
Oleh: Riris Srikandi Mahardika (Civitas Akademika Departemen Biologi UNAND)
JurnalPost.com – Palestina merupakan negeri yang aman dan makmur sebelum zionis merampas hak seluruh rakyat palestina. Terhitung sejak masuknya kaum yahudi sebagai pengungsi di palestina pada abad ke-19, tak hanya konflik kemanusiaan yang terjadi, namun juga diikuti dengan isu kerusakan lingkungan yang sengaja dilakukan oleh Israel untuk memblokade dan membatasi aktivitas masyarakat palestina.
Dilansir dari Al-Jazeera, pada tanggal 3 Juni 2019, para peneliti dari universitas Tel Aviv dan Ben-Gurion di Israel mempresentasikan sebuah laporan yang ditugaskan oleh organisasi lingkungan hidup EcoPeace Middle East, dimana mereka memperingatkan bahwa runtuhnya infrastruktur air, limbah dan listrik di Jalur Gaza menimbulkan bahaya besar bagi masyarakat israel. Ya, mereka seolah-olah melaporkan akibat yang mereka timbulkan dari penjajahan oleh bangsa mereka sendiri. Padahal dalam beberapa decade terakhir, masyarakat palestina bahkan hidup di lingkungan yang tidak manusiawi akibat kolonisasi.
Keadaan lingkungan di gaza sangat memprihatinkan saat ini, namun bukan pihak Palestina yang menyebabkan hal tersebut. Laporan yang tak terhitung jumlahnya yang diterima PBB dan organisasi lain telah memperlihatkan secara rinci bagaimana dan mengapa pelaku utamanya adalah Israel. Salah satu contohnya yaitu masalah limbah yang tidak diolah dan berakhir di laut yang menyebabkan masalah bagi pantai di sekitar wilayah okupasi israel dan pabrik desalinasi air disana. Alasan mengapa limbah Gaza dibuang dengan cara yang “tidak bertanggung jawab” adalah karena instalasi pengolahan air tidak beroperasi, karena fasilitas tersebut menjadi sasaran serangan Israel pada tahun 2014 di Jalur Gaza dan tidak pernah dibangun kembali karena pengepungan Israel tidak memungkinkan masuknya bahan konstruksi dan alat-alat untuk pembangunan ulang.
Kejahatan yang dilakukan Israel seperti penghancuran fasilitas air, memasukkan racun ke sumur, dan menimbun sumber mata air selain berdampak terhadap lingkungan juga berpotensi menjadi sumber epidemi bagi warga Palestina. Menurut Kementerian Kesehatan Palestina, penyakit diare telah meningkat dua kali lipat, mencapai tingkat epidemi, sementara penyakit tipes juga meningkat.
Gaza juga mengalami dampak kerusakan lingkungan yang lagi-lagi terkait dengan pendudukan dan agresi Israel terhadap Palestina. Tentara Israel secara rutin menyemprotkan herbisida ke lahan subur Palestina di dekat pagar pembatas yang memisahkan wilayah yang terkepung dari Israel. Bahan kimia yang paling sering digunakan adalah glifosat, yang terbukti menyebabkan kanker. Menurut Palang Merah, aktivitas tersebut tidak hanya merusak tanaman Palestina tetapi juga mencemari tanah dan air. Akibatnya, lahan tersebut tidak lagi dapat digunakan untuk kegiatan pertanian ataupun peternakan karena tanah dan airnya tidak lagi aman untuk makhluk hidup.
Terhitung sejak 7 Oktober 2023, pemboman besar-besaran yang dilakukan oleh IDF (Israel Defense Force), sebutan untuk tentara penjajah Israel di Jalur Gaza, juga berkontribusi terhadap polusi. Bahkan, Salah satu senjata yang digunakan oleh Israel untuk menyerang warga sipil palestina adalah bom fosfor putih, yang secara internasional illegal untuk digunakan terhadap sipil dan wilayah padat penduduk. Hingga saat ini, tidak hanya korban jiwa yang terus meningkat, tetapi bom fosfor juga dapat menjadi sumber risiko yang mengancam kesehatan jangka panjang walaupun setelah pemboman berhenti. Senjata yang digunakan dalam operasi militer Israel telah mencemari lingkungan di Gaza dengan logam berat seperti tungsten, merkuri, kobalt, barium, dan kadmium, yang diketahui menyebabkan kanker, cacat lahir, infertilitas, dan lain-lain.
Israel juga mencemari tanah Palestina dengan menggunakannya sebagai tempat pembuangan sampah. Diperkirakan sekitar 80 persen sampah yang dihasilkan oleh pemukiman Israel dibuang di wilayah Tepi Barat (West Bank). Berbagai industri dan tentara Israel juga diketahui membuang limbah beracun disana.
Israel juga melanjutkan praktik pengrusakan lingkungannya selama dengan mencabut pohon-pohon di kebun zaitun dan pohon buah-buahan yang ditanam oleh masyarakat Palestina. Strategi ini, yang dimaksudkan untuk memutuskan hubungan antara warga Palestina dengan tanah mereka, tidak hanya mengakibatkan hilangnya mata pencaharian ribuan petani dan sumber pangan rakyat Palestina, namun juga menyebabkan erosi tanah dan mempercepat penggurunan di wilayah Palestina yang diduduki oleh israel. Lingkungan hidup selalu memiliki “daya lenting” atau batas toleransi nya untuk pulih kembali dari kerusakan yang dialami. Namun apabila kita melihat skala kerusakan yang diperbuat oleh Israel, waktu yang diperlukan lingkungan untuk pulih dan mendukung kehidupan didalamnya pun relatif lama.
Pada akhirnya, usaha israel dalam merusak bumi palestina sekarang mengancam kehidupan mereka sendiri. Hal ini dapat dilihat dari keluhan-keluhan warga Israel sendiri yang sekarang mengaku kekurangan sumber air bersih dan garis pantai yang diokupasi militer mereka tercemar oleh limbah dan logam. Selama Israel masih menjajah dan menindas rakyat Palestina, kemenangan dan keamanan baik dari segi lingkungan hidup atau lainnya yang ingin mereka capai tidak akan pernah terealisasi karena usaha yang mereka lakukan merusak lingkungan beserta isinya. Udara, air, dan lingkungan Israel secara keseluruhan tidak akan pernah bebas dari kerusakan yang diperbuat Israel di wilayah pendudukan Palestina.