Kembali
Mode hapus aktif. Klik paragraf, foto, judul, tabel, atau bagian lain yang tidak ingin masuk PDF.
JurnalPost.com

Ketika Hobi Menjadi Ladang Berkah, Kisah Sukses Dadi Muhamad Hasan Basri

Tim Editor: Redaksi · Tanggal: 5 Maret 2024

JurnalPost.com – Dadi Muhamad Hasan Basri lahir pada tahun 1970 di Bogor, seorang yang memiliki beragam bakat dan minat, terutama dalam bidang fotografi, traveling, menulis, memasak, dan peduli lingkungan. Dadi tumbuh di Bubulak, kota Bogor, dan sejak kecil, ketertarikannya pada petualangan dan eksplorasi telah muncul. Keceriaan masa kecilnya melahirkan cinta terhadap petualangan dan seni memasak, yang diinspirasi oleh ibunya. Bersepeda, jalan-jalan, dan eksplorasi telah menjadi bagian tak terpisahkan dari rentang waktu yang membentuk masa kecilnya.

Minat fotografi Dadi muncul ketika sang ayah memberikan kamera kepada kakaknya saat SMP, dan karena rasa ingin tahunya yang tinggi, Dadi sering menggunakan kamera tersebut. Meskipun terbatas oleh keterbatasan biaya, ketekunan dan hasratnya mendorongnya untuk mempelajari fotografi secara otodidak. Sayangnya, ketertarikannya pada fotografi harus berhenti saat SMA. Karena menurutnya fotografi tersebut merupakan hobi yang mahal sehingga, masa itu Dadi memilih untuk mengalihkan hasratnya ke dunia menulis, karena menulis hanya membutuhkan kertas, yang tersedia dimana mana, fokusnya pada bidang tersebut untuk meraih kepuasan diri melaui ekspresi kreatifnya yang diungkapkan melalui pengisian buku diary pribadinya.

Pada tahap selanjutnya dalam perjalanan studinya di Universitas Udayana, Bali, Dadi mengejar minatnya dalam menulis dengan mengambil jurusan Bahasa Indonesia. Langkah ini memberinya arah yang lebih jelas dalam menyalurkan bakatnya. Di tengah perjalanan kuliahnya, Dadi kembali menemukan kecintaannya pada fotografi. Kehadiran kamera yang disediakan oleh kampus memungkinkannya untuk lebih serius mempelajari teknik fotografi. Hal ini penting karena dalam proses pembuatan majalah mahasiswa yang ia dan teman-temannya rintis, fotografi memiliki peran krusial. Keuletan dan dedikasinya dalam belajar fotografi membuatnya mampu menyumbangkan gambar-gambar berkualitas untuk majalah tersebut, yang pada gilirannya menjadi landasan keberhasilan mereka sebagai penggagas lomba mading dan penerbit majalah mahasiswa pada saat itu.

Setelahnya, Dadi mulai memikirkan cara merealisasikan hobinya dalam fotografi, meskipun menyadari bahwa hal itu memerlukan investasi finansial yang cukup besar. Untuk mengatasi kendala ini, Dadi memutuskan untuk mempublikasikan tulisan-tulisannya di media lokal seperti Bali Post. Langkah ini, meskipun awalnya bertujuan untuk menyalurkan minatnya dalam menulis, akhirnya membuka peluang baru bagi Dadi untuk mengekspresikan kecintaannya pada fotografi. Selain sekadar memotret, Dadi melihat kesempatan ini sebagai potensi untuk menghasilkan pendapatan. Dia mulai memberikan pelatihan fotografi, menjual karya-karyanya, dan terlibat dalam dunia jurnalisme. Dalam prosesnya, menulis bukan hanya menjadi sarana untuk membagikan cerita dan pengalaman, tetapi juga menjadi jendela bagi Dadi untuk mengekspresikan diri dan mengejar passion-nya.

Setelah menyelesaikan studi S2 di bidang seni, Dadi memulai karir mengajarnya sebagai dosen di sekolah vokasi IPB University pada tahun 2011, mengajar mata kuliah bahasa Indonesia dan manajemen agribisnis. Pada tahun 2016, ia juga mulai mengajar di IPB Dramaga. Namun, perannya tidak hanya terbatas sebagai pendidik; Dadi juga aktif berkontribusi dalam berbagai acara perlombaan seni sebagai fasilitator dan juri.

Pada tahun 2017, Dadi akhirnya memiliki kesempatan untuk mewujudkan hobinya dalam bidang memasak. Bersama temannya, mereka berencana mendirikan sebuah bisnis kuliner. Awalnya, mereka sepakat untuk membuka restoran Chinese food, ide yang diajukan oleh rekan Dadi. Namun, Dadi juga ingin menambahkan menu lokal khas, terutama laksa, yang merupakan salah satu makanan favoritnya. Restoran mereka berlokasi di gedung Frizz di Jembatan Merah. Namun, perjuangan untuk membangun bisnis ini tidaklah mudah. Mulai dari menciptakan resep laksa dengan mencari inspirasi dari berbagai sumber, baik dari penjual lokal maupun internet, hingga menghadapi tantangan strategis dalam menarik pelanggan. Meskipun awalnya tempatnya kurang diminati karena lokasinya yang kurang strategis, Dadi merasa tertantang dan mempromosikan restoran tersebut kepada teman-temannya, yang akhirnya menarik minat banyak pembeli. Namun, saat bulan puasa tiba, jumlah pembeli menurun drastis, karena kebanyakan pengunjung lebih memilih tempat makan yang berada di bawah, dekat jalan raya. Tantangan ini membuat Dadi terpaksa menutup restorannya dengan rasa berat hati.

Meskipun menghadapi penutupan restorannya, semangat Dadi tidak surut. Ia membawa inovasi restorannya untuk dijual di depan rumahnya. Didukung oleh sang istri, pada tahun 2018, terlahir Laksa Kang Dadi yang berlokasi di Jalan Wuwung 2 No 57, tegal gundil. Peminatnya tidak hanya berasal dari relasi Dadi dan warga sekitar, tetapi juga pecinta kuliner lokal yang turut meramaikan Laksa Kang Dadi. Dadi merasa senang dan puas seperti saat ia menyalurkan hobinya yang lalu, melihat orang lain menikmati karyanya menjadi kebahagiaan tersendiri. Ini mendorongnya untuk membuka restoran ini agar dapat terus berkembang, bukan hanya untuk mendapatkan penghasilan pribadi, tetapi juga sebagai peluang membuka lapangan pekerjaan bagi orang lain yang membutuhkan.

Dalam perjalanannya, Dadi mengubah restoran ini agar peduli pada lingkungan. Dengan program bercocok tanam, ia menciptakan inovasi bagaimana limbah dapur dapat diubah menjadi hal yang bermanfaat. Pengalaman ini dibagikan melalui tulisan yang diposting di media sosialnya. Kini, banyak yang datang bukan hanya untuk menikmati laksa, tetapi juga untuk belajar mengelola limbah dapur menjadi eco enzyme, pupuk tanaman, dan pembersih kaca. Langkah ini membuka peluang baru baginya untuk mendapatkan sumber penghasilan tambahan. Saat ini, Dadi aktif dalam program sosial yang dibuaatnya seperti Jumat Berkah, Peduli Dhuafa, Peduli Janda Tua, dan membantu UMKM lokal.

Dan kini, selain menjalankan peran sebagai pengusaha Laksa Bogor Kang Dadi, Dadi masih aktif sebagai pengajar dan dosen di IPB University dan Universitas Bina Niaga. Sebagai seorang editor yang berkarir selama bertahun-tahun, kini ia telah menciptakan lebih dari 300 buku sejak tahun 1997. Awalnya fokus pada buku keagamaan, namun kini jangkauannya meluas hingga mencakup berbagai genre, mulai dari buku pembelajaran hingga novel.

Dadi tidak hanya mengabdikan dirinya di dunia literasi, tetapi juga senantiasa membagikan momen-momen fotografinya melalui media sosial Instagram. Dengan dedikasinya dalam dunia pendidikan, kontribusi sosial, dan perlindungan lingkungan, Dadi Muhamad Hasan Basri bukan hanya sekadar mengubah hobi-hobinya menjadi sumber penghasilan. Ia juga menjadi teladan bahwa “Hobi Berujung Cuan” tidak hanya mencerminkan kesuksesan individu, melainkan juga tentang memberikan dan berbagi kebahagiaan kepada orang lain.

Penulis: Nisrina Aliya Rozan

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/read/ketika-hobi-menjadi-ladang-berkah-kisah-sukses-dadi-muhamad-hasan-basri/12350/
Dicetak dari JurnalPost.com pada 05 November 2026 12:16.