
Oleh: Nurwahdah
Media sosial dan budaya kompetitif membuat banyak mahasiswa merasa harus terus produktif setiap waktu.
Menjadi mahasiswa hari ini terasa seperti hidup dalam perlombaan yang tidak pernah selesai. Ada target yang terus bergerak: IPK tinggi, aktif organisasi, memenangkan lomba, memiliki pengalaman magang, hingga membangun citra diri di media sosial.
Di tengah tuntutan tersebut, banyak mahasiswa mulai percaya bahwa nilai diri mereka ditentukan oleh seberapa sibuk dan seberapa banyak pencapaian yang dimiliki. Akibatnya, produktivitas perlahan berubah menjadi standar harga diri.
Fenomena ini semakin terlihat sejak media sosial menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Linimasa dipenuhi unggahan tentang sertifikat, seminar, pertukaran pelajar, dan berbagai pencapaian lainnya. Hampir setiap hari mahasiswa melihat orang lain tampak sukses, aktif, dan terus berkembang.
Di satu sisi, hal ini memang dapat memotivasi. Namun di sisi lain, budaya tersebut diam-diam menciptakan tekanan yang besar.
Banyak mahasiswa mulai merasa tertinggal ketika hidupnya tidak seproduktif orang lain di internet. Bahkan, beristirahat pun sering memunculkan rasa bersalah, seolah waktu tenang adalah bentuk kemunduran.
Padahal manusia bukan mesin.
Laporan National College Health Assessment yang diterbitkan American College Health Association tahun 2023 menunjukkan bahwa mayoritas mahasiswa pernah mengalami tekanan psikologis yang memengaruhi performa akademik mereka. Stres, kecemasan, dan kelelahan emosional menjadi persoalan yang semakin umum terjadi di lingkungan pendidikan tinggi.
Kondisi serupa juga terlihat di Indonesia. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia pada tahun 2023 mencatat meningkatnya gangguan kesehatan mental pada remaja dan dewasa muda akibat tekanan akademik, sosial, dan penggunaan media digital yang berlebihan.
Sayangnya, banyak mahasiswa merasa harus tetap terlihat baik-baik saja.
Kesibukan kini sering dianggap simbol keberhasilan. Mahasiswa dengan jadwal paling padat cenderung dipandang lebih aktif dan lebih bernilai. Sebaliknya, mereka yang memilih berjalan lebih tenang sering dianggap kurang ambisius.
Akibatnya, banyak orang berlomba terlihat sibuk meski tubuh dan pikirannya sebenarnya sudah lelah.
Kalimat seperti “aku belum tidur semalaman” atau “aku tidak punya waktu istirahat” kini terdengar biasa di kalangan mahasiswa. Ironisnya, kelelahan justru sering dipamerkan sebagai bentuk dedikasi.
Padahal tubuh memiliki batas.
World Health Organization (WHO) menjelaskan bahwa tekanan mental berkepanjangan dapat memengaruhi kualitas tidur, konsentrasi, produktivitas, bahkan hubungan sosial seseorang. Jika terus dibiarkan, kondisi tersebut dapat berkembang menjadi burnout atau kelelahan emosional yang serius.
Media sosial ikut memperkuat situasi ini. Laporan Digital 2025 Indonesia dari We Are Social menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia menghabiskan lebih dari tujuh jam per hari menggunakan internet. Mahasiswa menjadi salah satu kelompok pengguna paling aktif.
Masalahnya, media sosial tidak hanya menjadi ruang berbagi informasi, tetapi juga ruang perbandingan sosial.
Setiap hari mahasiswa melihat pencapaian orang lain secara terus-menerus. Ada yang lolos program internasional, memenangkan kompetisi, atau terlihat memiliki hidup yang sangat terarah. Tanpa disadari, hal tersebut memunculkan tekanan untuk selalu bergerak cepat agar tidak merasa tertinggal.
Padahal setiap orang memiliki perjalanan hidup yang berbeda.
Tidak semua mahasiswa memiliki kondisi ekonomi, dukungan keluarga, dan kesempatan yang sama. Namun media sosial sering kali hanya memperlihatkan hasil akhir tanpa menunjukkan proses panjang di belakangnya.
Kondisi ini membuat banyak mahasiswa kehilangan kemampuan untuk menikmati hidup secara sederhana. Waktu istirahat terasa seperti kemalasan. Menolak kegiatan terasa seperti kegagalan.
Padahal manusia tetap membutuhkan jeda.
Kampus seharusnya tidak hanya melahirkan mahasiswa kompetitif, tetapi juga manusia yang sehat secara mental. Pendidikan mestinya membantu mahasiswa mengenali batas dirinya, bukan justru membuat mereka terus hidup dalam kecemasan untuk mengejar standar yang tidak ada habisnya.
Ambisi memang penting. Namun, hidup bukan hanya tentang siapa yang paling sibuk atau paling banyak pencapaian, melainkan siapa yang mampu bertahan tanpa kehilangan dirinya sendiri.
DAFTAR PUSTAKA
American College Health Association. (2023). National College Health Assessment III: Undergraduate Student Reference Group Executive Summary Spring 2023.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2023). Laporan Nasional Kesehatan Mental Remaja dan Mahasiswa Indonesia.
We Are Social & Meltwater. (2025). Digital 2025: Indonesia.
World Health Organization. (2024). Adolescent and Young Adult Mental Health.
UNESCO. (2022). Reimagining Our Futures Together: A New Social Contract for Education.