
Oleh: Gangga Permana
JurnalPost.com – Perkenalkan nama saya Gangga Permana Kelompok KKN R11 Sidokumpul. Sub Kelompok Pelarihan 1. Sub-Kelompok 1 menyelenggarakan pelatihan bertajuk “Coding Ceria: Ciptakan Media Edukatif Berbasis Barang Bekas, Kembangkan Logika Anak Usia Dini” pada [tanggal pelaksanaan], bertempat di [lokasi pelatihan]. Kegiatan ini ditujukan kepada guru-guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) sebagai upaya memperkenalkan konsep coding unplugged, yakni pengenalan dasar-dasar berpikir logis dan sistematis tanpa menggunakan perangkat digital, yang dikemas melalui Alat Permainan Edukatif (APE) berbahan dasar barang bekas.
Program pelatihan ini lahir dari hasil analisis kebutuhan yang dilakukan melalui observasi, wawancara, dan Focus Group Discussion (FGD) bersama guru-guru PAUD. Dari proses tersebut, ditemukan bahwa media pembelajaran coding di jenjang PAUD masih sangat terbatas, sementara guru membutuhkan alternatif yang mudah diterapkan, ekonomis, dan ramah lingkungan. Menjawab kebutuhan itu, Sub-Kelompok 1 merancang dua produk utama, yaitu APE Coding Huruf dan APE Coding Maze, yang keduanya memanfaatkan barang bekas seperti tutup botol plastik, kardus, dan stik es krim.
APE Coding Huruf dirancang untuk membantu anak mengenal huruf dan menyusun kata melalui tutup botol yang ditempeli stiker huruf, sekaligus melatih kemampuan literasi awal dan pengenalan pola. Sementara itu, APE Coding Maze berupa papan labirin sederhana dari kardus dan stik es krim yang mengajak anak menyusun serta mengikuti instruksi arah, maju, mundur, belok kanan, dan belok kiri, guna melatih kemampuan menyusun langkah (algoritma) dan memecahkan masalah secara sistematis.
Pelatihan berlangsung melalui enam sesi, mulai dari pembukaan dan perkenalan, psikoedukasi mengenai konsep APE Coding, demonstrasi pengaplikasian, praktik langsung pembuatan APE, roleplay penggunaan APE dalam simulasi pembelajaran, hingga evaluasi dan penutupan. Pada sesi praktik, peserta dibagi ke dalam beberapa kelompok kerja untuk membuat APE Coding Huruf dan Maze secara langsung, sebelum kemudian mempresentasikan hasil karya masing-masing kelompok.
Menurut Ketua Sub-Kelompok 1, [nama ketua kelompok], tantangan terbesar dalam menyusun pelatihan ini adalah memastikan materi coding, yang selama ini identik dengan komputer dan layar, dapat dipahami secara konkret oleh guru PAUD dan tetap relevan diterapkan kepada anak usia dini yang berada pada tahap praoperasional.
“Tantangan kami adalah bagaimana membuat guru PAUD memahami bahwa coding tidak harus menggunakan komputer. Melalui APE Coding Huruf dan Maze, kami ingin menunjukkan bahwa kemampuan berpikir logis anak bisa dilatih lewat permainan sederhana dari barang bekas yang ada di sekitar mereka,” tuturnya
Selama pelatihan berlangsung, para guru menunjukkan antusiasme tinggi, khususnya pada sesi praktik pembuatan dan roleplay. Banyak peserta mengaku baru pertama kali mencoba membuat media pembelajaran coding secara mandiri, dan merasa terbantu karena bahan-bahan yang digunakan mudah didapatkan di lingkungan sekitar.
Salah satu peserta pelatihan, [nama guru perwakilan], guru PAUD [nama lembaga PAUD], menyampaikan apresiasinya terhadap kegiatan ini.
“Saya jadi lebih paham bagaimana mengenalkan konsep berpikir logis kepada anak tanpa harus punya komputer atau gadget. APE Coding Huruf dan Maze ini sederhana, tetapi anak-anak pasti akan senang memainkannya. Semoga ilmu ini bisa langsung saya terapkan di kelas,” ujarnya.
Melalui pelatihan ini, Sub-Kelompok 1 berharap guru-guru PAUD tidak hanya memperoleh alat peraga baru, tetapi juga kepercayaan diri untuk terus mengembangkan media pembelajaran kreatif berbasis barang bekas secara mandiri. Ke depan, tim berharap APE Coding Huruf dan Maze dapat diterapkan secara berkelanjutan di satuan PAUD masing-masing peserta, sebagai langkah kecil untuk menumbuhkan kemampuan computational thinking sejak usia dini secara lebih luas.