Kembali
Mode hapus aktif. Klik paragraf, foto, judul, tabel, atau bagian lain yang tidak ingin masuk PDF.
JurnalPost.com

Joget dalam Pengajian dan sholawat: Saat Agama Jadi Konten dan Gus Jadi Seleb

Tim Editor: Redaksi · Tanggal: 8 Juli 2025
Sumber:
https://www.tiktok.com/discover/joget-di-majelis-sholawat-gus-baha

Oleh: Yohanes efendy

JurnalPost.com – Di zaman digital seperti sekarang, Terutama lewat platfrom seperti tiktok dan youtube, batas antara dakwah dan hiburan semakin kabur. Salah satu fenomena dari video viral tiktok yang mencolok di pandangan saya belakangan ini adalah acara Pengajian, Sholawatan atau kajian agama Islam yang diisi oleh figur publik bergelar “Gus”sebuah gelar kehormatan khas pesantren, namun dalam praktiknya menampilkan hal-hal yang problematis: berjoget ria yang sangat berlebihan diiringi musik sholawat yang malah memberikan kesan seperti penistaan agama, melibatkan perempuan tidak berhijab atau berhijab tapi dilibatkan dalam tarian yang kurang pantas, bahkan dipertontonkan secara masif di media sosial.

Fenomena ini tentu bukan sekadar soal “gaya dan variasi berdakwah anak muda” atau “pendekatan yang lebih santai”. Ini adalah gejala dari transformasi budaya populer atau penyelewengan yang harus dibaca secara kritis. Dalam kajian Cultural Studies, sebagai pendekatan analisis budaya kontemporer, membantu kita memahami bahwa ini bukan sekadar soal joget sholawatan, tapi soal kekuasaan, ideologi, dan resistensi.

Hegemoni dan Kelas Baru “Dai Influencer”, Dalam perspektif Antonio Gramsci, hegemoni adalah cara kelas dominan mempertahankan kekuasaan melalui konsensus budaya, bukan paksaan. Gus-gus seleb ini seringkali tidak berangkat dari kapasitas keilmuan yang kokoh, melainkan dari popularitas dan daya tarik performatif di ruang media. Ketika mereka berjoget di depan jamaah, mereka tidak sedang mendobrak tradisi konservatif, tetapi justru menyerap nilai-nilai pasar digital dan mempermainkan bentuk keagamaan sebagai komoditas visual.

Dengan membalut dakwah dalam kemasan “asik”, mereka berhasil membentuk hegemoni baru: bahwa agama harus tampil menghibur, nyentrik, dan “viralable” agar diterima generasi muda. Ini bukan emansipasi, ini modifikasi agama oleh logika kapitalisme digital.

Diskursus Media dan Produksi Makna: Islam sebagai Gimmick, Dalam analisis Michel Foucault, diskursus adalah cara di mana pengetahuan dan kekuasaan bekerja melalui bahasa dan simbol. Lewat media sosial, “kajian”dan “sholawatan” ini bukan sekadar menyampaikan pesan keislaman dan mengaji, tapi juga membentuk wacana baru tentang apa itu Islam yang “kekinian”. Islam jadi aksesori, bukan substansi.wanita berhijab bukan lagi simbol kesalehan atau kesadaran spiritual, tapi bagian dari atraksi visual yang diperintah untuk menari mengikuti arahan yang diberikan untuk menyenangkan gus seleb dan lawan jenis lainnya

Diskursus dakwah kemudian beralih: dari kesadaran menuju hiburan, dari tafsir menuju tren. Kamera jadi mihrab baru, algoritma jadi imamnya.

Identitas, Representasi, dan Politik Gender, Mengacu pada pemikiran Stuart Hall, representasi tidak pernah netral. Ketika perempuan berhijab atau tidak, diundang untuk tampil dan berjoget dalam ruang yang dibungkus agama, maka ada proses pengobjekan identitas perempuan secara halus. Mereka bukan subjek aktif, tetapi alat untuk mempertontonkan kesan “inklusivitas” dan “keterbukaan” palsu.

Ada relasi kuasa yang tidak setara: laki-laki (sang Gus) sebagai pemimpin spiritual dan perempuan sebagai “pelengkap” visualitas. Ini jelas bertentangan dengan semangat emansipatoris dalam feminisme maupun nilai-nilai kesetaraan sosial dalam konteks dakwah.

Budaya Sebagai Arena Konflik Makna, Fenomena ini menunjukkan bahwa budaya termasuk budaya dakwah bukan ruang netral. Ia adalah arena konflik antara makna-makna antara dakwah sebagai proses penyadaran dengan dakwah sebagai konten komedi atau hiburan. Di satu sisi, ada publik yang menyambutnya sebagai pembaruan dakwah. Di sisi lain, ada resistensi dari masyarakat yang gelisah karena melihat penyederhanaan nilai-nilai agama menjadi bahan konsumsi digital

Inilah yang dikatakan Dick Hebdige sebagai bentuk”resistensi semiotik”ketika simbol-simbol keagamaan dibajak dari makna aslinya dan diredefinisi ulang secara liar oleh kultur populer.

Refleksi dan Tindakan Emansipatoris, Pertanyaannya: apakah ini dakwah dan sholawatan atau sekedar hiburan? Apakah ini bentuk pembebasan ekspresi, atau justru penindasan baru oleh budaya pasar dan algoritma? Saat pengajian lebih mirip variety show dan ulama bersaing dengan selebgram, kita perlu berhenti dan berpikir ulang.

Sebagai alternatif praksis, kita bisa:

1. Memberikan edukasi kepada masyarakat dengan konten literasi media agama yang benar dan jelas agar tak mudah terjerumus dengan kemasan visual yang menyesatkan di media sosial.

2. Mengkritisi otoritas keagamaan populer dengan standar keilmuan, bukan popularitas, bisa juga memberikan lisensi yang didapatkan dengan pengujian kelayakan untuk berdakwah

3. Memberi ruang pada ulama perempuan atau suara minoritas yang menyuarakan bentuk dakwah yang adil gender dan tidak performatif.

Karya ini dibuat oleh Yohanes Efendy (1152200076) untuk memenuhi tugas UAS Mata Kuliah Media & Cultural Studies yang diampuh oleh Dr. Merry Fridha Tri Palupi, M.Si. Dari Program Studi Ilmu Komunikasi, Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya.

Daftar Pustaka
Zainal Abidin (2021). Transformasi sholawat: Dari Ritual Keagamaan ke Musik Hiburan di Zaman Modern. Kompasiana.
Rijal, S. (2018, 2020a, 2020b). Serangkaian artikel: Kaum Muda Pecinta Habaib: Kesalehan Populer dan Ekspresi Anak Muda di Ibu Kota (Afkaruna, 14[2]: 166–219), https://doi.org/10.18196/AIIJIS.2018.0086.166-189
Waluyajati, R. S. R. (2022). Budaya Pop Dalam Tradisi Shalawatan Pada Masyarakat Pedesaan. Religious: Jurnal Studi Agama‑Agama dan Lintas Budaya, 3(2).

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/read/joget-dalam-pengajian-dan-sholawat-saat-agama-jadi-konten-dan-gus-jadi-seleb/19741/
Dicetak dari JurnalPost.com pada 08 November 2026 09:39.