Kembali
Mode hapus aktif. Klik paragraf, foto, judul, tabel, atau bagian lain yang tidak ingin masuk PDF.
JurnalPost.com

Komodifikasi Amarah di Era Digital: Tinjauan Estetika Humanisme dan Urgensi Anger Management Publik

Tim Editor: Redaksi · Tanggal: 16 Agustus 2026

Oleh: Ibrahim Muhammad Ksantana (NIM 250201022133)
S1 PJJ Manajemen – Universitas Siber Asia
MKU Estetika Humanisme

Pendahuluan

Layar perangkat digital masa kini tidak sekadar menampilkan visual, melainkan kerap memancing luapan emosi para penggunanya. Praktik rage-baiting—yakni sengaja merancang konten yang memicu amarah demi mendongkrak interaksi (engagement)—telah bertransformasi dari taktik pemasaran media sosial biasa menjadi kebiasaan bersama di dunia maya. Pengakuan istilah ini sebagai Word of the Year 2025 oleh Oxford University Press membuktikan bahwa emosi amarah telah bergeser dari sekadar respons psikologis alami menjadi komoditas bernilai tinggi di ranah digital.

Di Indonesia, maraknya perdebatan sengit di kolom komentar, perundungan siber (cyberbullying), aksi pemboikotan massal (cancel culture), hingga peristiwa amarah di jalan raya (road rage) yang disebarluaskan secara masif terus berulang. Amarah yang meledak di jejaring sosial kerap memicu seruan kebencian kolektif, mengikis empati, serta merendahkan nilai-nilai kemanusiaan.

Situasi ini memicu krisis literasi kemanusiaan (human literacy). Saat emosi amarah dimanfaatkan demi kepentingan algoritma, keberadaan manusia sebagai makhluk etis dan beradab mulai dipertanyakan. Berpatokan pada kacamata Estetika Humanisme, tulisan ini menelaah komodifikasi amarah sekaligus merumuskan pentingnya pengelolaan amarah (anger management) sebagai landasan etika bermasyarakat di era maya.

Analisis Fenomena: Mengapa Amarah Menjadi Komoditas?

Dinamika media sosial bertumpu pada ekonomi perhatian (attention economy). Algoritma platform dirancang untuk mengutamakan konten yang memicu interaksi tinggi tanpa memedulikan dampak emosional di dalamnya. Riset psikologi media menunjukkan bahwa emosi negatif—terutama amarah dan ketidaksetujuan moral—memiliki kecepatan serta jangkauan penyebaran (virality rate) yang jauh lebih tinggi ketimbang emosi positif.

Kondisi ini menciptakan rantai hubungan yang berulang:

Konten Provokatif / Rage-Baiting

Munculnya Amarah & Kebencian

Lonjakan Komentar / Stitch / Share

Algoritma Mendongkrak Jangkauan (FYP/Trending)

Keuntungan Finansial & Popularitas Kreator

Ketika amarah dijadikan barang dagangan demi mengejar angka penonton (views) dan keuntungan finansial, individu tidak lagi diperlakukan sebagai pribadi bernalar cerdas, melainkan sekadar target emosional yang gampang dimanipulasi. Reaksi emosional secara mendadak yang menggeser ruang diskusi sehat ini merusak relasi sosial serta mengikis nilai kesantunan di ruang publik.

Tinjauan Estetika Humanisme: Memanusiakan Manusia di Tengah Prahara Emosi

Estetika Humanisme tidak hanya membahas keindahan bentuk fisik atau karya seni, tetapi juga keteraturan hidup bermasyarakat yang berlandaskan pada harkat, martabat, kepedulian, serta kesadaran etis (Human Literacy).

Melalui sudut pandang ini, kegagalan mengendalikan amarah publik berdampak pada dua hal utama:

  • Erosi Empati dan Dehumanisasi Digital: Terbiasa mengumbar amarah di kolom komentar atau video balasan membuat seseorang tidak lagi memandang lawan bicaranya sebagai sesama manusia yang memiliki perasaan dan latar belakang kehidupan yang kompleks. Pihak lain hanya dianggap sebagai objek atau musuh yang layak dihujat, sehingga merusak prinsip dasar humanisme tentang rasa saling menghormati.
  • Hilangnya Keindahan Etis dalam Berkomunikasi: Tata cara berkomunikasi yang baik (ars dicendi) bersumber pada kesopanan, perenungan mendalam, serta kepiawaian mendengarkan. Luapan emosi yang tidak terkendali menghasilkan pola komunikasi yang merusak, sarat caci maki, dan kehilangan nilai-nilai estetika etis.

Strategi Anger Management Berbasis Kesadaran Humanis

Pengelolaan amarah (anger management) bukan berarti memadamkan atau menekan emosi marah sepenuhnya. Amarah merupakan reaksi wajar manusia saat menghadapi ketidakadilan atau pelanggaran hak pribadi. Namun, anger management mengarahkan kita untuk mengontrol bentuk respons terhadap amarah tersebut agar tidak merugikan diri sendiri maupun pihak lain.

Dimensi Tindakan Tanpa Pengendalian (Unmanaged Anger) Pendekatan Anger Management Humanis
Respon Awal Impulsif, menulis komentar makian secara spontan Pause & Reflect (memberi jeda 10–30 detik sebelum membalas)
Pola Pikir Reaktif dan defensif (Us vs. Them) Empati kognitif (memahami situasi sebelum menghakimi)
Bentuk Komunikasi Agresif, menyerang pribadi lawan (Ad Hominem) Komunikasi asertif (menyampaikan keberatan secara santun dan fokus pada pokok persoalan)
Tujuan Memenangkan perdebatan dan mempermalukan lawan Penyelesaian konflik serta menjaga martabat bersama

Langkah nyata yang dapat dilakukan antara lain:

  • Higiene Emosional Digital (Digital Emotional Hygiene): Membangun kesadaran diri (self-awareness) saat mengakses media sosial. Jika muncul tanda-tanda fisik amarah (denyut jantung meningkat atau otot tegang), segera letakkan perangkat dan lakukan relaksasi pernapasan.
  • Uji Relevansi Sebelum Bereaksi: Menguji diri sendiri dengan pertanyaan: “Apakah komentar saya memperjelas masalah, atau justru memperkuat manipulasi algoritma?”

 

  • Komunikasi Non-Kekerasan (Non-Violent Communication): Memisahkan pengamatan fakta objektif dari prasangka emosional agar pernyataan ketidaksetujuan tetap disampaikan secara santun dan bermartabat.

Kesimpulan

Maraknya emosi amarah yang terorganisasi dan diperjualbelikan di media sosial menjadi teguran keras bahwa kemajuan teknologi belum tentu sejalan dengan tingkat kedewasaan emosional penggunanya. Di tengah gempuran algoritma yang provokatif, kemampuan mengendalikan amarah (anger management) bukan sebatas keahlian psikologis individu, melainkan tindakan etis sekaligus wujud nyata dari literasi kemanusiaan.

Menyampaikan ketidaksetujuan atau mengkritik ketidakadilan merupakan hak setiap orang. Namun, menjaga cara berpendapat agar tetap menghormati martabat diri dan sesama adalah kewajiban moral yang mendasar. Dengan mengedepankan anger management, kita dapat menghidupkan kembali keindahan etis dalam berinteraksi: menjadikan ruang publik digital lebih beradab, berempati, dan memanusiakan manusia.

Daftar Pustaka

  1. Grathwohl, C. (2025). Rage-baiting Named Oxford Word of the Year 2025. Oxford University Press.
  2. Rosenberg, M. B. (2015). Nonviolent Communication: A Language of Life. PuddleDancer Press.
  3. Stig Hjarvard. (2008). The Mediatization of Society: A Theory of the Media as Agents of Social and Cultural Change. Nordicom.
  4. UNESA. (2025). Membongkar Taktik Rage Bait di Media Sosial. Jurnal/Artikel Publikasi UNESA.
Sumber artikel: https://jurnalpost.com/read/komodifikasi-amarah-di-era-digital-tinjauan-estetika-humanisme-dan-urgensi-anger-management-publik/27732/
Dicetak dari JurnalPost.com pada 07 November 2026 22:46.