Oleh: Muhammad Farhan Musa Kesuma, mahasiswa program studi Psikologi Universitas Syiah Kuala.
Pendahuluan
Individualisme dan kolektivisme mulai terkenal sekitar tahun 1980-an dan masih menjadi isu yang menarik untuk terus dibahas hingga saat ini karena perkembangan generasi yang diiringi dengan pekembangan zaman yang mempengaruhi teknologi, lingkungan, politik, dan sosial budaya dalam kehidupan.
Dalam 20 tahun terakhir, gagasan untuk membandingkan masyarakat berdasarkan perbedaan antara individualisme dan kolektivisme semakin populer. Biasanya, peneliti memandang individualisme sebagai kebalikan dari kolektivisme.
Jadi mana yang lebih baik? kolektivis atau individualis?
Pengertian Individualisme
Istilah individualisme pertama kali dikemukakan oleh Alexis de Tocqueville untuk menyebutkan sebuah gejala terisolasinya individu dari masyarakat, yang diakibatkan oleh revolusi Perancis.
Individualisme mendasarkan dirinya pada anggapan bahwa individu tidak bergantung satu sama lain. Individualis menekankan kebebasan, kemandirian, dan pencapaian diri dengan mendefinisikan diri secara unik dan sering mengutamakan kepentingan pribadi di atas orang lain.
Menurut Hofstede, Waterman, dan Schwartz, definisi individualisme meliputi fokus pada hak daripada kewajiban, tanggung jawab pribadi, serta identitas yang dibentuk oleh pencapaian, keunikan diri, dan meminggirkan sosial.
Pengertian Kolektivisme
Meskipun terkadang dilihat sebagai hal yang berlawanan, mungkin lebih tepat untuk mengkonseptualisasikan individualisme dan kolektivisme sebagai pandangan dunia yang berbeda dalam hal isu-isu yang mereka tonjolkan. kolektivis melihat diri mereka sebagai bagian dari kelompok—seperti keluarga, teman, atau rekan kerja—yang menekankan hubungan sosial, kesetiaan, dan kerja sama.
Kolektivisme merujuk pada nilai, sikap, dan perilaku yang lebih luas daripada individualisme.
Kolektivisme berasumsi bahwa individu terikat oleh kelompok dan kewajiban sosial yang mengikat. Selain itu, penalaran kausal dan atribusi dalam budaya kolektivis lebih dipengaruhi oleh konteks sosial dan peran yang dimainkan, sementara hubungan antar anggota kelompok dianggap stabil, saling menguntungkan, dan bermakna.
Konsekuensi Individualisme dan Kolektivisme dalam Empat Aspek Psikologi:
| Individualisme | Kolektivisme | |
| Konsep Diri | • menciptakan dan mempertahankan rasa positif terhadap diri sendiri merupakan usaha dasar manusia
• Kenyamanan dengan diri sendiri, pencapaian pribadi, serta kepemilikan sikap dan pendapat unik sangat dihargai • sifat-sifat abstrak (yang berlawanan dengan sifat-sifat sosial dan situasional) merupakan hal yang penting dalam pendefinisian diri. |
• keanggotaan kelompok merupakan aspek utama dari identitas.
• Nilai yang dihargai mencerminkan tujuan kolektivisme, seperti pengorbanan demi kepentingan bersama dan menjaga keharmonisan dalam hubungan dengan orang-orang terdekat. |
| Kesejahteraan | • ekspresi emosional yang terbuka dan pencapaian tujuan pribadi seseorang merupakan sumber penting dari kesejahteraan dan kepuasan hidup. | • kepuasan hidup diperoleh dari keberhasilan menjalankan peran dan kewajiban sosial dan menghindari kegagalan dalam domain-domain tersebut.
• Pengekangan dalam mengekspresikan emosi lebih dihargai, karena hal ini dianggap penting untuk menjaga keharmonisan kelompok, berbeda dengan ekspresi perasaan pribadi secara terbuka.
|
| Penilaian, Penalaran Kausal, dan Atribusi | • Dalam individualisme lebih mengutamakan peran individu daripada faktor situasional atau konteks sosial. Hubungan sebab-akibat dianggap stabil dan tidak bergantung pada situasi tertentu, berbeda dengan pendekatan yang lebih kontekstual | • Penilaian, penalaran, dan atribusi kausal sangat dipengaruhi oleh konteks sosial, kendala situasional, dan peran sosial.
• Makna dikontekstualisasikan dan ingatan kemungkinan besar mengandung detail yang sangat melekat
|
| Relasionalitas | • Meskipun hubungan sosial dan keanggotaan kelompok penting untuk mencapai tujuan pribadi, tapi hubungan itu dianggap mahal untuk dipertahankan.
• Para individualis cenderung meninggalkan hubungan atau kelompok ketika biaya partisipasi melebihi manfaat, dan mereka akan mencari atau membentuk hubungan baru sesuai dengan perubahan tujuan pribadi. |
• Hubungan penting antar anggota kelompok dianggap sebagai fakta kehidupan yang harus diakomodasi dan bersifat tetap.
• Batas antara kelompok dalam dan kelompok luar dipandang stabil, relatif tidak dapat ditembus, dan memiliki nilai penting. • pertukaran antar-kelompok didasarkan pada prinsip-prinsip persamaan atau bahkan kedermawanan. |
Individualisme dan kolektivisme adalah dua perspektif yang membentuk cara individu berinteraksi dengan masyarakat. Individualisme menekankan kebebasan, pencapaian pribadi, dan ekspresi diri, sementara kolektivisme mengutamakan hubungan sosial, kerja sama, dan kepentingan kelompok. Kedua pendekatan ini memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing, tergantung pada nilai budaya yang dianut masyarakat.
Oleh: Muhammad Farhan Musa Kesuma, mahasiswa program studi Psikologi Universitas Syiah Kuala.
Referensi
Oyserman, D., Coon, H. M., & Kemmelmeier, M. (2002). Rethinking individualism and collectivism: Evaluation of theoretical assumptions and meta-analyses. Psychological Bulletin, 128(1), 3–72.