
JurnalPost.com – MBKM WMK 23 atau Wirausaha Merdeka 2023 adalah program yang diselenggarakan oleh Kementrian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi yang mengajak mahasiswa untuk menjadi wirausahawan diluar kelas perkuliahan. Program wirausaha merdeka ini dimulai pada tanggal 7 Agustus 2023 sampai 15 Desember 2023. Pola berpikir mahasiswa dibentuk untuk dapat kritis dalam menangkap permasalahan lingkungan dan berinovasi untuk menyelesaikannya. Langkah tersebut ditujukan agar mahasiswa dapat memulai usaha berdasarkan permasalahan yang timbul dalam lingkungan dan masyarakat.
Hidroponik menjadi kegiatan bercocok tanam yang banyak dipilih sebagian orang pada saat pandemi Covid-19 melanda. Metode bercocok tanam yang simple tanpa menggunakan media tanah, proses menanam yang organik, dan cocok untuk melepas rasa bosan. Metode ini menggunakan air yang kaya akan unsur hara sebagai media dan tidak menggunakan pestisida dalam proses merawatnya. Namun, mayoritas petani hidroponik dan pelaku hidroponik tidak sadar jika masih meninggalkan limbah pertanian yaitu rockwool. Rockwool adalah media semai tanaman hidroponik, terbuat dari kombinasi batuan basalt, batu kapur, dan batu bara yang dipanaskan dengan susu 1.600 derajat Celcius.
Gading Kharisma Mahesa, mahasiswa semester 3 aktif program studi Ilmu Komunikasi Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya bersama dengan kelompoknya membuat inovasi media semai tanaman hidroponik pengganti rockwool yang ramah lingkungan, memiliki fungsi keberlanjutan, dan tidak memiliki resiko kesehatan dalam program Wirausaha Merdeka 2023 Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM WMK 2023). Analisis permasalahan dilakukan di Emak Farm and Hidroponik yang berlokasi di Wadungasri, Waru, Sidoarjo. Masalah yang ditemukan yaitu rockwool menjadi limbah hidroponik yang tidak disadari. Pendampingan dalam mengembangkan inovasi media semai dibantu oleh bapak Arthanda Fully I., Manajer Emak Farm and Hidroponik dan dosen pembimbing lapangan yakni ibu Beta Puspitaning Ayodya, S.Sos., M.A yang selalu memberikan dukungan dan arahan agar inovasi media semai berpedoman pada kelestarian lingkungan dan meminimalisir limbah.
Rockwool yang selama ini menjadi media semai tanaman hidroponik ternyata memiliki efek yang buruk, baik bagi lingkungan dan kesehatan. Walaupun bahan baku dari rockwool merupakan bahan organik, namun rockwool tidak mudah terurai apabila sudah tidak dipakai. Berdasarkan data dari Material Safety Data Sheetrockwool, penggunaan rockwool memiliki beberapa resiko kesehatan jangka pendek. Diantaranya:
1. Jika debu tertelan dapat mengakibatkan iritasi bibir, mulut, dan tenggorokan;
2. Debu rockwool jika masuk kedalam mata dapat menyebabkan ketidaknyamanan dan kemerahan;
3. Dapat mengiritasi kulit yang mengakibatkan gatal dan terkadang ruam merah;
4. Jumlah debu yang berlebihan dari rockwool dapat mengakibatkan ketidaknyamanan hidung (hidung tersumbat dan pilek), tenggorokan dan saluran pernapasan, terutama pada orang yang memiliki riwayat penyakit penapasan seperti asma dan bronkitis.
Berdasarkan dampak negatif yang dihasilkan rockwool, Gading bersama rekan kelompoknya membuat inovasi media semai tanaman hidroponik yang berbahan dasar dari sabut kelapa dan tepung maizena. Sabut kelapa dihaluskan terlebih dahulu, lalu dicampur dengan tepung maizena sebagai pemadat dengan perbandingan 2:1. Inovasi media semai ini tidak menimbulkan resiko kesehatan, ramah lingkungan, dan dapat digunakan sebagai pupuk tanaman media tanah setelah pemindahan tunas tanaman hidroponik.
Bercocok tanam hidroponik menggunakan inovasi media semai dari sabut kelapa dapat menjadi pilihan karena memiliki fungsi keberlanjutan, ramah lingkungan, dapat digunakan sebagai pupuk tanaman media tanah, dan mendukung program SDGs.