
JurnalPost.com – Siapa yang suka nonton Anime? Pasti ada dari kalian yang tau Given. Itu loh, Anime yang diadaptasi dari Manga series karangan Natsuki Kizu. Bagi yang sudah nonton, pasti dibuat bingung dan geregetan sama perilaku salah satu charakternya, Mafuyu Sato yang jarang sekali berbicara dan kesulitan mengungkapkan perasaannya. Hal tersebut membuatnya tidak berduka bahkan tidak merasakan sedih saat ia datang ke pemakaman mantan pacarnya. Ia tidak dapat mengungkapkan rasa sedih yang hinggap di hatinya. Kalian pasti bertanya tanya, “Mafuyu tuh kenapa sih? Kok dia flat banget?” Ternyata ada penjelasan tersendiri mengenai kondisi dimana seseorang kesulitan atau tidak dapat mengungkapkannya perasaanya, disebut Alexithymia.
ALEXITHYMIA
Umumnya, Alexithymia ialah ketidakmampuan seseorang mengidentifikasi emosi dan perasaan yang sedang ia rasakan. Konrath, Novin & Li, (2012) mendefiniskan Alexithymia sebagai suatu konstruk psikologi yang memiliki karakteristik kesulitan mengalami serta mendefinisikan emosi dan perasaan. Seseorang yang mengalami Alexithymia, biasanya memiliki kendala dalam bersosialisasi. Kurangnya kemampuan menidentifikasikan emosinya membuat mereka kesulitan untuk menggambarkan kondisi yang sedang dialami untuk berkomunikasi secara langsung dengan orang sekitar dan dianggap ‘aneh’ karena mereka tidak dapat merasakan senang atau sedih di suatu situasi. Orang dengan Alexithymia cenderung memiliki keterbatasan dalam merasakan dan mengenali perasaan mereka sendiri maupun memahami emosi orang lain dan lingkungan sekitarnya. Mereka tampak kurang responsif secara emosional dalam situasi tertentu.
ALEXITHEMIA ITU GIMANA SIH? DAN APA PENYEBABNYA?
Seseorang yang memiliki alexithymia akan punya masalah pada ketidakmampuan mengungkapkan emosi, berpikir terlalu logis, tidak berperasaan, juga minim empati. Trauma pada masa kecil dapat berperan sebagai salah satu pemicu gejala Alexithymia. Bentuk trauma tersebut dapat melibatkan penganiayaan, pelecehan, dan pengabaian emosional. Pengalaman tersebut dapat memberikan dampak negatif pada pola pikir anak juga mengakibatkan struktur pemahaman terhadap berbagai bentuk emosi menjadi terganggu yang menyebabkan kemampuan untuk mengenali dan mengatasi emosi dapat terpengaruh. Penyiksaan emosional juga dapat menciptakan pengaruh jangka panjang terhadap cara anak mengungkapkan perasaan mereka. Dengan kata lain, individu yang mengalami trauma masa kecil mungkin mengalami kesulitan dalam mengutarakan dan memahami perasaan mereka dengan jelas. Proses penyiksaan emosional tidak hanya merusak struktur pemahaman emosi, tetapi juga membentuk pola perilaku yang sulit untuk diekspresikan secara verbal atau fisik.
Penyebab Alexithymia yang dapat diklasifikasikan ke dalam faktor-faktor penyebab Alexithymia menurut teori Thompson (2009), yaitu faktor psikogenik, biogenik, Alexithymia primer dan Alexithymia sekunder.
1. Faktor Psikogenik
Kesalahan pola asuh dan kegagalan membangun lingkungan keluarga yang harmonis yang dilakukan oleh orang tua di masa kecil menyebabkan remaja memiliki persepsi buruk terhadap hubungan dengan orang tua, hal ini dapat berisiko yang lebih besar memiliki gejala Alexithymia. Trauma pasa masa kecil juga memiliki pengaruh langsung terhadap Alexithymia. Remaja dengan nyeri kronis juga memiliki tingkat alexithymia yang ditandai dengan kesulitan mengidentifikasi rasa sakit yang dialaminya, terlebih jika kondisi ini dialami oleh remaja yang masih mempelajari rasa dan konsep emosi baru.
2. Faktor Biogenik
Salah satu faktor alexithymia yang disebabkan oleh kelainan fisik dalam struktur otak. Remaja yang terpapar kokain sebelum lahir akan lebih rentan terhadap trauma awal kehidupan dan meningkatkan status Alexithymia yang membuat pengendalian emosi menjadi lebih buruk. Remaja dengan riwayat trauma mengalami kegagalan dalam mengidentifikasi dan memproses emosi yang mengarah pada karakteristik Alexithymia.
3. Alexithymia Primer
Alexithymia primer merupakan kondisi yang disebabkan oleh faktor neurologis atau mekanisme pertahanan yang secara signifikan dapat mengubah fungsi normal neuron dalam otak (Thompson, 2009). Faktor neurologis ini mengacu pada perubahan pada struktur saraf yang dapat memengaruhi pengenalan, pemahaman, dan ekspresi emosi. Kepribadian cenderung menjadi faktor yang lebih stabil dan sulit untuk diubah, tidak terpengaruh oleh situasi lingkungan atau kondisi psikologis seseorang.
4. Aleithymia Sekunder
Seseorang yang berada dalam tekanan stres akan cenderung menyangkal dan merepres emosi mereka. Kecemasan juga dapat mempengaruhi ketidakmampuan seseorang dalam menanggapi masalah, sehingga hal ini menyebabkan seseorang kesulitan mengidentifikasi emosi. Kelelahan emosional dan kehidupan pekerjaan yang menuntut seseorang untuk professional, tidak jarang membuat sebagian orang mengalami kesulitan dalam beradaptasi pada situasi yang menantang, hal ini juga dapat memperbesar risiko mengalami Alexithymia.
LALU, BAGAIMANA CARA MENGOBATINYA?
Penting untuk diingat bahwa Alexithymia bukanlah suatu gangguan mental yang terdaftar dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM), tetapi dapat memengaruhi kesehatan mental seseorang. Pengobatan biasanya melibatkan terapi psikologis, seperti Postmodern merupakan pendekatan konseling yang nonpatologis yang menekankan pentingnya kompetensi manusia daripada kekurang mampuan, dan kekuatan daripada kelemahannya. Salah satu contohnya ialah Narrative Theraphy, seseorang didorong untuk melihat bahwa kisah hidup mereka tidak terbatas pada pengalaman-pengalaman yang sulit atau menyakitkan saja. Mereka didorong untuk menemukan dan mengembangkan cerita-cerita yang memperkuat aspek positif, kekuatan, dan nilai-nilai yang penting bagi mereka. Proses ini membutuhkan waktu lama untuk mengenali emosi sederhana seperti senang dan bahagia. Seperti Mafuyu yang mulai merasakan emosi senang dan lega ketika ia dapat menceritakan kesedihan, kerinduan dan rasa menyesalnya dalam lagu.

Alexithymia tidak bisa dianggap hal sepele, jika seseorang tidak mampu mengungkapkan emosinya, itu bisa menyebabkan masalah serius seperti depresi dan gangguan mental lainnya. Ketidakmampuan untuk mengungkapkan emosi dengan jelas dapat menyebabkan perasaan tertekan dan tertutup yang, jika dibiarkan dapat memperburuk kesehatan mental seseorang. Selain itu, kesulitan merespons emosi orang lain juga memiliki dampak besar pada kualitas hubungan seseorang dengan lingkungannya. Kesulitan ini bisa membuat komunikasi dan interaksi sosial menjadi sulit, mempengaruhi cara individu berhubungan dengan orang lain. Hal ini bisa menyebabkan ketegangan interpersonal, kesalahpahaman, bahkan isolasi sosial, yang pada akhirnya dapat memengaruhi kesejahteraan emosional dan mental seseorang.
Oleh : Heba Nur Tasya, Mahasiswa Psikologi Universitas Brawijaya.
DAFTAR PUSTAKA
Pradnyadewi, I. G. A. A. M., & Widiasavitri, P. N. (2023). Faktor-faktor penyebab Alexithymia pada remaja: literature review. Jurnal Ilmiah Psikologi Insani, 8(1).
Irwanti, R. U., & Haq, A. H. B. (2021). Alexithymia pada Generasi Milenials. Jurnal Ilmu Sosial Humaniora Indonesia, 1(1), 61-66.
Hogeveen, J., & Grafman, J. (2021). Alexithymia. Handbook of clinical neurology, 183, 47-62.
Nurhayati, S. A. (2023). ALEXITHYMIA DAN POST MODERN THERAPY: MENGENAL DAN MENGURANGI. Jurnal Penelitian Pendidikan Indonesia, 8(1).
Rahmawati, I. M., & Halim, M. S. (2018). Alexithymia pada sampel non klinis: Keterkaitannya dengan gaya kelekatan. Jurnal Psikologi, 45(3), 200-217.