
Penulis: Naira Ayesha Yasmin, Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Airlangga
JurnalPost.com – Ada satu pertanyaan yang mungkin pernah terlintas di benak kita saat mengerjakan tugas atau menyelesaikan suatu pekerjaan. Bagaimana mahasiswa sepuluh tahun lalu menyelesaikan tugas kuliah tanpa bantuan kecerdasan buatan?
Pertanyaan itu terdengar sederhana, bahkan mungkin sedikit lucu. Namun di tengah semakin masifnya penggunaan AI untuk merangkum bacaan, mencari ide tulisan, memperbaiki kalimat, hingga menjawab pertanyaan yang sebenarnya masih dapat dipikirkan sendiri, pertanyaan tersebut menjadi semakin relevan.
Bukan karena AI tidak membantu. Justru sebaliknya, AI membantu terlalu banyak.
Hari ini, mahasiswa tidak lagi harus menghabiskan waktu berjam-jam menyusun kerangka tulisan dari nol. Ketika kehabisan ide, AI mampu menawarkan berbagai alternatif topik hanya dalam hitungan detik. Saat kesulitan memahami suatu konsep, AI dapat menjelaskannya dengan bahasa yang lebih sederhana dibandingkan banyak buku teks. Bahkan ketika seseorang tidak tahu harus memulai dari mana, AI dapat menyusun kerangka yang siap digunakan sebagai titik awal.
Kemudahan tersebut tentu merupakan pencapaian teknologi yang luar biasa. Namun di balik kekaguman itu, muncul pertanyaan yang patut direnungkan. Apakah manusia masih menggunakan AI sebagai alat bantu berpikir, atau justru mulai menjadikannya sebagai pengganti proses berpikir itu sendiri?
Pertanyaan ini penting karena pendidikan sejatinya tidak hanya bertujuan menemukan jawaban yang benar. Pendidikan adalah proses melatih cara berpikir. Seseorang tidak menjadi lebih cerdas semata-mata karena mengetahui banyak jawaban, melainkan karena mampu sampai pada jawaban tersebut melalui proses analisis, penalaran, dan refleksi.
Masalahnya, AI perlahan mengurangi kebutuhan untuk melewati proses tersebut.
Dahulu, kesulitan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari proses belajar. Kebingungan saat memahami materi, waktu yang dihabiskan untuk mencari referensi, hingga kebuntuan ketika menyusun argumen sering kali dianggap sebagai hambatan. Padahal, justru melalui proses itulah kemampuan berpikir berkembang. Ketika AI mampu mempersingkat seluruh tahapan tersebut menjadi hitungan detik, muncul pertanyaan penting. Apakah yang sedang dihilangkan sebenarnya hanya kesulitannya, atau justru proses belajarnya itu sendiri?
Saat sebuah pertanyaan muncul, banyak orang tidak lagi berusaha memikirkan kemungkinan jawabannya terlebih dahulu. Ketika mendapat tugas, tidak sedikit yang langsung meminta AI menyusun jawaban. Bahkan ketika diminta menyampaikan pendapat pribadi, AI sering kali menjadi tempat pertama untuk mencari sudut pandang yang dianggap paling tepat.
Di titik inilah persoalannya menjadi menarik. Yang sedang berubah mungkin bukan kemampuan teknologi, melainkan kebiasaan manusia dalam berpikir.
Jika dahulu internet digunakan untuk mencari informasi, kini AI digunakan untuk mencari kesimpulan. Jika dahulu seseorang membaca berbagai sumber sebelum membentuk opini, kini opini sering kali hadir lebih dahulu dari mesin, sementara manusia hanya memilih mana yang paling sesuai dengan pandangannya.
Lalu muncul pertanyaan yang lebih mengkhawatirkan. Jika ide pertama, kerangka pertama, bahkan argumen pertama selalu berasal dari AI, apakah kreativitas manusia akan tetap berkembang sebagaimana mestinya?
Kita sering membicarakan risiko AI terhadap lapangan pekerjaan. Kita khawatir AI akan menggantikan profesi tertentu. Namun mungkin ada pertanyaan yang jauh lebih mendasar. Bagaimana jika yang perlahan tergantikan bukan pekerjaan manusia, melainkan kebiasaan manusia untuk berpikir secara mandiri?
Tentu saja AI bukan musuh yang harus dijauhi. Menolak AI sama tidak masuk akalnya dengan menolak internet atau kalkulator. Persoalannya bukan terletak pada teknologinya, melainkan pada sejauh mana manusia menyerahkan fungsi intelektualnya kepada teknologi tersebut.
AI seharusnya membantu manusia berpikir lebih baik, bukan membuat manusia berhenti berpikir. Sebab ketika setiap ide, jawaban, dan solusi selalu berasal dari mesin, yang perlu dikhawatirkan mungkin bukan kecerdasan buatan yang semakin maju, melainkan kemampuan bernalar manusia yang perlahan mulai ditinggalkan.
Selama ini manusia menciptakan teknologi untuk meringankan pekerjaan. Dari mesin uap hingga internet, setiap inovasi hadir untuk membantu manusia melakukan sesuatu dengan lebih cepat dan efisien. Namun kecerdasan buatan menghadirkan sesuatu yang berbeda. Untuk pertama kalinya, manusia berhadapan dengan teknologi yang tidak hanya membantu bekerja, tetapi juga mampu mengambil alih sebagian proses berpikir itu sendiri.
Karena itu, pertanyaannya bukan lagi apakah AI akan menggantikan manusia. Pertanyaan tersebut mungkin terlalu sederhana untuk menggambarkan tantangan yang sebenarnya.
Pada akhirnya, ada satu pertanyaan yang jauh lebih penting. Ketika suatu hari semua jawaban dapat diberikan oleh mesin, apakah manusia masih memiliki keinginan untuk mencari jawabannya sendiri?