
Penulis :
Aftah Rahyang Satriananda Sektiyono, Ghina Aliyya Munifah, Nadia Anggraeni, Novita Kristiani, Reza Aprillia (Universitas Teknologi Yogyakarta).
MANILA, Filipina, JurnalPost.com — Ribuan anak Kopino, sebutan bagi anak hasil hubungan antara pria Korea Selatan dan perempuan Filipina, hingga kini menghadapi berbagai persoalan sosial dan ekonomi akibat penelantaran oleh ayah mereka. Fenomena yang berkembang sejak meningkatnya interaksi antara Korea Selatan dan Filipina pada era globalisasi ini terjadi karena ketimpangan kesejahteraan antara kedua negara yang mendorong sebagian perempuan Filipina menjalin hubungan dengan pria Korea Selatan dengan harapan memperoleh kehidupan yang lebih baik. Sejak awal tahun 2000-an, ribuan anak Kopino dilaporkan hidup tanpa pengakuan maupun dukungan yang memadai dari ayah biologis mereka setelah hubungan tersebut berakhir. Namun, dalam sejumlah kasus hubungan itu justru berujung pada penelantaran anak, sehingga memunculkan berbagai persoalan seperti kemiskinan, diskriminasi sosial, dan krisis identitas yang masih menjadi perhatian di Filipina hingga saat ini. Kopino merupakan istilah yang digunakan untuk menyebut anak hasil hubungan antara pria Korea Selatan dan perempuan Filipina. Banyak anak Kopino menghadapi berbagai kesulitan karena tidak memperoleh dukungan yang memadai dari ayah biologis mereka. Akibatnya, sebagan besar tanggung jawab pengasuhan dan pemenuhan kebutuhan hidup harus ditanggung oleh ibu yang sering kali berada dalam kondisi ekonomi yang terbatas.
Selain masalah ekonomi, anak-anak Kopino juga kerap mengalami diskriminasi sosial dan kesulitan dalam memperolah identitas yang jelas. Kondisi tersebut dapat memengaruhi akses mereka terhadap pendidikan, layanan sosial, serta kesempatan untuk berkembang. Berbagai organisasi sosial dan kelompok advokasi kemudian berupaya memberikan bantuan serta mendorong perlindungan hak-hak anak Kopino agar mereka memperoleh kehidupan yang lebih layak.
Kemiskinan di Filipina menjadi salah satu penyebab terbesar berkembangnya budaya Kopino di sana, dimana banyak warga Filipina yang menganggap jika mempunyai anak yang cantik atau tampan maka keadaan ekonomi mereka akan meningkat, dikarenakan anak mereka bisa dinilai lebih mudah untuk menjadi public figure seperti artis dan peserta kontes kecantikan. Budaya kontes kecantikan di Filipina sendiri merupakan warisan dari penjajahan Spanyol, lalu setelah Amerika Serikat masuk hal tersebut semakin berkembang dengan diadakannya Carnival Queen sebagai cikal bakal kontes kecantikan di Filipina sekarang. Semakin tinggi ajangnya maka semakin tinggi hadiah yang ditawarkan, selain itu dengan mengikuti kontes kontes kecantikan maka semakin tinggi kesempatan anak anak tersebut untuk dilirik oleh rumah rumah produksi untuk dijadikan sebagai artis atau talent.
Jika ditelaah berdasarkan kacamata feminisme, fenomena ini bisa disorot melalui teori feminisme interseksional, feminisme interseksional sendiri berfokus pada bagaimana pengaruh berbagai identitas sosial seperti ras, kelas, dan orientasi seksual dalam membentuk diskriminasi gender. Ketimpangan sosial dan ekonomi juga berperan penting dalam fenomena ini, dimana orang Korea yang berkunjung ke Filipina merasakan Superiority Complex, hal tersebut terjadi dikarenakan mereka merasa lebih unggul hal itu terjadi karena mereka menganggap jika orang Filipina (Asia Tenggara) derajatnya lebih rendah dari mereka sehingga menganggap bisa melakukan apa saja terhadap warga Filipina termasuk menghamilinya, mereka menganggap bahwa ibu dari anak anak mereka yang berasal dari Filipina itu miskin dan tidak mempunyai kuasa apa apa untuk menuntut mereka.
Fenomena Kopino berawal dari hubungan yang terjadi antara pria Korea Selatan dan perempuan Filipina seiring meningkatnya interaksi antara kedua negara. Dari hubungan tersebut lahir anak-anak yang kemudian dikenal sebagai Kopino. Namun, tidak semua hubungan berakhir dengan kehidupan keluarga yang stabil. Dalam sejumlah kasus, hubungan tersebut berakhir tanpa adanya tanggung jawab yang memadai dari pihak ayah terhadap anak yang lahir. Akibatnya, banyak ibu harus membesarkan anak mereka sendiri serta menghadap berbagai tantangan dalam memenuhi kebutuhan hidup keluarga. Kondisi ini kemudian berkembang menjadi isu sosial karena berdampak pada kesejahteraan, identitas, dan kehidupan sosial anak-anak Kopino. Sebagian dari mereka menghadapi stigma sosial karena tumbuh tanpa kehadiran dan pengakuan dari ayah biologis mereka yang dapat menyebabkan mereka diperlakukan berbeda oleh lingkungan sekitar. Sementara itu, sebagian lainnya mengalami kesulitan dalam memperoleh identitas yang jelas akibat terbatasnya dokumen atau pengakuan hukum dari pihak ayah, sehingga menarik perhatian berbagai pihak untuk mendorong perlindungan yang lebih baik bagi mereka.
Di balik fenomena Kopino, terdapat hubungan yang semakin erat antara Korea Selatan dan Filipina dalam berbagai bidang, mulai dari pendidikan, pariwisata, hingga aktivitas ekonomi, seperti perjalanan bisnis. Mobilitas masyarakat yang semakin tinggi membuat warga kedua negara lebih mudah bertemu dan membangun hubungan personal. Interaksi yang terus meningkat inilah yang menjadi salah satu faktor pendorong munculnya fenomena Kopino.
Hal ini juga tidak dapat dilepaskan dari adanya perbedaan dalam kondisi sosial dan ekonomi antara kedua negara. Bagi sebagian masyarakat Filipina, kedekatan dengan warga negara asing sering kali dipandang sebagai suatu peluang untuk memperbaiki taraf hidup. Fenomena serupa sebenarnya tidak hanya terjadi dalam hubungan dengan warga Korea Selatan, tetapi juga ditemukan pada interaksi dengan warga negara maju lainnya. Namun, kasus Kopino menjadi salah satu yang paling banyak mendapat perhatian karena jumlah kasusnya yang cukup besar hingga mendorong terbentuknya berbagai komunitas dan lembaga yang memberikan pendampingan bagi anak-anak Kopino di Filipina. Oleh karena itu, kasus Kopino tidak hanya mencerminkan persoalan hubungan antarindividu, tetapi juga memperlihatkan bagaimana ketimpangan dapat memengaruhi kehidupan masyarakat di tengah meningkatnya hubungan lintas negara.
Di tengah permasalahan yang dihadapi oleh anak-anak Kopino, berbagai pihak mulai dari organisasi masyarakat sipil, lembaga advokasi, sampai pemerintah Filipina terus berupaya mendorong adanya perlindungan hukum dan pendampingan sosial yang lebih layak bagi mereka. Sejumlah kasus gugatan pencarian ayah biologis bahkan telah berhasil dimenangkan di pengadilan, hal ini membuka jalan bagi anak-anak Kopino untuk mendapatkan pengakuan dan hak mereka yang selama ini terabaikan. Meskipun begitu, selama ketimpangan ekonomi antarnegara belum teratasi dan kesadaran akan tanggung jawab belum menguat, fenomena ini akan terus berlanjut dan meninggalkan generasi-generasi berikutnya. Kisah yang dialami oleh anak-anak Kopino bukan sekedar hubungan pribadi antar dua individu dari negara yang berbeda, namun cerminan nyata bagaimana persepsi global dapat merenggut hak paling mendasar yang seharusnya dimiliki oleh seorang anak yakni untuk diakui, dilindungi, dan merasakan peran kedua orang tuanya.
Daftar Pustaka :
Anggraini. Rina, “7 Alasan Mengapa Banyak Orang Filipina yang Miskin”, Diakses dari : https://economy.okezone.com/read/2022/11/07/320/2702289/7-alasan-mengapa-banyak-orang-filipina-yang-miskin?page=3
Carmeli. M. V. (2025). “Lebih dari Sekadar Mahkota, Ini Sejarah Panjang Obsesinya Filipina pada Ajang Kecantikan”. Diakses dari : https://www.beautynesia.id/life/lebih-dari-sekadar-mahkota-ini-sejarah-panjang-obsesinya-filipina-pada-ajang-kecantikan/b-304694
Kim, Se-jeong. (2017). Man Fights for Abandoned Kopino Families. The Korea Times. Diakses dari : https://www.koreatimes.co.kr/amp/southkorea/20170806/man-fights-for-abandoned-kopino-families
Maria Margarita R Lavides (2024). “Discrimination Experienced by Biracial Children in Angeles City, Philippines”, Diakses dari: https://doaj.org/article/13dc4ec6d6524fe9b6dcba3d6ffc5b5f?utm
Rohman. Nur (2025). “Teori Feminisme dalam Sosiologi: Perspektif Gender dalam Masyarakat”, Diakses dari : https://wirabuana.ac.id/artikel/teori-feminisme-dalam-sosiologi-perspektif-gender-dalam-masyarakat/
Seoul Shinmun. (2014). Kopino Father-Finding Lawsuit Wins First Case. Diakses dari :https://m.seoul.co.kr/news/society/2014/06/22/20140622800062
Soompi. (2016). Blog Reveals Identities of Korean Men Who Have Abandoned Kopino Children in the Philippines. Diakses dari : https://www.soompi.com/article/808845wpp/blog-reveals-identities-of-korean-men-who-have-abandoned-kopino-children-in-the-philippines