
JurnalPost.com – Tim sukses merupakan pemegang peran penting dalam membentuk suatu opini publik. Di tengah maraknya ingar-bingar pemilu 2024 beberapa waktu lalu, banyak sekali masyarakat yang tiba-tiba buta arah kebingungan pada siapakah suaranya akan jatuh. Tim khusus yang dibuat untuk turut menggemakan dukungan pada salah satu pihak ini, makin hari makin berlomba-lomba meneriakan siapa jagoannya. Bagi mereka para capres-cawapres yang sedang bertarung memenangkan takhta tertinggi di negara ini, tentu saja tidak akan bisa berjuang sendirian tanpa adanya bantuan dari para timses-nya. Bayangkan apabila timses tidak ikut serta pada festival pemilu tahun 2024 ini, sudah dipastikan para capres-cawapres akan kewalahan dan berujung buta arah layaknya para calon pemilih. Timses pada umumnya diduduki oleh para tokoh politik dari latar belakang yang beragam. Konon, perempuan juga bisa mengisi posisi tersebut.
Keterlibatan para perempuan dalam menduduki posisi timses, seharusnya memiliki peran yang signifikan karena toh perempuan juga bagian dari masyarakat bukan? Bila berbicara mengenai gender, perempuan dan lelaki sudah dipastikan memiliki sudut padang yang berbeda. Banyak orang yang berkata bahwa lelaki berpikir menggunakan akal dan logika sedangkan perempuan berpikir menggunakan hati dan perasaan. Tidak hanya sampai itu, ada pula orang yang berbicara bahwa, “pilihlah calon presiden dan wakil presiden menggunakan hati nurani Anda.” Lantas seharusnya, perempuan-lah yang lebih mengerti mengenai hal tersebut.
Lagian, saat ini sudah bukan masa Siti itu Nurbaya, tahun 2024 sudah waktunya perempuan turut andil dalam memimpin masa depan bangsa. Miris sekali rasanya, di abad ke-21 ini masih saja terdengar kasus perempuan yang dipandang sebelah mata oleh para gender seberang. Kesetaraan yang sudah diiming-imingkan sejak puluhan tahun yang lalu, nyatanya hingga kini belum juga menemukan titik keadilan. Dari banyaknya suara yang bergemuruh, berlomba-lomba berteriak mendukung kesuksesan para jagoannya, rasanya tetap suara perempuan-lah yang selalu terdengar samar-samar.
Memang, perempuan sudah mendapatkan bagiannya dalam timses di antara tiga pasangan calon tersebut, namun sepertinya masih terlalu minim apabila dibandingkan dengan para manusia yang berjenggot dan berkumis di luar sana. Lalu sampai kapan perempuan harus terus berdiam diri di balik para lelaki? Seharusnya, semakin berkembangnya zaman dan teknologi, pemikiran para pemangku jabatan di luar sana juga harus semakin berkembang. Di era seperti saat ini, perempuan sudah tidak bisa dijadikan sebagai simbol atau penarik perhatian semata. Di era ini, seluruh manusia harus mempercayai bahwa perempuan juga memiliki hakikat dan hak yang sama. Sudah saatnya para perempuan ikut andil memegang peran yang substansial bagi negara.
Di era yang sangat terpengaruh dengan dunia digital seperti saat ini, tidak jarang ditemukan perempuan-perempuan tak berdosa yang berujung dijadikan sebagai “alat peraga” politik. Mereka yang memiliki paras cantik seringkali terjerumus dengan berbagai iming-iming yang katanya, mampu menjanjikan masa depannya. Namun, mari kita tunggu hingga hasil pemilu ini berakhir, benarkah para perempuan tersebut akan benar-benar terjamin masa depannya? Perempuan juga merupakan bagian dari umat manusia, mereka juga berhak untuk turut melantangkan suaranya. Mereka juga memiliki hak yang sama untuk mengajak orang lain di luar sana untuk mengikuti jejaknya.
Keterlibatan perempuan bukan hanya perkara jumlah, tetapi juga peran dan pengakuan yang diberikan kepada mereka dalam struktur politik. Perempuan harus lebih dari sekadar simbol atau alat peraga kampanye. Mereka berhak untuk diakui sebagai pemimpin kunci dengan kontribusi substansial dalam pengambilan keputusan.
Tidak jarang ditemukan para perempuan intelektual Indonesia yang memiliki ambisi untuk turut memajukan kesejahteraan tanah airnya, tetapi tak jarang pula ambisinya terhalang oleh para lelaki tak bertanggungjawab di luar sana. Padahal belum tentu lelaki-lelaki tersebut memiliki ambisi sekuat itu dalam memajukan bangsa. Bayangkan apabila ambisi-ambisi ini harus terputus hanya karena perkara perbedaan gender, mungkin ini menjadi salah satu alasan mengapa Indonesia tak kunjung menjadi negara yang maju.
Kini sudah waktunya perempuan untuk benar-benar terjun membahas kepentingan negara ini. Isu politik bukan hanya untuk lelaki bukan? Toh, masyarakat Indonesia saja terdiri dari lelaki dan perempuan. Biarkan para perempuan tanah air ini bisa terus belajar dan tidak menganggap ilmunya hanya sebagai hal yang sia-sia. Anda semua harusnya bisa menilai dengan timpangnya jumlah posisi timses lelaki dan perempuan yang terjadi di pemilu 2024. Hal tersebut menjadi bukti yang nyata bahwa isu kesetaraan gender tetap ada di depan mata.
Rasanya sudah cukup untuk terus menganggap para perempuan itu lemah, tidak bisa apa-apa, padahal sebenarnya Anda hanya tidak tahu bagaimana wujud asli dari perempuan tersebut. Berikan mereka kesempatan untuk turut bekerja, bisa jadi saja pekerjaan Anda akan terasa jauh lebih ringan. Berikan mereka kesempatan untuk bisa bersuara dengan lantang, bisa jadi saja suara Anda akan terwakilkan. Coba berikan mereka kesempatan untuk bisa memimpin, maka bisa jadi saja perjalanan Anda akan segera menemukan titik terang.
Oleh karena itu, para pemilih dan penyuara perempuan perlu menjadi agen perubahan dengan menagih janji dan komitmen keterwakilan perempuan dari siapa yang nantinya terpilih. Politik Indonesia harus melangkah ke arah yang lebih inklusif, di mana perempuan memiliki peran yang setara dan diakui sebagai sosok yang kuat dalam proses demokratisasi.
Penulis: Anis Adinda – Komunikasi Digital dan Media Sekolah Vokasi IPB