Kembali
Mode hapus aktif. Klik paragraf, foto, judul, tabel, atau bagian lain yang tidak ingin masuk PDF.
JurnalPost.com

Judi Online Tidak Hanya Adiksi. Tetapi Lebih Dari Itu

Tim Editor: Redaksi · Tanggal: 23 Oktober 2023
Ilustrasi permainan judi online yang umum dimainkan. Ilustrasi dilakukan sensor karena mengandung unsur ilegal dalam negara Indonesia

JurnalPoat.com – Judi adalah segala kegiatan yang bersifat mempertaruhkan suatu hal yang bernilai disertai kesadaran akan resiko dan harapan tertentu pada permainan, pertandingan, ataupun segala bentuk kejadian yang belum diketahui hasil akhirnya. Pada umumnya, uang menjadi alat dalam pertaruhan dengan pemenang akan mendapatkan uangnya dan yang kalah akan kehilangan uangnya sebesar nominal yang disepakati. Menurut Kartono (2011), judi merupakan kegiatan mempertaruhkan uang pada suatu permainan, yang menang akan mendapat semua uang dan yang kalah akan kehilangan uang nya tersebut yang ia pasang pada saat berjudi.

Perkembangan pengetahuan dan teknologi ternyata juga mengembangkan judi ke dalam bentuk yang lebih baru, praktis dan adaptif dengan zaman. Bentuk itu adalah judi online. Judi online adalah kegiatan perjudian dan pertaruhan barang yang bernilai dengan diwadahi dalam bentuk website. Dalam website judi online, banyak bentuk permainan yang disajikan, poker online, domino online, dan slot adalah contoh kecil dari beragamnya bentuk permainan judi online. Pada awalnya, pelanggan akan diharuskan untuk mendaftar dan melakukan deposit agar dapat memainkan pertaruhan yang telah disediakan. Pelanggan akan bertaruh dalam nominal tertentu dengan bandar agar ronde permainan dapat dimulai. Berdasarkan fakta lapangan, pelanggan yang baru mendaftar akan diberikan kemenangan secara berkelanjutan sehingga memunculkan adiksi pada pelanggan tersebut.

Adiksi ini yang menjadi akar yang menjeremuskan para penjudi ke dalam lubang kemiskinan struktural. Kecanduan judi online membuat para penjudi tidak dapat berfikir secara logis dalam menghadapi diri mereka. Jika difikirkan secara rasional terkait judi online. Dalam judi online tidak ada jaminan bahwa penjudi tidak akan dicurangi, dikelabui, ataupun ditipu ketika permainan berlangsung. Bahkan, mereka sadar dan mengetahui hal tersebut, tetapi mereka tetap melakukan deposit dan bermain lagi. Pola pikir irasional inilah yang menyebabkan Indonesia kehilangan 200 triliun, berdasarkan data PPATK.

Judi online tidak hanya persoalan adiksi, judi online lebih dari itu. Sejatinya, hampir semua penjudi mengetahui bahwa judi akan membawa kesengsaraan dan kemiskinan. Namun, mengapa orang tersebut memasuki dunia judi tersebut dan terperangkap di dalamnya?. Simpel, superiority complex. superiority complex adalah tingkah laku yang dimiliki manusia yang merasa bahwa dirinya lebih baik dari orang lain. Mereka menafsirkan diri mereka sendiri bahwa mereka adalah terbaik. superiority complex inilah substansi karena menyangkut sifat asli manusia. Fakta bahwasannya banyak penjudi yang kalah dan jatuh miskin akibat judi online. Akn tetapi, mereka memandang fakta tersebut sebagai kekalahan orang lain dan belum tentu terjadi pada dirinya karena mereka menganggap diri mereka lebih baik dari orang lain dan itu disebut dengan superiority complex. Pandangan ini yang menjadi titik awal seorang penjudi menjadi suatu adiksi Hal ini yang menjadi titik awal jatuhnya rasionalitas para penjudi.

Judi online juga mempermainkan sifat manusia, terutama sifat tujuh dosa besar manusia. Tujuh dosa besar manusia adalah istilah yang tercipta pada abad ke-13 dari pemikiran Thomas Aquinas. Tujuh dosa besar manusia tersebut terdiri dari, kesombongan, ketamakan, kemarahan, kedengkian, nafsu, kerakusan, dan kemalasan.

i. Ketamakan dan kerakusan
Ketika penjudi berada dalam kondisi kemenangan dalam bermain judi online. Penjudi cenderung terus bermain karena dasar ingin memenangkan lebih banyak uang dan kemenangan. Ketamakan penjudi menjadikan mereka terus bermain sampai pada target kemenangan yang diinginkan. Ketika target tercapai, mereka berhasrat lebih dan terus bermain sampai pada target kemenangan mereka yang selanjutnya, begitu seterusnya.

ii. Nafsu dan kemalasan
Hawa nafsu adalah suatu hal yang pasti dimiliki oleh manusia. Untuk mencapai nafsu tersebut, diperlukan usaha yang tepat agar dapat merealisasikan nafsu tersebut. Dalam kasus judi online, para penjudi cenderung bernafsu untuk memiliki harta yang banyak dengan usaha yang kecil serta dengan waktu yang cepat pula. Karena itu, kemalasan para pencandu tersebut memberikan stimulus bagi mereka untuk bermain agar nafsu mereka terpenuhi.

iii. Kemarahan
Ketika penjudi dihadapi kondisi kekalahan atau rungkat, penjudi cenderung tidak bisa mengontrol perasaan emosional mereka. Ekspresi, gestur, dan perilaku mereka menunjukkan bahwa mereka tidak menerima kekalahan tersebut dan ingin bermain kembali dengan harapan kemenangan agar menutupi kekalahan yang mereka terima.

Ilustrasi seorang penjudi yang depresi akibat bermain judi online

Adiksi yang didapati dalam bermain judi online tidak mudah untuk dihilangkan. Faktanya, sebagian penjudi online ingin agar berhenti untuk berjudi. Mereka ingin menjauhi segala hal yang berkaitan dengan judi online. Tetapi pada akhirnya, mereka kembali dan berjudi lagi, sungguh ironi. Kehilangan kendali atas diri mereka menjadikan penjudi diperbudak bandar. Mereka (penjudi) rela melakukan apa saja untuk bisa deposit dan bermain kembali. Fase ini, para penjudi tidak memandang judi sebagai tempat mencari uang dengan mudah. Melainkan, mereka menganggap judi adalah bagian dari mereka dan tidak dapat terpisahkan.

Judi Online telah memberikan kerugian sangat besar baik dalam bidang ekonomi, psikologi, maupun sosial. Dalam kacamata perekonomian negara, judi online berhasil membuat negara Indonesia merugi sebesar 200 triliun sampai periode 2023, berdasarkan data PPATK. Kerugian tersebut dihasilkan dari 156,7 juta transaksi dari 2,7 juta orang yang bermain judi online dengan 2,1 juta orang melakukan depost dibawah Rp 100 ribu. 2,1 juta orang tersebut ternyata dari kalangan masyarakat yang berpenghasilan rendah mulai dari pelajar, mahasiswa, buruh, petani, pegawai swasta, bahkan ibu rumah tangga.

Judi online juga memberikan dampak psikologis dan sosial yang besar pula bagi para penjudi. Umumnya, penjudi online memiliki emosi yang tidak stabil sehingga mereka tidak dapat menghadapi realita sosial dengan rasional. Judi online juga membuat para penjudi lebih suka berandai-andai dan lari dari kenyataan. Mereka selalu berhalusinasi akan mendapatkan jackpot (kemenangan besar dalam judi) padahal tidak ada ketentuan yang mengatur dan menjamin mereka akan mendapatkan jackpot tersebut. Ketika seorang penjudi telah kehilangan segalanya, di titik itulah mereka sadar dan memandang realita bahwa hidup mereka telah hancur.

Tidak ada cara yang pasti untuk menghilangkan adiksi terhadap judi, memang metode terapi dan meditasi dapat dilakukan. Namun, tidak ada hal yang pasti penjudi akan berhenti berjudi ketika telah melakukan metode tersebut. Oleh sebab itu, judi online menjadi permasalahan yang kompleks pada saat ini. Butuh tindakan yang tepat dari pemerintah dan lembaga yang berwenang dalam menyikapi isu judi online ini .

Afdhal Zikhri, mahasiswa Ilmu Komunikasi dari Universitas Andalas

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/read/judi-online-tidak-hanya-adiksi-tetapi-lebih-dari-itu/6471/
Dicetak dari JurnalPost.com pada 05 November 2026 21:25.