Oleh Andiena Awaliatu Nissa, Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media SV IPB
JurnalPost.com – Setiap pergantian tahun, tren fesyen mengalami perubahan. Perusahaan-perusahaan yang memproduksi pakaian dipaksa untuk mengikuti tren yang ada agar tetap beroperasi dengan memproduksi model pakaian yang diminati masyarakat. Perusahaan-perusahaan berlomba untuk membuat produk musiman versi terbaik mereka agar laku di pasaran. Pakaian-pakaian diproduksi secara masal dalam jumlah besar untuk memenuhi kebutuhan pasar. Pada akhirnya perubahan tren fesyen ini memicu sifat konsumtif dari masyarakat, ditambah dengan adanya aplikasi berbelanja daring dan berbagai platfrom yang memberikan kemudahan pada masyarakat untuk berbelanja.
Hal tersebut dalam industri tekstil disebut dengan fast fashion. Dikutip dari Zero Waste Indonesia, fast fashion adalah istilah yang digunakan oleh industri tekstil yang memiliki berbagai model fesyen yang silih berganti dalam waktu yang singkat. Sampah fesyen yang tidak laku di pasaran ikut menyumbangkan diri untuk membuat satu gunungan sampah yang tinggi. Untuk menekan biaya produksi, perusahaan yang memproduksi fast fashion memperkerjakan sumber daya manusia yang diberi upah tak layak dengan acaman keselamatan yang tinggi.
Di samping itu, limbah dari hasil produksi juga ikut mencemari lingkungan. Dari data yang dipaparkan oleh Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNEP), fast fashion menyumbang sekitar 10 persen emisi gas rumah kaca dan sebanyak 20 persen polusi air berasal dari proses pewarnaannya. Lalu berdasarkan data dari Union for the Conservation of Nature, sebanyak 35 persen mikroplastik yang berakhir di laut berasal dari indusri tekstil. Pencemaran air laut atau sungai yang disebabkan fast fashion ini tentunya akan membahayakan ekosistem di air dan apabila ikan atau hewan yang berasal dari perairan yang tercemar itu dikonsumsi oleh manusia, maka akan membahayakan manusia itu sendiri.
Bahan polyester menjadi bahan yang popular dan banyak digunakan untuk membuat pakaian fast fashion karena harganya yang murah. Polyester yang terbuat dari bahan yang sebenarnya adalah plastik, menimbulkan limbah mikroplastik yang mencemari air baik berasal dari proses produksi maupun pembersihan. Pembuangan sampah yang tidak dikelola dengan baik juga menjadi salah satu alasan pakaian berbahan polyester ini mencemari lingkungan karena sulit untuk terurai. Selain limbah-limbah yang mencemari lingkungan, dibutuhkan pula berliter-liter air hanya untuk memproduksi satu pakaian. Dikutip dari Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNEP), setidaknya dibituhkan 3.781 liter air untuk membuat satu celana jeans.
Di samping itu, terdapat istilah sustainable fashion yang merupakan praktik di dunia fesyen yang lebih mengutamakan nilai-nilai dari pihak-pihak yang terlibat, seperti kemanusiaan dan lingkungan (Erlin Deasastika dan Rah Utami Nugrahani, 2021). Berbagai upaya juga dilakukan oleh berbagai pihak untuk mengurangi tren fast fashion ini, seperti yang dilakukan oleh brand fast fashion dengan mendaur ulang pakaian bekas atau kampanye-kampanye yang diselenggarakan oleh komunitas pecinta lingkungan. Seperti misalnya kampanye #TukarBaju yang digagas oleh komunitas Zero Waste Indonesia sejak 2019 lalu, sebagai solusi untuk mengurangi sampah fesyen dan limbah tekstil.
Dalam prakteknya, kampanye #TukarBaju ini mengajak pengunjungnya untuk membawa maksimal 5 buah pakaian untuk ditukarkan, sehingga para pengunjung bisa memiliki tampilan yang baru dengan lebih ramah lingkungan. Semua pakaian yang dibawa oleh pengunjung akan dikurasi lebih dulu untuk bisa diadopsi oleh pemilik selanjutnya. Pada kampanye ini, pengunjung diajak untuk menambah masa guna dari pakaian-pakaian tersebut sekaligus menyelamatkan lingkungan dari limbah fesyen.
Untuk mencapai tujuan utama kampanye #TukarBaju, Zero Waste Indonesia memiliki berbagai strategi untuk menggaet perhatian dan partisipasi yang aktif dari masyarakat. Zero Waste Indonesia menggunakan internet dan media sosial untuk menyampaikan informasi yang informatif terkait dengan kegiatan kampanye #TukarBaju. Tim juga menggunakan kata dan kalimat yang membujuk dan memberikan pengaruh kepada masyarakat, yang membuat masyarakat memiliki keinginan untuk berpartisipasi dalam kampanye. Untuk menyadarkan masyarakat terkait bahayanya limbah dan sampah dari fast fashion, tim kampanye secara aktif memberikan edukasi lewat media sosial dan internet.
Setiap selesai kegiatan juga, tim kampanye #TukarBaju akan membagikan dokumentasi kegiatan dan memberikan informasi berapa banyak sampah tekstil yang berhasil diselamatkan dengan adanya kegiatan yang sudah dilakukan. Semua upaya yang ada tentunya membutuhkan partisipasi yang aktif dari masyarakat agar tujuan dari kegiatan tersebut tercapai, yaitu mengurangi tren fast fashion.
Pada akhirnya, semua kembali kepada masyarakat yang harus mulai memiliki kesadaran dan kepedulian terhadap lingkungan. Masyarakat harus bisa menahan hawa nafsunya untuk tidak secara konsumtif membeli pakaian fast fashion. Selain dengan mengikuti kampanye sejenis #TukarBaju, masyarakat juga bisa melakukan mix and match dengan menggunakan pakaian yang sudah dimiliki dan banyak solusi lainnya.
Penulis: Andiena Awaliatu Nissa
Program Studi: Komunikasi Digital dan Media
Kampus: Sekolah Vokasi IPB University