Oleh: Nabil Bakran Sudarjat, Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media Sekolah Vokasi IPB
JurnalPost.com – Kilas Balik Perkembangan Komunikasi: Dari Media Tradisional hingga Digital
Dahulu, komunikasi awalnya hanya merupakan cara bagi manusia untuk berbagi ide, gagasan, keinginan, dorongan, dan lain-lain, dengan tujuan agar mereka dapat terhubung satu sama lain. Pada tahap awal perkembangan, komunikasi terbatas pada interaksi langsung antar manusia melalui percakapan atau penyampaian gagasan secara lisan dan tatap muka. Tujuan utamanya adalah untuk memberikan edukasi, membangun kepercayaan, dan mempengaruhi perasaan orang lain. Namun, seiring berjalannya waktu, komunikasi mengalami perkembangan yang signifikan. Pada zaman Kekaisaran Romawi, Julius Caesar mengenalkan Acta Diurna, sebuah papan pengumuman yang memperluas cara penyampaian gagasan kepada masyarakat melalui tulisan. Perkembangan ini terus berlanjut dengan penemuan kertas, mesin cetak, dan munculnya surat kabar pertama. Seiring dengan itu, kemajuan teknologi membawa inovasi baru dalam komunikasi, termasuk radio, film, televisi, dan berbagai media lainnya.
Perkembangan komunikasi juga tak luput dari perkembangan teknologi. Keduanya seolah menjadi bagian yang saling terikat, dimana teknologi merubah cara kita berkomunikasi dengan signifikan. Berawal dari masa prasejarah, dimana komunikasi dilakukan dengan menggambarkan kehidupan mereka dengan melukiskan gambar-gambar di dinding-dinding gua tempat tinggal mereka. Mereka mulai mengenali objek-objek di sekitar lingkungan mereka dan merekamnya dalam bentuk lukisan. Komunikasi pada masa ini terbatas pada suara-suara seperti dengusan dan isyarat tangan.
Manusia menciptakan dan menggunakan alat-alat yang menghasilkan bunyi dan isyarat, seperti gendang, terompet yang terbuat dari tanduk binatang, dan isyarat asap untuk memberi peringatan tentang bahaya. Dilanjutkan pada 1455, untuk pertama kalinya Johann Gutenberg mengembangkan mesin cetak, pada 1877 Alexander Graham Bell menciptakan dan mengembangkan telepon yang dipergunakan pertama kali secara umum, dan terus berkembang hingga komunikasi di era digital seperti sekarang ini.
Mencermati Transformasi Komunikasi dalam Era Digital: Tantangan dan Peluang
Komunikasi massa telah mengalami perubahan besar sejalan dengan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi di era digital. Era digital telah mengubah secara mendasar cara informasi disampaikan, diterima, dan dikonsumsi. Perubahan ini memberikan peluang baru sekaligus tantangan yang besar bagi praktik dan transformasi komunikasi massa di era digital.
Salah satu tantangan yang dihadapi adalah lonjakan informasi, yang sering disebut sebagai “banjir informasi”. Fenomena ini dapat menyebabkan burnout dan kesulitan dalam pengambilan keputusan karena jumlah informasi yang berlebihan. Selain itu, penyebaran luas berita palsu di media sosial juga menjadi dampak yang dirasakan. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk melakukan verifikasi dan mencari informasi yang kredibel sebelum mengonsumsi atau menyebarkan informasi tersebut.
Tantangan yang timbul terhadap pola komunikasi yaitu menurunnya kemampuan berkomunikasi yang efektif. Walaupun kita dapat terhubung dengan banyak orang melalui platform digital, tak jarang individu mengalami penurunan kemampuan berkomunikasi yang efektif dalam interaksi tatap muka. Penggunaan pesan singkat, emoji, dan media sosial telah menggantikan bentuk komunikasi yang lebih dalam dan emosional. Dampaknya, orang mungkin mengalami kesulitan dalam menyampaikan pikiran, emosi, dan pesan mereka secara akurat dalam interaksi langsung, yang pada akhirnya dapat menyebabkan ketidakpahaman dan ketegangan antar individu.
Dibalik tantangan yang ada, terdapat banyak peluang yang kita dapatkan. Era digital membawa berbagai peluang dalam bidang komunikasi yang belum pernah terjadi sebelumnya. Beberapa peluang utama seperti terhadap informasi. Dengan internet, informasi menjadi lebih mudah diakses dan tersebar luas. Individu dapat dengan cepat mencari dan memperoleh informasi tentang berbagai topik dari berbagai sumber, memungkinkan pertukaran pengetahuan yang lebih besar. Teknologi digital memungkinkan orang untuk terhubung dan berkomunikasi dengan individu dari seluruh dunia secara real-time melalui platform media sosial, obrolan video, dan lainnya. Hal ini membuka peluang untuk kolaborasi lintas budaya dan pertukaran ide yang luas.
Memahami Fenomena Berita Palsu: Penyebab dan Dampaknya
Hoax adalah informasi atau berita yang tidak benar atau palsu. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), hoax didefinisikan sebagai berita yang tidak benar. Hoax merujuk pada informasi yang sengaja dibuat atau dimanipulasi untuk menyembunyikan kebenaran. Dengan kata lain, hoax adalah usaha untuk memutarbalikkan fakta dengan menggunakan informasi yang tampaknya meyakinkan tetapi tidak dapat dipastikan kebenarannya. Menurut Lynda Walsh dalam bukunya “Sins Against Science,” hoaks adalah kabar yang tidak benar, istilah ini berasal dari bahasa Inggris dan mulai muncul sejak era industri, diperkirakan pertama kali muncul pada tahun 1808. Chen dan Ishak menggambarkan hoaks sebagai informasi yang menyesatkan dan berbahaya karena menyampaikan informasi palsu sebagai kebenaran.
Menurut data Kemenkominfo, ada sekitar 800.000 situs di Indonesia yang telah terindikasi sebagai penyebar informasi palsu. Kemenkominfo menyebut internet telah salah dimanfaatkan oknum tertentu untuk keuntungan pribadi dan kelompoknya. Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel) dan Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) menyatakan bahwa penyebaran berita hoax disebabkan oleh tingkat literasi informasi digital yang masih rendah di masyarakat Indonesia melalui internet. Hal tersebut rasanya menjadi penyebab utama mengapa informasi atau berita palsu semakin menyebarluas.
Penyebaran berita hoax memiliki dampak yang signifikan dalam masyarakat. Pertama-tama, hoax dapat menyebabkan kebingungan dan ketidakpercayaan di antara masyarakat. Informasi yang palsu atau tidak akurat dapat membingungkan orang dan membuat mereka ragu terhadap kebenaran informasi yang mereka terima. Selain itu, berita hoax juga dapat menyebabkan ketegangan sosial dan konflik antarindividu atau kelompok. Ketika informasi palsu menyebar dengan cepat dan menciptakan polarisasi dalam masyarakat, hal ini dapat memicu ketegangan dan konflik yang merugikan bagi stabilitas sosial. Selanjutnya, dampaknya bisa berdampak negatif terhadap keputusan politik dan kebijakan publik. Jika berita palsu memengaruhi opini publik dan pembuat kebijakan, hal ini dapat mengarah pada keputusan yang tidak tepat atau tidak efektif. Terakhir, penyebaran berita hoax dapat merusak reputasi individu, lembaga, atau
organisasi yang menjadi sasaran berita palsu tersebut. Dengan demikian, dampak dari hoax bukan hanya merugikan secara individu, tetapi juga secara kolektif dalam masyarakat.
Implikasi Berita Palsu terhadap Kepercayaan Publik dan Demokrasi
Penyebaran berita palsu memiliki implikasi yang serius terhadap kepercayaan publik dan proses demokrasi. Pertama, berita palsu dapat merusak kepercayaan masyarakat terhadap lembaga dan institusi yang bertanggung jawab atas penyampaian informasi yang akurat, seperti media massa dan pemerintah. Ketika masyarakat kehilangan kepercayaan terhadap sumber-sumber informasi resmi, hal ini dapat menyebabkan keraguan terhadap integritas sistem demokrasi itu sendiri. Kedua, berita palsu dapat memengaruhi opini publik dan pengambilan keputusan politik.
Jika masyarakat terpapar terus-menerus dengan informasi yang salah atau bias, mereka dapat membentuk pandangan yang tidak akurat tentang isu-isu politik dan sosial, yang pada gilirannya dapat mempengaruhi pemilihan umum dan kebijakan publik. Ketiga, penyebaran berita palsu dapat menciptakan polarisasi dan ketegangan dalam masyarakat. Berita palsu seringkali digunakan untuk memperkuat pandangan yang ekstrem dan membagi masyarakat menjadi kubu-kubu yang saling bertentangan, mengancam kesatuan dan stabilitas politik.
Strategi Menghadapi Era Berita Palsu, Pendidikan, Literasi Media, dan Tanggung Jawab Bersama
Dalam menghadapi era berita palsu, pendidikan, literasi media, dan tanggung jawab bersama menjadi strategi kunci dalam mengatasi fenomena ini. Pertama, pendidikan merupakan fondasi utama untuk melawan penyebaran berita palsu. Melalui kurikulum yang memasukkan pembelajaran kritis tentang media dan informasi, masyarakat dapat dilengkapi dengan kemampuan untuk memahami, menganalisis, dan mengevaluasi informasi yang mereka terima secara kritis. Kedua, peningkatan literasi media penting agar individu mampu mengenali dan menghindari berita palsu. Ini dapat melibatkan pemahaman tentang sumber informasi yang dapat dipercaya, teknik verifikasi fakta, dan kesadaran akan bias dalam penyajian informasi. T
anggung jawab bersama antara media, platform digital, pemerintah, dan masyarakat juga diperlukan. Media dan platform digital harus mengimplementasikan standar editorial yang ketat dan algoritma yang memperhatikan keberagaman dan kebenaran informasi. Pemerintah perlu mengembangkan regulasi yang mendukung transparansi media dan penegakan hukum terhadap penyebaran berita palsu. Sementara itu, kita sebagai masyarakat harus aktif dalam membagikan informasi yang dapat dipercaya, mengedukasi orang lain tentang risiko berita palsu, dan kritis terhadap informasi yang kita konsumsi. Dengan pendidikan, literasi media yang ditingkatkan, dan tanggung jawab bersama yang kuat, kita dapat mengatasi tantangan
era berita palsu dan membangun masyarakat yang lebih bijak dan cerdas.