
Penulis: Giovanni Putri Nathalia
Surabaya, JurnalPost.com – Setiap harinya, TPA Benowo menampung volume sampah yang fantastis, berkisar antara 1.600 hingga 1.700 ton. Mayoritas timbunan sampah ini—mencapai 60% sampai 70%—adalah sampah organik rumah tangga (SORTH). Tumpukan SORTH ini tidak hanya mempercepat kejenuhan lahan, tetapi juga menjadi “pabrik” gas metana (CH4), gas rumah kaca yang puluhan kali lebih berbahaya daripada karbon dioksida (CO2).
Menghadapi krisis ini, sekelompok Mahasiswa Untag Surabaya bergerak cepat, membawa solusi desentralisasi yang berkelanjutan langsung ke sumbernya: Kelurahan Benowo. Tim Pengabdian Masyarakat (Abdimas) ini sukses melaksanakan Pelatihan Budidaya Maggot Black Soldier Fly (BSF) sebagai upaya nyata mengurangi beban sampah TPA dan menciptakan peluang ekonomi sirkular lokal.
Mengapa Maggot BSF? Solusi Cepat dan Efisien
Pendekatan yang diadopsi adalah biokonversi menggunakan larva Hermetia illucens (Maggot BSF). Maggot BSF dijuluki “tentara hitam” karena keajaibannya: mereka dapat mendegradasi limbah organik dengan sangat cepat. Dalam masa budidaya yang singkat, larva ini mampu merombak dan mengurangi massa limbah hingga 50-70%.
Sebelum melatih masyarakat, tim mahasiswa Untag melakukan studi pendahuluan yang krusial. Mereka mewawancarai dan mengobservasi Bapak Taufiq, seorang peternak BSF lokal. Hasil observasi ini menjadi kunci keberhasilan pelatihan:
– Infrastruktur Sederhana: Budidaya BSF dapat direplikasi di tingkat rumah tangga hanya dengan menggunakan bak plastik atau kayu.
– Modal Awal Rendah: Kesederhanaan infrastruktur memastikan budidaya tidak memerlukan modal awal yang besar, membuatnya sangat aplikatif bagi warga RW 03 Benowo.
– Pakan Utama dari Sampah: Bapak Taufiq menggunakan SORTH sebagai pakan utama, menegaskan peran maggot sebagai agen biokonversi yang efektif.
Pelatihan Interaktif: Dari Teori ke Panen Protein
Pelatihan yang dihadiri oleh anggota Karang Taruna dan warga RW 03 ini dilaksanakan dengan metode teori dan praktik langsung. Antusiasme masyarakat sangat tinggi; dari target awal 25 peserta, kegiatan ini berhasil diikuti oleh 40 orang, termasuk ibu rumah tangga dan kelompok pemuda.
Materi dan Praktik Utama yang Disampaikan:
– Pengenalan Siklus Hidup BSF: Peserta memahami bahwa fase panen terbaik adalah larva akhir (18-21 hari) sebelum menjadi prapupa, karena memiliki kandungan protein dan lemak tertinggi.
– Pembuatan Kandang dan Biopond: Mahasiswa Untag mendemonstrasikan perakitan kandang lalat BSF (Kandang Breading) yang ideal untuk kopulasi dan bertelur. Rangka menggunakan bahan lokal (kayu/bambu), dinding menggunakan jaring kasa halus untuk mencegah lalat liar masuk, dan atap menggunakan plastik UV untuk memastikan sinar matahari cukup—faktor krusial untuk perkawinan BSF.
– Inokulasi Larva: Peserta terlibat langsung dalam pemilihan dan pra-perlakuan sampah organik, serta proses inokulasi (penyebaran) 1kg larva BSF sebagai starter ke dalam media pakan.
Dampak Ganda: Lingkungan Bersih, Dompet Terisi
Evaluasi pasca-pelatihan menunjukkan bahwa tujuan utama telah tercapai dengan sangat baik. Peserta berhasil memahami peran ganda maggot:
– Solusi Lingkungan: Mengatasi dominasi sampah organik rumah tangga dan mengurangi beban volume sampah di TPA Surabaya.
– Peluang Usaha yang Menguntungkan: Maggot BSF yang kaya protein (40-50\% protein kasar) dapat menggantikan tepung ikan mahal dalam formulasi pakan ternak (ikan, unggas). Sisa biokonversi (kasgot) diolah menjadi pupuk organik berkualitas.
“Pelatihan ini berhasil menyediakan kerangka kerja praktis dan terukur bagi masyarakat Kelurahan Benowo untuk memulai pengelolaan sampah organik secara mandiri dan berkelanjutan,” ujar salah satu anggota tim Mahasiswa Untag.
Dengan sinergi antara Mahasiswa Untag Surabaya dan Karang Taruna RW 03, Kelurahan Benowo kini memiliki model pengelolaan sampah yang mandiri, terintegrasi, dan berbasis ekonomi sirkular, mengubah limbah yang tadinya menjadi masalah lingkungan menjadi komoditas pakan bernilai tinggi.