
Penulis: Arma Bimma Andriansyah KKN R-12/SUB KEL-2
JurnalPost.com – Sumberkembar(10/01/2026). Balai Desa Sumberkembar, sebuah wilayah perdesaan di lereng pegunungan Jawa Timur tampak lebih hidup dari biasanya. Beberapa warga berkumpul dan berdiskusi serius namun penuh keakraban dalam membahas satu isu krusial yang selama ini menjadi bayang-bayang kehidupan mereka, yang tak lain lagi adalah banjir dan tanah longsor. Kegiatan ini bukan sekadar pertemuan seremonial, melainkan bagian dari upaya edukasi tanggap bencana yang berbasis riset dan partisipasi masyarakat.
Guna memperkuat kesiapsiagaan warga terhadap ancaman banjir dan tanah longsor, Kelompok R-12 KKN Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya menggelar seminar edukasi di Balai Desa Sumberkembar, Pacet, Mojokerto. Agenda yang diinisiasi oleh Sub Kelompok 2 ini dimentori oleh Dr. (Kand) Fiky Two Nando, S.T., M.T., selaku Dosen Pembimbing Lapangan. Tim pelaksana terdiri dari mahasiswa lintas disiplin ilmu, yakni Bagas Rifanto P. (Administrasi Negara), Arma Bimma (Ilmu Hukum), Yanse Cornelius Hendrick (Teknik Mesin), dan Syevanty (Ilmu Komunikasi).
Desa Sumberkembar dikenal sebagai kawasan rawan bencana hidrometeorologi. Curah hujan tinggi, topografi berbukit, serta kondisi lingkungan yang rentan menjadikan banjir dan longsor sebagai ancaman nyata setiap musim hujan. Selama ini, keterbatasan informasi dan minimnya kesiapsiagaan membuat warga sering kali berada pada posisi paling rentan ketika bencana datang.
Melalui sebuah seminar dan sosialisasi edukasi kebencanaan, masyarakat diajak memahami bencana tidak lagi sebagai takdir semata, melainkan sebagai risiko yang dapat dikelola. Program ini dirancang berdasarkan hasil kajian ilmiah dan pengabdian masyarakat yang menunjukkan bahwa pendidikan kebencanaan berperan signifikan dalam meningkatkan kesiapsiagaan warga desa rawan bencana .
Kegiatan edukatif ini mencakup penyuluhan mengenai penyebab banjir dan tanah longsor, pengenalan tanda-tanda awal bencana, hingga langkah-langkah penyelamatan diri sebelum, saat dan setelah bencana terjadi. Tidak berhenti pada ceramah satu arah, warga dilibatkan dalam diskusi interaktif dan berbagi pengalaman nyata yang pernah mereka alami. Pendekatan ini terbukti efektif membangun kesadaran kolektif dan rasa tanggung jawab bersama.
Berdasarkan evaluasi pre-test dan post-test terhadap peserta, terjadi peningkatan pengetahuan hingga sekitar 45 persen serta kenaikan kesiapan praktis mencapai 60 persen setelah kegiatan berlangsung. Angka ini menunjukkan bahwa edukasi yang tepat sasaran mampu mengubah sikap masyarakat dari pasif menjadi lebih proaktif dalam menghadapi risiko bencana .
Seorang peserta yang namanya disamarkan mengungkapkan bahwa sebelumnya ia hanya mengandalkan intuisi ketika hujan deras datang. Kini, ia mulai memahami pentingnya mengenali retakan tanah, aliran air yang tidak normal serta perlunya koordinasi antarwarga jika tanda bahaya muncul. “Setidaknya sekarang kami tahu harus berbuat apa, tidak hanya panik,” ujarnya.
Kegiatan ini juga memperlihatkan kuatnya kolaborasi antara masyarakat, mahasiswa pendamping dan perangkat desa. Dokumentasi kegiatan merekam kebersamaan lintas generasi sebagai simbol tumbuhnya kesadaran kolektif akan pentingnya mitigasi bencana berbasis komunitas.
Ke depan, program serupa diharapkan dapat diperluas ke dusun-dusun lain. Disinergikan dengan pemerintah daerah dan BPBD dan dikembangkan dengan teknologi pendukung seperti peta risiko dan media edukasi digital. Dengan demikian, desa-desa rawan bencana tidak lagi hanya menjadi korban, tetapi mampu berdiri sebagai komunitas yang tangguh dan siap menghadapi ancaman alam.