus bagi para remaja di dunia maya sehingga mampu menciptakan citra diri yang positif, ramah, dan disukai oleh banyak orang. Namun dari pembahasan diatas, pasti terdapat banyak pro dan kontra terhadap pola komunikasi remaja di dunia nyata dan dunia maya, karena sejatinya manusia adalah memiliki 2 sisi yang berbeda dan bisa jadi berlawanan, tidak ada yang mengetahui bahwa remaja yang ramah, aktif, dan disukai oleh banyak orang ternyata di dunia nyata, remaja tersebut sangat pendiam, dan tidak memiliki teman, ataupun sebaliknya, sehingga penyebab pada perubahan pola komunikasi remaja yang dipengaruhi oleh sosial media adalah salah satunya faktor lingkungan. Lingkungan pada dunia nyata yang tidak mendukung remaja untuk bebas berkomunikasi bisa berdampak negatif pada remaja, yaitu remaja menjadi kurang terampil dalam membaca ekspresi wajah dan bahasa tubuh. Sehingga, seorang remaja akan mencari tahu informasi melalui sosial media dan akhirnya menimbulkan lebih banyak perubahan gaya berbicara dan bahasa yang ia temukan pada sosial media.
Kemampuan Komunikasi Langsung
Setelah remaja lebih menggali sosial media lebih dalam, kini saatnya remaja terjalin dengan konektivitas sosial melalui media sosial, hal ini bisa membuat remaja mendapatkan pertemanan baru dan menimbulkan kemampuan komunikasi langsung dalam bersosialisasi, kita sebagai remaja yang sedang berkembang pasti memiliki banyak keinginan untuk memiliki lebih banyak teman dan koneksi melalui media sosial, dan untuk menambah lebih banyak teman, maka komunikasi sangat diperlukan. Namun, ketika pola komunikasi remaja sudah terlalu bergantung pada sosial media, maka akan mengakibatkan dampak negatif terhadap keterampilan komunikasi tatap muka, walaupun sebelumnya kemungkinan terbesar penyebabnya adalah faktor lingkungan, akan tetapi sewaktu-waktu sosial media dapat menjadi boomerang untuk para remaja, karena remaja sudah terbiasa berhubungan komunikasi tanpa melihat wajah atau sifat asli lawan bicara, maka seorang remaja bisa salah mengartikan suatu hal atau salah mengkomunikasikan sesuatu ketika melakukan komunikasi tatap muka, selain itu menjadi canggung dan kurang peka dengan keadaan sekitar, sehingga ketika pola komunikasi remaja sudah sepenuhnya terpengaruh oleh media sosial, akan susah untuk melakukan komunikasi tatap muka dengan sopan dan juga beretika, karena sudah terbiasa menerapkan 1 sisi yang hanya bisa dilihat di dunia maya. Sehingga, dibutuhkan sebuah perubahan preferensi komunikasi remaja, dimana seorang remaja harus menyeimbangkan antara dunia nyata dan dunia maya, karena sosial media tidak sepenuhnya menimpulkan pola komunikasi positif, namun bisa juga negatif, sehingga yang diperlukan adalah lebih banyak mendengar, membaca, memahami perkataan orang lain dengan baik, dan dapat menerapkan energi positif di media sosial ke dunia nyata.
Media sosial menimbulkan pengaruh besar yang dapat membuat remaja kurang terampil dalam membaca ekspresi wajah dan bahasa tubuh. Manusia menjadi tidak perlu lagi saling bertemu secara langsung untuk berkomunikasi, sehingga hal ini akan membentuk pola hidup yang semakin tertutup. Namun, refleksi yang dapat diambil oleh remaja ketika menggunakan media sosial untuk berkomunikasi dengan baik adalah, remaja mendapatkan informasi baru lebih cepat, pengetahuan baru, memperluas pertemanan, lebih bisa mengekspresikan diri, dan memiliki pola komunikasi baru yang dapat membuat remaja bisa lebih percaya diri ketika bertemu orang baru di dunia nyata.