Kembali
Mode hapus aktif. Klik paragraf, foto, judul, tabel, atau bagian lain yang tidak ingin masuk PDF.
JurnalPost.com

Kesepian Anak Muda: Ketika Chatbot Menggantikan Kehangatan Manusia

Tim Editor: Redaksi · Tanggal: 14 Mei 2026

Penulis: Arselly Putri Fathinah, Varissa Fortune Tasdin, Natalie Fernanda, Meitzhy Ardyna Rasthy, Salsa Billah, Dr. Yohanes Budiarto, S.Pd., M.Si

JurnalPost.com – Saat ini semakin berkembangnya kecerdasan buatan mengubah cara manusia berinteraksi. Interaksi manusia yang sebelumnya didominasi oleh hubungan antarmanusia, kini mulai berpindah ke arah interaksi dengan teknologi berbasis kecerdasan buatan. Terutama dengan adanya AI modern, menciptakan interaksi personal dan emosional antara manusia dengan mesin. Kesepian yang dialami anak muda menjadi pemicu terhadap eratnya hubungan antara manusia dengan AI. Mereka tidak lagi menganggap AI sebagai alat, tetapi juga teman, pasangan emosional, dan tempat curhat yang aman.

Fenomena menggunakan chatbot AI sebagai tempat curhat dan berbagi perasaan ini dinilai dapat mengubah cara manusia bekerja dan juga cara seseorang mencari dukungan emosional. Banyak anak muda merasa lebih nyaman berbicara dengan chatbot AI karena tersedia 24 jam, mudah digunakan dan dapat diakses kapan saja. Berdasarkan Prapanca.id terdapat beberapa survei yang menunjukkan sekitar 72% remaja pernah menggunakan AI sebagai “teman” untuk berbincang atau mencari dukungan emosional.

Chatbot AI sebagai Tempat Dukungan Emosional
Tak dapat dipungkiri, kesepian yang dialami anak muda saat ini disebabkan oleh beberapa hal, seperti konflik dengan teman, kurangnya hubungan yang akrab dengan teman sebaya, serta menurunnya intensitas bersosialisasi akibat gadget dan penggunaan media sosial yang terus menerus.

Rasa kesepian ini terus berkembang hingga menjadi masalah yang serius hingga munculnya chatbot Al dikalangan anak muda. Banyak dari anak muda yang saat ini menggunakan chatbot AI sebagai tempat pelarian untuk curhat. Kini chatbot AI telah dianggap sebagai tempat yang aman dan nyaman untuk mengungkapkan isi hati pengganti manusia. Hal ini dikarenakan respons yang diberikan chatbot AI dinilai tidak menghakimi, selalu tersedia kapan saja, dan memberikan rasa empati kepada penggunanya. Ketergantungan pada chatbot AI dapat membuat pengguna semakin jauh dari interaksi sosial yang nyata, disebabkan rasa nyaman berbagi cerita dengan chatbot AI dibandingkan manusia.

Pada penelitian yang dilakukan oleh Kim et al. (2025), mengemukakan bahwa kehadiran chatbot AI berpotensi mengambil peran penting dalam meningkatkan dalam isu kesehatan mental seperti rasa kesepian dan kecemasan sosial dengan menjadi sarana alternatif individu untuk berkomunikasi. Bagi individu yang kurang memiliki kedekatan interaksi emosional, chatbot dapat bermanfaat karena dianggap memiliki sifat seperti keramahan, perhatian, dan empati. Menurut penelitian Folk & Dunn (2026), saat individu mengalami penurunan hubungan koneksi sosial terhadap individu lain, kondisi ini dapat memicu mereka untuk mengubah perilaku individu dengan mencari interaksi melalui AI. Studi penelitian oleh Zhai, Ma, & Ding (2025) menjelaskan sisi afektif penggunaan chatbot yang menunjukkan bahwa kesepian, kebutuhan akan persahabatan, kecemasan membuat individu membentuk keterikatan emosional terhadap chatbot AI, di mana kesepian memiliki pengaruh paling kuat.

Pentingnya Penggunaan Chatbot AI secara Bijak
Perlu diketahui bahwa penggunaan chatbot AI secara berlebihan berpotensi menimbulkan ketergantungan emosional. Ketika anak muda lebih memilih mencurahkan perasaan kepada AI dibandingkan berinteraksi dengan manusia, hubungan sosial secara nyata dapat semakin berkurang. Oleh sebab itu, chatbot AI sebaiknya dimanfaatkan sebagai sarana pendukung, bukan sebagai pengganti hubungan antarmanusia.

Maka dari itu penting untuk menggunakan chatbot Al secara bijak supaya tidak mengalami ketergantungan emosional. Hubungan sosial secara langsung dengan keluarga, teman, dan lingkungan sekitar penting untuk menjaga keseimbangan interaksi sosial yang sehat. Selain itu, peran orang tua dan lingkungan pendidikan juga diperlukan dalam menciptakan komunikasi yang terbuka dan nyaman agar anak muda merasa didengar tanpa harus bergantung sepenuhnya pada AI.

Daftar Pustaka
Shu, C., Lai, K., & He, L. (2026). Human-AI attachment: how humans develop intimate relationships with AI. Frontiers in Psychology, 17, 1723503. https://doi.org/10.3389/fpsyg.2026.1723503
Zhai, N., Ma, X., & Ding, X. (2025). Unpacking AI Chatbot Dependency: A Dual-Path Model of Cognitive and Affective Mechanisms. Information, 16(12), 1025. https://doi.org/10.3390/info16121025
Kim, M., Lee, S., Kim, S., Heo, J. I., Lee, S., Shin, Y. B., … & Jung, D. (2025). Therapeutic potential of social chatbots in alleviating loneliness and social anxiety: quasi-experimental mixed methods study. Journal of medical Internet research, 27, e65589. https://www.jmir.org/2025/1/e65589

Folk, D., & Dunn, E. (2026). How does turning to AI for companionship predict loneliness and vice versa?. Psychological Science, 37(4), 276-286. https://journals.sagepub.com/doi/10.1177/09567976261427747

Ray.Basrowi. Studi Ungkap kesepian hantui remaja Indonesia. https://healthcollaborativecenter.or.id/studi-ungkap-kesepian-hantui-remaja-indonesia/

Raga, A., & Raga, A. (2026, March 10). Fenomena Curhat ke AI Meningkat, Banyak Anak Muda Jadikan Chatbot Tempat Bercerita | prapanca.id. prapanca.id. https://www.prapanca.id/fenomena-curhat-ke-ai-meningkat-banyak-anak-muda-jadikan-chatbot-tempat-bercerita/

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/read/kesepian-anak-muda-ketika-chatbot-menggantikan-kehangatan-manusia/25306/
Dicetak dari JurnalPost.com pada 08 November 2026 12:25.