
JurnalPost.com – Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas 17 Agustus 1945 (UNTAG) Surabaya kembali menunjukkan implementasi pembelajaran di luar ruang kelas melalui kegiatan pendampingan kepada pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Pendampingan tersebut merupakan bagian dari mata kuliah Komunikasi Pembangunan yang bertujuan mendorong pemberdayaan masyarakat melalui pemanfaatan teknologi digital.
Kegiatan yang dilaksanakan pada Senin (29/6/2026) ini melibatkan lima mahasiswa, yakni Ahnaf, Putra, Rassel, Obi, dan Dimas, di bawah bimbingan dosen pengampu Drs. Jupriono, M.Si. Sasaran kegiatan adalah dua pelaku UMKM kuliner, yakni sebuah kedai kedai kopi dan kedai matcha, yang mendapatkan pendampingan dalam penerapan sistem pembayaran digital menggunakan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS).
Melalui pendampingan tersebut, para mahasiswa membantu pelaku usaha memahami manfaat transaksi non-tunai, mulai dari proses pendaftaran, aktivasi QRIS, hingga cara penggunaannya dalam melayani konsumen. Selain memberikan edukasi teknis, mahasiswa juga menjelaskan bagaimana pembayaran digital dapat meningkatkan kepercayaan pelanggan sekaligus memperluas peluang transaksi di era digital.
Ketua tim mahasiswa, Ahnaf, menjelaskan bahwa digitalisasi pembayaran menjadi salah satu kebutuhan yang semakin penting bagi UMKM agar mampu mengikuti perubahan perilaku masyarakat.
“Saat ini banyak konsumen yang lebih memilih transaksi secara digital. Melalui pendampingan ini kami ingin membantu pelaku UMKM agar lebih siap menghadapi perkembangan teknologi dan mampu memberikan pelayanan yang lebih praktis kepada pelanggan,” ujar Ahnaf.
Pendampingan berlangsung secara interaktif. Mahasiswa tidak hanya memberikan penjelasan mengenai penggunaan QRIS, tetapi juga mendampingi pemilik usaha saat melakukan simulasi transaksi sehingga mereka dapat memahami proses pembayaran secara langsung.
Wilson selaku pemilik kedai kopi mengaku terbantu dengan adanya kegiatan tersebut. Menurutnya, sebelumnya ia masih ragu menggunakan sistem pembayaran digital karena belum memahami proses pengoperasiannya.
“Awalnya saya masih bingung menggunakan QRIS, tetapi setelah didampingi mahasiswa ternyata prosesnya cukup mudah. Saya berharap dengan adanya pembayaran digital, pelanggan semakin nyaman dan penjualan juga meningkat,” ungkap Wilson.
Dosen pengampu mata kuliah Komunikasi Pembangunan, Drs. Jupriono, M.Si., menjelaskan bahwa kegiatan pendampingan merupakan bentuk implementasi nyata dari konsep komunikasi pembangunan yang menekankan pentingnya partisipasi masyarakat dalam proses perubahan sosial. Melalui keterlibatan langsung di lapangan, mahasiswa diharapkan mampu menghubungkan teori yang dipelajari di kelas dengan kebutuhan nyata masyarakat.
Program pendampingan ini juga menjadi bagian dari upaya mahasiswa Ilmu Komunikasi UNTAG Surabaya dalam mendukung transformasi digital sektor UMKM. Pemanfaatan teknologi pembayaran digital dinilai mampu meningkatkan efisiensi transaksi, memperluas akses pasar, serta memperkuat daya saing pelaku usaha di tengah perkembangan ekonomi digital yang terus berlangsung. Pendekatan pendampingan seperti ini sejalan dengan berbagai praktik pemberdayaan UMKM yang menekankan pentingnya literasi digital dan adopsi teknologi untuk meningkatkan daya saing usaha.