Kembali
Mode hapus aktif. Klik paragraf, foto, judul, tabel, atau bagian lain yang tidak ingin masuk PDF.
JurnalPost.com

Identitas Nasional Yunani dalam Sengketa Nama Bersama FYROM

Tim Editor: Redaksi · Tanggal: 20 Januari 2024

JurnalPost.com – Yunani menolak aksesi FYROM ke UE karena ada sengketa nama yang Republic of Macedonia. Yunani berpendapat bahwa nama “Macedonia” adalah nama Yunani yang telah digunakan selama berabad-abad, dan bahwa penggunaan nama tersebut oleh FYROM dapat menimbulkan kebingungan dan konflik.

Yunani khawatir bahwa jika FYROM diterima sebagai anggota UE dengan nama “Macedonia”, maka hal itu dapat menyebabkan klaim teritorial FYROM terhadap wilayah Makedonia Yunani. Yunani juga khawatir bahwa penggunaan nama “Macedonia” oleh FYROM dapat mengklaim warisan budaya dan sejarah Yunani.

Sengketa nama ini telah berlangsung selama bertahun-tahun, dan telah menjadi salah satu hambatan utama bagi aksesi FYROM ke UE. Pada tahun 2018, Yunani dan FYROM akhirnya mencapai kesepakatan untuk menyelesaikan sengketa tersebut. Kesepakatan tersebut menetapkan bahwa FYROM akan mengganti namanya menjadi “Republik Makedonia Utara”.

Kesepakatan tersebut telah disetujui oleh parlemen kedua negara, dan telah diterima oleh NATO. Namun, perjanjian tersebut masih belum diratifikasi oleh Parlemen Yunani.

Penolakan Yunani untuk meratifikasi perjanjian tersebut telah mempersulit proses aksesi FYROM ke UE. UE telah mengatakan bahwa mereka tidak akan menerima FYROM sebagai anggota tanpa persetujuan Yunani.

Jika Yunani akhirnya meratifikasi perjanjian tersebut, maka FYROM kemungkinan akan diterima sebagai anggota UE dalam beberapa tahun mendatang. Namun, jika Yunani terus menolak untuk meratifikasi perjanjian tersebut, maka aksesi FYROM ke UE akan tetap tertunda.

Yunani menolak aksesi FYROM ke UE karena sengketa nama Macedonia. Sengketa ini berkaitan dengan sejarah, persebaran etnis, dan perpindahan kekuasaan di wilayah Makedonia.

Dalam sejarah, wilayah Makedonia pernah menjadi bagian dari Kerajaan Makedonia kuno. Kerajaan ini berkuasa di wilayah yang sekarang termasuk Yunani, FYROM, dan Bulgaria. Raja Makedonia yang paling terkenal adalah Aleksander Agung, yang memperluas kekuasaannya hingga ke Asia.

Setelah runtuhnya Kerajaan Makedonia kuno, wilayah ini dikuasai oleh berbagai kerajaan dan kekaisaran, termasuk Romawi, Bizantium, dan Ottoman. Pada abad ke-19, wilayah ini menjadi bagian dari Kekaisaran Ottoman.

Pada akhir abad ke-19, wilayah Makedonia menjadi tempat konflik antara orang-orang Yunani, Bulgaria, dan Serbia. Ketiga kelompok etnis ini sama-sama mengklaim wilayah Makedonia sebagai tanah air mereka.

Pada tahun 1913, wilayah Makedonia dibagi antara Yunani, Bulgaria, dan Serbia. Yunani mendapatkan wilayah Makedonia yang paling besar, termasuk wilayah yang sekarang menjadi bagian dari FYROM.

Setelah Perang Dunia II, wilayah Makedonia menjadi bagian dari Yugoslavia. Pada tahun 1991, Yugoslavia pecah, dan FYROM menyatakan kemerdekaannya.

FYROM menggunakan nama “Republik Makedonia” sebagai nama negaranya. Nama ini menimbulkan protes dari Yunani, yang berpendapat bahwa nama tersebut adalah nama Yunani yang telah digunakan selama berabad-abad.

Yunani khawatir bahwa penggunaan nama “Macedonia” oleh FYROM dapat menimbulkan kebingungan dan konflik. Yunani juga khawatir bahwa penggunaan nama tersebut dapat mengklaim warisan budaya dan sejarah Yunani.

Berikut adalah beberapa ketakutan Yunani kalau si FYROM pake nama Macedonia:

• Ketakutan teritorial: Yunani khawatir bahwa FYROM akan mengklaim wilayah Makedonia Yunani sebagai bagian dari wilayahnya.
• Ketakutan budaya dan sejarah: Yunani khawatir bahwa FYROM akan mengklaim warisan budaya dan sejarah Yunani.
• Ketakutan politik: Yunani khawatir bahwa FYROM akan menjadi ancaman bagi stabilitas politik di wilayah Balkan.

Jika FYROM menggunakan nama “Macedonia”, maka hal itu dapat menimbulkan ketegangan antara Yunani dan FYROM. Ketegangan ini dapat berdampak negatif terhadap hubungan kedua negara, dan dapat mengganggu stabilitas politik di wilayah Balkan.

Meskipun FYROM telah mengganti namanya menjadi “Republik Makedonia Utara”, Yunani masih menolak untuk meratifikasi perjanjian yang menyelesaikan sengketa nama tersebut. Ada beberapa alasan untuk hal ini:

• Ketakutan teritorial: Yunani masih khawatir bahwa FYROM akan mengklaim wilayah Makedonia Yunani sebagai bagian dari wilayahnya. Perjanjian tersebut tidak secara tegas melarang FYROM untuk mengklaim wilayah tersebut di masa depan

• Ketakutan budaya dan sejarah: Yunani masih khawatir bahwa FYROM akan mengklaim warisan budaya dan sejarah Yunani. Perjanjian tersebut hanya mengakui bahwa FYROM memiliki “warisan sejarah dan budaya yang kaya” yang berkaitan dengan Makedonia kuno, tetapi tidak secara spesifik menyebutkan bahwa warisan ini berbeda dari warisan Yunani.

• Ketakutan politik: Yunani masih khawatir bahwa FYROM akan menjadi ancaman bagi stabilitas politik di wilayah Balkan. Perjanjian tersebut tidak secara tegas menjamin bahwa FYROM akan menjadi anggota UE, dan Yunani khawatir bahwa FYROM dapat menjadi negara yang tidak stabil dan tidak demokratis.

Selain itu, ada juga faktor-faktor politik domestik di Yunani yang berperan dalam penolakan Yunani terhadap aksesi FYROM ke UE. Beberapa kelompok politik di Yunani berpendapat bahwa perjanjian tersebut merugikan kepentingan Yunani, dan mereka telah memberikan tekanan kepada pemerintah Yunani untuk tidak meratifikasi perjanjian tersebut.

Penolakan Yunani terhadap aksesi FYROM ke UE telah menjadi hambatan utama bagi proses aksesi FYROM ke UE. Jika Yunani akhirnya meratifikasi perjanjian tersebut, maka FYROM kemungkinan akan diterima sebagai anggota UE dalam beberapa tahun mendatang. Namun, jika Yunani terus menolak untuk meratifikasi perjanjian tersebut, maka aksesi FYROM ke UE akan tetap tertunda.

Oleh:
Alya Syifana Dharmanto
Mahasiswi Ilmu Hubungan Internasional
Universitas Teknologi Yogyakarta

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/read/identitas-nasional-yunani-dalam-sengketa-nama-bersama-fyrom/10880/
Dicetak dari JurnalPost.com pada 05 November 2026 12:22.