Kembali
Mode hapus aktif. Klik paragraf, foto, judul, tabel, atau bagian lain yang tidak ingin masuk PDF.
JurnalPost.com

☕ Kopi dan Kafe: Ritual Kecil untuk Me Time

Tim Editor: Redaksi · Tanggal: 31 Oktober 2025

Oleh: Nazulla Raflesia Putri

JurnalPost– Generasi Z, lahir antara 1995–2010, tumbuh di era di mana layar digital bukan lagi alat, tapi bagian dari hidup mereka. Media sosial, streaming platform, dan teknologi instan membentuk cara mereka berinteraksi, belajar, dan mengekspresikan diri. Fenomena yang paling terlihat adalah apa yang sering disebut sebagai pencarian “vibe”: usaha Gen Z menemukan momen tenang, estetis, dan bermakna di tengah kesibukan dunia modern.

Bagi banyak orang dewasa, gaya hidup Gen Z kadang terlihat santai, estetik, dan bahkan konsumtif. Foto kafe minimalis, kopi di tangan, dan playlist lo-fi seolah menjadi simbol identitas mereka. Tapi jika kita menelisik lebih dalam, tren ini bukan sekadar “gaya-gayaan”. Ini adalah cara generasi ini mengekspresikan diri dan menjaga kesehatan mental di dunia yang terlalu cepat.

🌿 Estetika sebagai Ekspresi Identitas
Di Instagram atau TikTok, feed Gen Z sering dipenuhi foto dengan palet warna pastel, flat-lay makanan dan minuman, serta caption reflektif yang singkat tapi menyentuh. Estetika ini bukan sekadar visual semata, melainkan cara mereka membentuk identitas.
Menurut survei Populix (2025), sekitar 60% Gen Z Indonesia menganggap estetika digital membantu mereka merasa lebih percaya diri dan terhubung dengan komunitas sejenis. Estetika di sini berperan sebagai bahasa non-verbal yang menunjukkan siapa mereka, apa yang mereka sukai, dan bagaimana mereka ingin dilihat dunia.

Namun, paradoks muncul ketika tekanan untuk tampil “sempurna” di media sosial membuat sebagian Gen Z mengalami stres dan kecemasan. Fenomena ini disebut performative calm, yaitu ketenangan yang dipamerkan daripada dirasakan. Banyak dari mereka yang berusaha menunjukkan keseharian santai, tapi di balik layar, mereka merasa terbebani oleh ekspektasi sosial.

☕ Kopi dan Kafe: Ritual Kecil untuk Me Time

Fenomena kafe di Indonesia menjadi bukti nyata bagaimana Gen Z memanfaatkan ruang publik untuk self-care. Kopi bukan sekadar minuman; ia menjadi ritual untuk menenangkan pikiran dan menemukan momen pribadi di tengah hiruk-pikuk kota.

Seorang mahasiswa di Jakarta bercerita: “Pergi ke kafe, duduk di pojok sambil mendengarkan lo-fi itu kayak recharge. Rasanya seperti punya waktu untuk sendiri meski tetap terkoneksi dengan dunia digital.”

Data Populix (2025) juga menunjukkan 65% Gen Z rutin mengunjungi kafe setidaknya 1–2 kali seminggu, sebagian besar untuk melepaskan stres atau mengerjakan tugas. Kafe bukan sekadar tempat nongkrong, tapi ruang untuk beristirahat mental — bentuk soft lifestyle yang sedang tren di kalangan mereka.

💻 Tantangan Dunia Digital
Di sisi lain, Gen Z tidak bisa lepas dari dunia digital. Media sosial, aplikasi pesan instan, dan platform streaming adalah bagian integral hidup mereka. Tapi konektivitas yang konstan membawa konsekuensi: kelelahan mental, perbandingan sosial, dan ekspektasi yang tidak realistis.

Fenomena FOMO (fear of missing out) masih terasa nyata. Menurut survei Asosiasi Psikologi Indonesia (2024), 7 dari 10 Gen Z merasa perlu tampil produktif dan bahagia di media sosial meski kenyataannya tidak selalu begitu. Hal ini menciptakan ketegangan antara identitas digital dan realitas pribadi.

Banyak Gen Z mencoba mengimbanginya dengan ritual digital detox, journaling, dan meditasi ringan. Namun, seperti banyak tren lain, praktik self-care ini kadang menjadi komoditas yang dijual sebagai gaya hidup, bukan kebutuhan emosional. Lilin aromaterapi, paket wellness retreat, hingga konten self-care aesthetic menjadi simbol status sekaligus cara mengekspresikan diri.

🧘 Soft Lifestyle: Tren atau Kebutuhan?
Tren soft lifestyle atau calm living di kalangan Gen Z bukan sekadar mode, tapi jawaban atas tekanan hidup modern. Mereka mencari keseimbangan antara produktivitas, eksistensi digital, dan kesehatan mental.
Namun, ada risiko ketika tren ini hanya menjadi simbol visual. Self-care yang hanya ditunjukkan di media sosial bisa menimbulkan perasaan gagal ketika tidak tercapai. Tantangan sebenarnya adalah menemukan kesejahteraan yang autentik, bukan sekadar terlihat “calm” di feed Instagram.
Meski begitu, ada sisi positif yang tak bisa diabaikan: Gen Z mulai berani mengakui burnout, overthinking, dan kecemasan. Mereka mengubah percakapan soal kesehatan mental menjadi hal yang lebih terbuka, yang dulunya dianggap tabu di masyarakat Indonesia.

💬 Opini: Memahami Gen Z Lebih Dalam
Sebagai generasi yang tumbuh di tengah era digital, Gen Z mengajarkan kita bahwa estetika dan kesenangan sederhana bukan sekadar gaya hidup, tapi juga ritual kecil untuk menjaga mental.

Mereka hidup di dua kutub: ingin tampil estetis dan produktif, tapi juga mencari ruang untuk merasa utuh. Setiap foto kopi di kafe, playlist lo-fi, atau feed pastel bukan sekadar untuk dilihat, tetapi untuk mengatur diri di dunia yang cepat dan menuntut.
Daripada menghakimi Gen Z yang terlihat santai dan estetik, penting bagi kita untuk memahami konteks di balik itu. Mereka sedang berusaha menyeimbangkan eksistensi digital dengan kebutuhan mental, dan itu adalah sesuatu yang patut diapresiasi.

“Gen Z tak hanya mencari tempat yang indah untuk difoto, tapi ruang yang tenang untuk merasa utuh.”

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/read/kopi-dan-kafe-ritual-kecil-untuk-me-time/20517/
Dicetak dari JurnalPost.com pada 08 November 2026 10:41.