
JurnalPost.com – Kondisi bisnis PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) kini masih berada di ujung tanduk. Bahkan Wakil Menteri BUMN Kartika Wirjoatmodkjo mengatakan secara teknis Garuda Indonesia bangkrut.
Terlepas dari kebenaran apakah Garuda Indonesia memang sudah bangkrut atau belum, kondisi maskapai tersebut saat ini memang sudah babak belur. Hal ini disebabkan oleh sejumlah faktor yang membuat perusahaan berdarah-darah. Jadi ada beberapa faktor yang menunjang kerugian sebuah maskapai penerbangan PT Garuda Indonesia ini antara lain seperti
a) Utang Segunung
Wakil Menteri BUMN Kartika Wirjoatmodjo mengatakan bahwa saat ini liabilitas atau utang Garuda Indonesia totalnya mencapai US$ 9,75 miliar atau setara Rp 138,45 triliun (kurs Rp 14.200).
“Utang (Garuda) itu yang tercatat US$ 7 miliar plus utang daripada lessor yang tidak terbayar US$ 2 miliar lagi. Jadi totalnya US$ 9 miliar,” ucapnya
Sementara aset Garuda Indonesia saat ini hanya US$ 6,92 miliar. Jauh lebih rendah dibandingnya total kewajibannya itu.
b) Modal Minus Rp 39,7 T
Kondisi Garuda Indonesia semakin memprihatinkan. Sebab Ekuitas atau modal Garuda tercatat minus US$ 2,8 miliar atau setara Rp 39,7 miliar.
Modal Garuda yang negatif ini bahkan mengalahkan PT Asuransi Jiwasraya (Persero).
“Neraca Garuda saat ini mengalami negatif ekuitas US$ 2,8 miliar. Ini rekor Bapak Ibu, kalau dulu rekornya dipegang Jiwasraya sekarang Garuda,” ujar Wakil Menteri BUMN Kartika Wirjoatmodjo dalam rapat kerja dengan Komisi VI DPR, kemarin.
“Sebenarnya dalam kondisi seperti ini kalau istilah perbankan sudah technically bankrupt Pak tapi legally belum. Ini yang sekarang sedang berusaha bagaimana kita bisa keluar dari situasi yang sebenarnya secara technically bankrupt,” jelasnya lagi.
Selanjutnya laporan keuangan di tahun 2023 kuartal ke 3 dibawah ini akan kami ulas dengan ringkas dan jelas bahwasannya laporan keuangan PT Garuda Indonesia tersebut seperti apa
Maskapai penerbangan nasional PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. (GIAA) mencatat rugi bersih sebesar US$ 72,07 juta atau setara Rp 1,15 triliun (kurs Rp 15.493). Kerugian tersebut berbalik dari laba bersih senilai US$ 3,7 miliar .Akan tetapi bila dibandingkan dengan kuartal I/2023, jumlah kerugian tersebut berkurang, di mana GIAA merugi US$ 110,03 juta. Kerugian tersebut karena beban usaha yang melonjak 7,14% secara tahunan (yoy) menjadi US$ 1,99 miliar. Bila dirinci beban promosi menjadi kontributor terbesar, yakni naik 47,9% yoy menjadi US$ 149,75 juta.Pada Periode yang sama pendapatan usaha secara group hingga periode kuartal III 2023 tumbuh sebesar 48,32% yoy. menjadi US$ 2,23 miliar
Berdasarkan laporan keuangan konsolidasian Garuda Indonesia hingga akhir September 2023, pertumbuhan pendapatan usaha Garuda Indonesia tersebut turut dikontribusikan oleh pendapatan usaha perseroan dihasilkan dari penerbangan berjadwal yang meningkat 49,02% yoy menjadi US$ 1,72 miliar, penerbangan tidak berjadwal meraih pendapatan sebesar US$ 274,25 juta, dan pendapatan lainnya mencapai US$ 234,91 juta.Direktur Utama Garuda Indonesia mengungkapkan bahwa setelah berhasil merampungkan restrukturisasi utang pada akhir 2022 lalu, Garuda Indonesia terus mengakselerasikan berbagai langkah transformasi perbaikan kinerja.
Selain itu, isu supply chain di tengah gerakan masif restorasi armada berbagai maskapai global menjadi salah satu tantangan tersendiri dalam upaya kami memaksimalkan ketersediaan alat produksi.Irfan menjelaskan, ada berbagai inisiatif strategis seperti peningkatan kapasitas produksi, di mana sejak pertengahan tahun 2023 Garuda Indonesia mulai merealisasikan proses delivery 5 armada narrow body secara bertahap.
Hingga kuartal III 2023, Garuda Indonesia secara Group mengangkut sebanyak 14,28 juta penumpang, tumbuh 36,05% dibandingkan capaian angkutan penumpang pada periode yang sama di tahun sebelumnya.Pada periode yang sama, Garuda Indonesia secara individu mencatatkan pertumbuhan angkutan penumpang sebesar 55,48% yoy menjadi 5,76 juta penumpang yang terdiri dari 4,58 juta penumpang domestik dan 1,18 juta penumpang internasional yang masing-masing tumbuh 41,44% yoy dan 153,75% yoy.Lebih lanjut, tren pertumbuhan bisnis kargo Garuda Indonesia Group juga mulai terlihat melalui catatan angkutan kargo yang tumbuh sebesar 14,17% yoy.”Dengan peluang bisnis kargo yang semakin menjanjikan pasca-pandemi, pada pertengahan Oktober 2023 lalu, kami juga telah melakukan uji coba pengoperasian pesawat freighter narrow body, dengan fokus pengembangan pasar general commodity dan sektor komoditas ekspor. Harapannya, melalui uji coba tersebut, optimalisasi pasar kargo menggunakan pesawat freighter narrow body tersebut dapat segera direalisasikan mulai akhir tahun ini,” ungkapnya.
Di tengah momentum pulihnya industri aviasi global pasca-pandemi, yang turut memengaruhi perilaku wisatawan dalam merencanakan perjalanan, pertumbuhan kinerja Garuda Indonesia diproyeksikan masih akan terus bergerak secara dinamis termasuk dalam melihat dan mengukur target kinerja yang akan direalisasikan di tahun ini.”Hal tersebut yang ke depannya kami akan terus akselerasikan melalui berbagai inisiatif strategis seperti optimalisasi segmentasi pangsa pasar Low Cost Carrier bersama anak usaha Citilink, pengembangan potensi ancillary revenue pada berbagai touch point layanan penerbangan, restrukturisasi rute penerbangan secara berkelanjutan, hingga kolaborasi strategis bersama berbagai stakeholder bisnis penerbangan dalam meningkatkan value bisnis Perusahaan sebagai salah satu ekosistem group penerbangan terbesar di Indonesia,” pungkasnya
Mungkin kurang lebih seperti itu dari laporan keuangan serta penyebab kerugian maskapai penerbangan milik BUMN PT Garuda Indonesia, Mungkin dari sekian problematik semoga segera bisa diperbaiki Kembali agar PT Garuda Indonesia dapat beroperasi dengan baik dalam hal penerbangan maupun perekonomian sang maskapai tersebut.
Oleh: Dicky Febri Kurniawan
S1 Akuntansi
Universitas Pamulang