
Penulis: Olyvia Noor Raihana Putri Wicaksono, S.Gz, Universitas Esa Unggul
JurnalPost.com – Masih terdapat orang tua yang menganggap kondisi kurus pada anak adalah hal biasa, kebanyakan orang masih menganggap kondisi ini dapat terjadi karena faktor genetik dari orang tua. Pandangan ini membuat sebagian besar orang tua tidak terlalu khawatir. Namun dibalik tubuh yang terlihat kurus, mungkin saja tersembunyi kondisi serius yaitu gizi buruk. Kondisi gizi buruk bukanlah sekedar persoalan kurang makan saja, melainkan kekurangan zat gizi penting seperti energi, protein, vitamin, dan mineral dalam waktu lama. Akibatnya, tumbuh kembang anak terganggu, daya tahan tubuh melemah, dan meningkatkan risiko penyakit pada anak.
Gizi buruk ditandai dengan berat badan sangat rendah (wasting), badan kurus, lemas, sering sakit, dan tidak aktif. Namun karena gejalanya sering samar, banyak orang tua tidak menyadari kondisi ini pada anak sejak dini. Padahal, jika tidak segera ditangani, gizi buruk bisa menyebabkan kondisi serius seperti stunting, menurunnya kemampuan belajar karena perkembangan otak terganggu, hingga risiko kematian.
Banyak orang yang masih menganggap jika gizi buruk hanya terjadi di keluarga miskin. Faktanya, anak dari keluarga mampu pun bisa saja menderita gizi buruk jika pola makannya tidak seimbang. Contohnya, anak hanya makan nasi tanpa lauk, minum teh manis setiap hari, atau lebih sering mengonsumsi biskuit dan mi instan karena dianggap praktis. Makanan yang dikonsumsi tersebut pastinya akan membuat tubuh kenyang, tetapi kandungan didalamnya kurang bergizi. Jadi persoalan dari kondisi ini bukan hanya soal ekonomi, tapi juga soal pengetahuan dan kebiasaan. Dampak dari kebiasaan konsumsi makanan yang kurang bergizi ini umumnya tidak langsung terasa, tetapi akan menumpuk seiring waktu hingga akhirnya anak menunjukkan tanda-tanda keterlambatan tumbuh kembang.
Berdasarkan data nasional, prevalensi gizi buruk di Indonesia masih tergolong tinggi. Kondisi ini menunjukkan bahwa masalah gizi pada anak belum sepenuhnya teratasi dan perlu penanganan serius sejak dini. Ciri-ciri kondisi gizi buruk pada anak yang perlu diwaspadai antara lain:
- Berat badan anak tidak ada kenaikan dalam waktu dua bulan berturut-turut
- Anak tampak kurus, lemas, dan kurang nafsu makan
- Sering mengalami diare atau infeksi
Jika muncul tanda-tanda tersebut, orang tua perlu segera membawa anak ke Puskesmas atau fasilitas kesehatan terdekat. Jangan tunggu anak sakit berat baru bertindak. Maka dari itu orang tua perlu mengetahui upaya pencegahan gizi buruk pada anak, dengan melakukan beberapa tips berikut:
- Perhatikan isi piring anak: Usahakan setiap kali anak konsumsi makanan terdapat karbohidrat, protein hewani (telur, ikan, daging), sayur, dan buah. Tidak harus mahal, yang penting beragam dan bergizi.
- Biasakan makan bersama: Anak umumnya mengikuti kebiasaan makan orang tua. Jika lingkungan sekitar anak mengonsumsi makanan sehat dan bergizi seimbang, maka anak umumnya akan mencontoh perilaku disekitarnya.
- Rutin ke Posyandu: Pantau berat dan tinggi badan secara berkala setiap bulannya. Kader posyandu dapat memberi tahu jika ada tanda bahaya pada tumbuh kembang anak.
- Jangan takut bertanya: Jangan takut untuk berkonsultasi. Ketika merasa pertumbuhan anak tidak sesuai usianya contohnya berat badan tidak naik atau tinggi badan stagnan, konsultasi ke ahli gizi atau tenaga kesehatan lainnya dapat membantu orang tua untuk mengetahui penyebabnya dan menyusun pola makan yang tepat untuk mendukung tumbuh kembang anak.
- Jaga kebersihan lingkungan: Lingkungan yang kotor dapat menyebabkan infeksi seperti diare dan cacingan, yang memperburuk kondisi gizi anak. Jadi, pastikan gunakan air bersih, konsumsi makanan yang higienis, dan pastikan anak terbiasa cuci tangan sebelum makan.
Akan tetapi, peran orang tua saja tidak cukup untuk mencegah terjadinya gizi buruk. Gizi buruk adalah persoalan yang perlu dukungan dari semua pihak, seperti kader Posyandu, Puskesmas, tokoh masyarakat, hingga warga sekitar. Lingkungan sekitar berperan dalam membentuk pola asuh dan kebiasaan makan anak. Oleh karena itu, edukasi gizi menjadi kunci penting yang harus dilakukan bersama. Penyampaian informasi perlu dilakukan dengan bahasa yang mudah dipahami, tidak menghakimi, dan empatik. Dengan dimulainya langkah kecil seperti mengingatkan tetangga untuk datang ke Posyandu atau berbagi informasi gizi lewat grup warga bisa menjadi awal dari perubahan besar.
Kesadaran akan pentingnya asupan gizi pada masa tumbuh kembang anak perlu menjadi perhatian bersama. Hal ini dikarenakan anak hanya memiliki satu kali masa tumbuh kembang dan mereka konsumsi hari ini akan membentuk masa depan mereka. Gizi buruk tidak dapat diatasi dalam jangka waktu singkat, akan tetapi kondisi ini dapat dicegah jika orang tua menyadarinya sejak awal. Jadi, mari mulai cegah gizi buruk dari hal kecil seperti isi piring makan anak dirumah, agar dapat menjadi fondasi bagi generasi bangsa yang lebih sehat, kuat, dan cerdas.