
Penulis: Bagas Rifanto Prastyo KKN R-12/SUB KEL-2
JurnalPost.com – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya Kelompok R-12 melaksanakan seminar edukasi tanggap bencana alam banjir dan tanah longsor di Balai Desa Sumberkembar, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi potensi bencana alam. Seminar ini diselenggarakan oleh Kelompok KKN R-12 Sub Kelompok 2 yang dipimpin oleh Dosen Pembimbing Lapangan Dr. Kandidat Fiky Two Nando, S.T., M.T., dengan anggota mahasiswa Bagas Rifanto P. dari Program Studi Administrasi Negara, Arma Bimma dari Program Studi Ilmu Hukum, Yanse Cornelius Hendrick dari Program Studi Teknik Mesin, serta Syevanty dari Program Studi Ilmu Komunikasi. Dalam menghadapi potensi bencana yang kerap terjadi di wilayah tersebut. Seminar ini dihadiri oleh warga Desa Sumberkembar dari berbagai kalangan dan disambut dengan antusias.
Desa Sumberkembar dikenal sebagai wilayah yang memiliki tingkat kerawanan bencana cukup tinggi akibat kondisi geografis perbukitan serta curah hujan yang relatif tinggi. Oleh karena itu, edukasi mengenai mitigasi bencana menjadi langkah penting untuk meminimalisir risiko dan dampak yang ditimbulkan. Kegiatan diawali dengan pelaksanaan pre-test untuk mengetahui sejauh mana pemahaman awal masyarakat terkait bencana banjir dan tanah longsor.
Selanjutnya, materi disampaikan oleh Gading Kharisma selaku narasumber sekaligus Ketua KKN R-12 Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya. Materi yang diberikan meliputi Materi seminar edukasi tanggap bencana alam banjir dan tanah longsor disampaikan secara komprehensif dengan tujuan meningkatkan pemahaman dan kesiapsiagaan masyarakat Desa Sumberkembar terhadap potensi bencana di lingkungan sekitar. Penyampaian materi diawali dengan penjelasan mengenai pengertian bencana alam serta jenis-jenis bencana yang umum terjadi di Indonesia, khususnya bencana hidrometeorologi seperti banjir dan tanah longsor yang sering terjadi di wilayah perbukitan. Dalam sesi ini, masyarakat diajak untuk memahami bahwa bencana tidak hanya disebabkan oleh faktor alam, tetapi juga dapat dipengaruhi oleh aktivitas manusia yang kurang memperhatikan kelestarian lingkungan. Selanjutnya, materi difokuskan pada pembahasan bencana banjir, mulai dari penyebab terjadinya banjir seperti curah hujan yang tinggi, tersumbatnya saluran drainase, serta perubahan penggunaan lahan.

Masyarakat diberikan pemahaman mengenai dampak banjir terhadap kehidupan sosial dan ekonomi serta dikenalkan dengan tanda-tanda awal terjadinya banjir agar dapat melakukan langkah antisipasi sejak dini. Materi selanjutnya membahas tanah longsor yang meliputi pengertian, faktor penyebab, dan ciri-ciri awal, seperti retakan tanah, kemiringan pohon atau tiang, serta perubahan aliran air di lereng. Dalam penyampaiannya, Bagas Rifanto Prastyo juga menegaskan pentingnya peran masyarakat dalam melaporkan tanda-tanda awal longsor agar dapat dilakukan penanganan lebih cepat. Materi mitigasi bencana menjadi bagian penting dalam seminar ini, dengan menekankan langkah pencegahan sederhana yang dapat dilakukan di lingkungan sekitar, seperti menjaga kebersihan saluran air, menanam vegetasi penahan tanah, dan mengelola lahan lereng secara bijak. Ia menambahkan bahwa upaya mitigasi tidak selalu membutuhkan biaya besar, tetapi dapat dimulai dari kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten oleh masyarakat.
Selain itu, disampaikan pula pentingnya kesiapsiagaan bencana melalui pemahaman sistem peringatan dini, perencanaan evakuasi, dan penentuan titik kumpul yang aman. Bagas Rifanto Prastyo menekankan bahwa kesiapsiagaan bukan hanya tanggung jawab pemerintah, melainkan membutuhkan keterlibatan aktif seluruh warga desa. Materi dilanjutkan dengan pembahasan tindakan sebelum, saat, dan setelah bencana, termasuk panduan penyelamatan diri, prosedur evakuasi, serta pemulihan pasca bencana. Seluruh rangkaian kegiatan disampaikan secara komunikatif dan dilengkapi diskusi interaktif untuk mengaitkan materi dengan kondisi nyata di Desa Sumberkembar. Sebagai evaluasi, dilakukan post-test yang menunjukkan peningkatan pengetahuan dan kesiapsiagaan masyarakat terhadap bencana banjir dan tanah longsor.