
Oleh: KHARIS AF’IDA
202010170311310 / AUDIT SEKTOR PUBLIK B
JurnalPost.com – Layanan transportasi umum berupa bus Trans Jatim sebagai pengganti dari bus hijau telah diresmikan pertamakali oleh Dinas Perhubungan Provinsi Jawa Timur dan dioperasikan pertama oleh Perum DAMRI cabang Surabaya pada bulan agustus tahun 2022 lalu, koridor I relasi perjalanan Sidoarjo – Surabaya – Gresik menjadi awal mula uji operasi unit, sebanyak 22 unit bus pertama diluncurkan.
Pendukungan optimalisasi pengembangan layanan ditambah juga dengan adanya launching aplikasi TRANSJATIM – AJAIB sebagai platform informasi dan sebagai pembayaran digital secara diresmikan oleh Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak.
Selang bebarapa bulan kemudian rute baru koridor II Surabaya – Mojokerto dan koridor III Mojokerto – Gresik juga resmi ditambahkan, karena antusiasme masyarakat juga meningkat memakai mode transportasi umum, mengingat tujuan utama Pemerintah Provinsi Jawa Timur juga pengendalian kemacetan yang ada di beberapa titik sering ditemui, kemudian juga pengurangan emisi gas polusi yang tercipta dari kendaraan pribadi masyarakat dan terakhir penggantian dari armada bus hijau yang telah melibihi 25 puluh tahun beroperasi.
“Jadi performence bus hijau kondisinya kurang layak melayani masyarakat Jawa Timur terutama di koridor II Surabaya-Mojokerto. Nah kita secara bertahap akan melakukan perbaikan layanan seiring dengam arahan Bu Gubernur,” ungkap Kadishub Jatim, Nyono.
Kualitas pelayanan publik merupakan inti dari sebuah kinerja pelayanan. Kinerja pelayanan menjadi poin penting dalam penyelenggaraan pelayanan publik karena menjadi indikator keberhasilan pelayanan yang diberikan. Indikator kinerja menjadi bagian dari kontrol terhadap kinerja yang dilakukan oleh aparatur.
Tidak lepas juga akhirnya adanya kritikan dari masyarakat karena evaluasi pelanggan juga harus diperhatikan seperti keluhan kurangnya penambahan armada bus sehingga berdesak desakan saat jam sibuk atau efektif dan masyarakat selalu dapat kondisi berdiri saat menunggu bukan di halte awal keberangkatan terminal, yang seharusnya menyediakan kapasitas penumpang sesuai tempat duduk yang ada. Lalu mengenai kurangnya penambahan titik halte pada daerah strategis, penambahan halte juga harus diimbangi perhatian secara berkala mengenai adanya kerusakan dari faktor alam maupun masyarakat di halte lainnya.
Inovasi baru mengenai kemajuan sektor transportasi di pemprov jatim perlu dikembangkan secara perlahan dan pasti seperti provinsi-provinsi maju di Indonesia ini. Masih terfokuskan kritikan masyarakat pada Trans Jatim yaitu inovasi pembangunan halte berintegrasi besar atau halte pusat transit untuk memudahkan mobilitas pelanggan dan kepentingan kenyamanan lebih untuk pelanggan, kemudian pembentukan alat pembayaran yang lebih efesien seperti adanya layanan langganan penumpang selama 1 (satu) bulan dalam bentuk kartu maupun yang lain seperti sistem barcode pada aplikasi, dan yang terakhir pastinya penambahan rute dan penambahan rute baru karena masih ada banyak sekali wilayah daerah di Jawa Timur yang belum tercover.