Kembali
Mode hapus aktif. Klik paragraf, foto, judul, tabel, atau bagian lain yang tidak ingin masuk PDF.
JurnalPost.com

MBG: Menyuapi Masa Depan atau Sekedar Menabung Utang

Tim Editor: Redaksi · Tanggal: 12 Mei 2026

Artikel Opini : Kebijakan Publik & Gizi Nasional
Oleh : Azrida M (Mahasiswi S3 Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Hasanuddin)

JurnalPost.com – Ketika Presiden Prabowo Subianto meluncurkan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) pada 6 Januari 2025, ia membawa serta janji revolusi gizi terbesar dalam sejarah Indonesia. Program ini dirancang untuk memotong stunting, mendongkrak kualitas SDM, dan membuktikan bahwa negara hadir di meja makan setiap anak bangsa. Setahun lebih berjalan, hasilnya adalah campuran yang kompleks: pencapaian yang patut diapresiasi, namun diiringi kegagalan yang tidak bisa diabaikan.

Makan Bergizi Gratis merupakan program intervensi nutrisi nasional yang bertujuan menyediakan asupan makanan sehat bagi anak sekolah, santri, balita, hingga ibu hamil. Fokus utamanya bukan sekadar menghilangkan lapar, melainkan pemenuhan standar gizi—karbohidrat, protein hewani, sayur, dan buah—untuk menciptakan generasi “Indonesia Emas 2045”.

Program ini menyasar puluhan juta anak didik di seluruh pelosok negeri. Di balik layar, pelaksananya melibatkan Badan Gizi Nasional sebagai dirigen utama, berkolaborasi dengan UMKM lokal, koperasi, dan petani desa sebagai penyedia bahan baku. Secara politik, ini adalah “warisan” visi kepemimpinan Prabowo-Gibran yang kini menjadi tanggung jawab seluruh aparatur negara.

Implementasi MBG tidak boleh hanya berpusat di kota-kota besar yang logistiknya mapan. Titik krusialnya berada di daerah 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal). Di wilayah inilah angka stunting biasanya paling tinggi, namun tantangan distribusinya paling berat. Keberhasilan program ini diukur dari apakah anak di pedalaman Papua mendapatkan kualitas protein yang sama dengan anak di Jakarta.

Secara operasional, program ini mulai dijalankan secara bertahap pada awal 2025. Namun, secara substansi, hasilnya tidak akan terlihat dalam satu atau dua tahun. Ini adalah proyek jangka panjang. Dampak kognitif dan fisik dari nutrisi yang baik baru akan terukur saat anak-anak ini memasuki usia produktif satu dekade mendatang.

Data menunjukkan bahwa skor PISA (kemampuan literasi dan numerasi) siswa Indonesia masih tertinggal, dan angka stunting masih menjadi momok. Nutrisi adalah fondasi dasar pendidikan. Tanpa gizi yang cukup, otak tidak dapat menyerap pelajaran dengan maksimal. Program ini hadir untuk memutus rantai kemiskinan dan ketertinggalan intelektual yang berakar pada kekurangan gizi kronis.

Ada beberapa kritik yang muncul yaitu :

  1. Sepanjang 2025, total 12.658 siswa mengalami keracunan makanan dari MBG, menunjukkan lemahnya mekanisme penanganan kejadian luar biasa (Jakarta.Kompas 10 Feb 2026)
  2. MBG dijalankan hampir setahun penuh tanpa regulasi pelaksana yang memadai — regulasi baru terbit di kuartal keempat 2025, sementara program sudah berjalan skala nasional sejak Januari
  3. Tanpa prioritisasi penerima manfaat, program berpotensi mendorong defisit anggaran hingga 3,6% PDB, melampaui batas UU 3%

Untuk sukses, MBG memerlukan tiga pilar:

  1. Transparansi Anggaran: Dengan dana mencapai ratusan triliun, pengawasan ketat harus dilakukan agar tidak terjadi kebocoran di tingkat katering atau pengadaan bahan.
  2. Sirkular Ekonomi Lokal: Bahan pangan harus dibeli dari petani lokal, bukan impor. Ini akan menghidupkan ekonomi desa.
  3. Standarisasi Gizi: Harus ada ahli gizi di setiap satuan pelayanan untuk memastikan menu harian bukan sekadar “yang penting kenyang”, tapi memenuhi kebutuhan mikronutrien.

Penutup

Makan Bergizi Gratis adalah taruhan besar bagi masa depan Indonesia. Jika dikelola dengan integritas dan ketelitian logistik, ini akan menjadi tonggak sejarah kebangkitan SDM kita. Namun, jika jatuh ke lubang korupsi dan ketidakefisienan, ia hanya akan menjadi beban sejarah. Negara sudah menyiapkan piringnya, kini tugas kita semua memastikan isinya benar-benar bergizi, bukan sisa-sisa kepentingan.

 

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/read/mbg-menyuapi-masa-depan-atau-sekedar-menabung-utang/25262/
Dicetak dari JurnalPost.com pada 08 November 2026 12:51.