
NI MADE NUR AYU ANDIANI
(Mahasiswa S2 Ilmu Manajemen Universitas Pendidikan Ganesha)
JurnalPost.com – Belakangan ini trend bisnis menjadi sangat populer di kalangan masyarakat karena dipandang sangat menjanjikan. Beberapa macam bisnis banyak dicoba oleh masyarakat demi mendapatkan keuntungan maksimal. Banyak bisnis sukses yang dijalankan oleh pengusaha- pengusaha dengan kiat-kiat tertentu. Kesusksesan mereka dapatkan dengan berbagai cara seperti pemasaran yang baik, promosi yang menarik, produk yang tepat guna, dan pelayanan yang memuaskan. Hal tersebut adalah dasar agar bisnis dapat berjalan dengan baik. Namun terkadang ada beberapa bisnis yang hanya menerapkan dua atau tiga indikator tersebut, sehingga mengeluh mengapa bisnis yang dijalaninya bangkrut. Mereka tidak menyadari bahwa faktor penentu bisnis dapat berjalan lancar itu harus semuanya terpenuhi.
Kerap di masyarakat sering beranggapan bahwa dengan modal besar, bisnis pasti akan lancar. Pada kenyataannya, dengan modal kecil pun bisnis akan lancar jika dilakukan manajemen yang baik. Kurangnya manajemen terhadap suatu bisnis tentu akan berdampak pada kesuksesan bisnis. Manajemen keuangan adalah salah satu yang harus diperhatikan, sebab keuangan merupakan hal yang sangat riskan. Untuk memanajemen keuangan tentu diperlukan perilaku keuangan agar pengaturan keuangan benar dilakukan. Pembahasan mengenai perilaku keuangan sangat kompleks dibicarakan. Grohmann (2015) menyatakan bahwa financial behavior dipengaruhi 3 faktor yaitu financial literacy, kemampuan perhitungan (numeracy), dan kualitas pendidikan.
Pentingnya literasi keuangan dalam menjalankan bisnis memicu para pengusaha untuk terus mengembangkan bisnisnya. Tentu hal ini diikuti dengan kemampuan dari manajer perusahaan tersebut. Jika kembali lagi pada modal yang digunakan, pribadi surplus akan terlihat lancar dan aman dalam menjalankan bisnis. Berbeda dengan pribadi defisit, kerap akan sulit dalam memutar uang. Pribadi surplus dan defisit ini adalah pribadi yang dimiliki manajer dalam menjalankan bisnisnya. Keduanya adalah hal yang berkebalikan dan mempengaruhi bisnis.

Surplus atau Defisit?
Surplus adalah suatu kondisi dimana tingkat pendapatan atau pemasukan yang diterima melebihi pengeluaran belanja. Berlawanan dari itu, defisit artinya yaitu situasi ketika pengeluaran lebih besar dari penerimaan. Defisit dapat disebabkan karena daya beli masyarakat yang rendah, pembiayaan bangunan, saat inflasi, dan melemahnya nilai tukar mata uang. Negara adalah sebuah organisasi yang juga bisa merasakan dampak itu. Penyebab kekurangan anggaran pada negara bisa bermacam-macam seperti, kebutuhan perang, pembangunan negara, daya beli masyarakat rendah, nilai tukar mata uang yang lemah, dan inflasi. Tidak hanya pada negara, namun sebuah organisasi juga bisa mengalami defisit, bahkan organisasi bisnis juga sering terkendala defisit. Defisit sangat erat dengan keuangan, karena uang adalah indikator yang digunakan ketika melihat suatu perusahaan mengalami defisit atau surplus. Defisit dapat menyebabkan hutang. Setiap tahun, kekurangan anggaran dapat menyebabkan hutang yang membuat beban perusahaan semakin besar dan bunga yang harus dibayar. Jika tidak segera diatasi, defisit dapat mengakibatkan kebangkrutan. Negara mendapatkan pemasukan dari pajak. Uang yang diperoleh akan diolah kembali untuk pembangunan negara. Dalam perusahaan, pemasukan didapatkan dari hasil penjualan.
Surplus dan defisit kas sering menjadi istilah yang digunakan pemerintah dalam menggambarkan perekonomian negara. Pengertian surplus dan defisit kas ini bukanlah hal yang awam di masyarakat. apalagi istilah defisit menjadi momok tersendiri bagi pemilik modal. Bila defisit kas terus dibiarkan maka akan menyebabkan perusahaan bangkrut apalagi sebuah negara. Dalam laporan keuangan surplus dan defisit bisa disimak dengan jelas alirannya pada laporan arus kas. Saat perusahaan tidak mampu mengatasi kekurangan anggaran, mereka akan kesulitan dalam melakukan sejumlah kegiatan operasional. Dengan begitu, hal ini memicu timbulnya hutang. Hutang akan semakin menumpuk jika sumber masalah tidak diatasi.
Setelah menelisik mengenai defisit secara luas, surplus juga perlu dikaji. Seperti yang telah dibahas sebelumnya bahwa surplus adalah kondisi dimana tingkat pendapatan atau pemasukan yang diterima melebihi pengeluaran belanja. Dari pengertian tersebut, perusahaan yang mengalami surplus tentu keuangannya sehat. Beberapa hal mendasar pada perusahaan dapat dijalankan dan dibayarkan karena manajemen keuangan yang baik. Banyak pilihan investasi yang dapat dipilih perusahaan karena uang yang dimilikinya. Perusahaan mampu membayar tagihannya tepat waktu bahkan mudah berinvestasi. Kepercayaan investor akan semakin tinggi apabila laporan keuangan perusahaan selalu menunjukkan surplus kas.
Jika suatu perusahaan mampu mengelola keuangan dengan baik dengan segala komponen yang ada tentu akan terjadi kestabilan dalam keuangan. Hal ini berpengaruh pada surplus kas suatu perusahaan. Beberapa dampak surplus kas yang dapat dirasakan yaitu kondisi perekononomian akan cenderung membaik, harga dari berbagai produk yang diekspor akan menjadi lebih tinggi sehingga devisa negara akan meningkat, tingkat daya saing produk ekspor menurun, dan kemudahan berinvestasi. Suatu kondisi pribadi manajer yang mampu membuat perusahaannya surplus tentu menjadi idaman bagi setiap orang. Hal ini karena berdampak pada perekonomian bangsa. Jika suatu perusahaan tempatnya bekerja terus mencapai surplus tentu gaji akan lancar dan meningkat.
Pandemi, Bisnis Kerap Gulung Tikar, Benarkah?
Berbicara tentang bisnis, tidak terlepas dari modal dan tentang apa bisnis tersebut. Dalam mengelola modal yang dimiliki, uang adalah hal yang sangat krusial. Pengetahuan tentang perilaku keuangan sanagat diperlukan untuk menangai keuangan bisnis. Perkembangan cara mengelola uang tentu sudah sangat baik. Kini tergantung perusahaan itu sendiri apakah mampu mengelola dengan baik dan benar. Terlebih di era sekarang dengan diselimuti oleh pandemi COVID-19, beberapa bisnis ada yang gulung tikar. Namun tidak sedikit bisnis justru mendatangkan nasib baik pada masa pandemi. Perusahaan yang mampu bertahan tersebut karena memiliki strategi khusus dalam pengelolaan bisnisnya. Beberapa strategi yang dilakukan suatu perusahaan agar tetap bertahan diantaranya sebagai berikut.
1. Cash Management
Pengaturan arus kas menjadi kunci utama perusahaan untuk dapat melewati tantangan berat kala pandemi seperti ini. Perusahaan perlu mengambil langkah-langkah untuk mengamankan persediaan kas. Cash Management juga meliputi bagaimana perusahaan mampu melakukan forecast keuangan jangka pendek dan menengah dengan baik.
2. Contingency Planning
Panduan tanggap darurat perlu langsung disusun untuk mengetahui apa saja sektor krusial dalam perusahaan dan memastikan strategi yang akan diambil aman untuk kelangsungan bisnis kedepannya.
3. Pengelolaan Pemegang Saham
Perkiraan arus kas yang baik akan menempatkan perusahaan pada posisi yang lebih kuat saat berdiskusi dengan para pemegang saham. Disarankan perusahaan untuk proaktif dan mengambil inisiatif untuk secara aktif berhubungan dengan otoritas pajak, pemberi pinjaman hingga supplier utama untuk tetap mendapat dukungan keuangan yang mungkin saja tersedia.
4. Perhatikan Karyawan
Memahami profil karyawan menjadi sangat penting dalam situasi ini untuk menemukan berbagai opsi untuk solusi tenaga kerja dalam perusahaan. Kebijakan yang jelas untuk work from home, unpaid leave hingga kapan karyawan harus dikarantina di kondisi kesehatan tertentu perlu disampaikan agar karyawan tahu bagaimana posisi mereka dan dapat menerima pesan dari pemimpin bisnis.
5. Bentuk Tim Manajemen Krisis
Bentuk tim khusus dan pastikan perwakilan dari tiap divisi saling berkomunikasi untuk membahas dan menentukan prioritas masalah yang dihadapi perusahaan dan mengantisipasi masalah yang dapat muncul ke depannya. Komunikasi sejak dini dan keterbukaan dengan tim dapat membangun sistem komunikasi yang sehat dan menjangkau semua karyawan.
Tergantung Cara Kelola, Mana yang Lebih Baik?
Surplus tidak selamanya baik, begitu pula juga defisit yang tidak selamanya menunjukkan tanda bahaya terhadap perekonomian. Dalam suatu negara, kondisi surplus tidak selamanya berbuah positif bagi perekonomian, dan defisit pun tidak selalu berimbas buruk bagi perekonomian. Pada perusahaan, akan dikatakan surplus apabila terjadi saat penjualan barang dan jasa yang dihasilkan lebih besar dari pengeluaran untuk membayar upah karyawan, biaya material atau bahan baku, dan utilitas seperti listrik dan air. Berlawanan dengan defisit yang akan terjadi apabila hasil penjualan perusahaan lebih rendah dibandingkan pengeluaran perusahaan. Dampak dari surplus dan defisit kas akan sangat besar sekali pada aktivitas perusahaan diantaranya adalah sebagai berikut.
- Bila mengalami defisit kas maka segala beban yang perlu dibayarkan pada periode tersebut bisa saja terhambat. Tidak adanya kas mampu menyebabkan perusahan tidak bisa memberikan gaji, membayar hutang atau membeli bahan baku secara
- Surplus kas memberikan perusahaan banyak pilihan untuk menginvestasikan uang yang Perusahaan mampu membayar tagihannya tepat waktu bahkan mudah berinvestasi.
- Menjadi tolak ukur investor dalam menilai kinerja manajemen perusahaan dalam mengelola modal Kepercayaan investor semakin tinggi bila laporan keuangan perusahaan selalu menunjukkan surplus kas.
- Surplus dan defisit kas menjadi bahan pertimbangan untuk menyusun anggaran kas yang digunakan dalam periode selanjutnya.
- Perusahaan melakukan reformasi, rekturisasi atau kebijakan perusahaan lainnya yang berkaitan dengan aliran dana didasari oleh surplus dan defisit
- Meringkas penjelasan tentang penggambaran kondisi kas saat ini dan mudah
Berdasarkan pemaparan tersebut, pribadi manajer dalam hal ini perilaku keuangan sangat mempengaruhi kinerja bisnis. Ketepatan dalam memimpin perusahaan akan bergantung pada manajamen, terlebih pada keuangan. Kesehatan keuangan perusahaan sangat diperlukan agar bisnis berjalan dengan lancar. Kondisi surplus dan defisit adalah hasil dari manajemen keuangan yang dijalankan suatu perusahaan sehingga semua bergantung pada perusahaan itu sendiri. Dapat dipegang bahwa surplus tidak selamanya baik, begitu pula juga defisit yang tidak selamanya menunjukkan tanda bahaya terhadap perekonomian. Hal ini membuat suatu perusahaan harus tangguh dalam menjalankan bisnisnya agar mencapai tujuan. Jika tidak ingin perusahaan bangkrut, maka usahakan menstabilkan keuangan, akutansi, dan emosional manajemen perusahaan agar bisnis berjalan lancar dan mencapai tujuan.