
Oleh: Septa Ahmad Santoso, Siti Samhati, Edi Suyanto
JurnalPost.com – “Bahasa Indonesia itu mudah, yang penting mengerti maksudnya.” Anggapan seperti ini sering muncul di ruang kelas. Di satu sisi, hasil penilaian literasi menunjukkan bahwa kemampuan membaca dan memahami masih rendah. Namun, di sisi lain, kebijakan pendidikan justru membuat guru lebih sibuk dengan urusan administrasi. Dalam situasi seperti ini, guru bahasa Indonesia berada pada posisi yang tidak mudah: mereka dituntut menjaga kemampuan literasi siswa, sementara banyak orang menganggap bahasa hanya sebagai alat komunikasi sehari-hari, bukan sebagai sarana untuk melatih cara berpikir.
Masalah ini sebenarnya bukan semata-mata karena kurangnya kemauan guru, melainkan karena adanya tuntutan dari sistem pendidikan. Guru harus menyelesaikan target pembelajaran yang cukup padat dengan aturan penilaian yang seragam. Selain itu, budaya sekolah yang masih menekankan hasil akhir membuat pembelajaran yang menyesuaikan kebutuhan masing-masing siswa menjadi sulit diterapkan. Padahal, setiap siswa memiliki kemampuan dan kecepatan belajar yang berbeda, baik dalam memahami materi, mengikuti proses pembelajaran, maupun menghasilkan tugas.
Di lapangan, pembelajaran yang disesuaikan dengan kebutuhan siswa sering kali hanya menjadi istilah yang tertulis dalam dokumen. Misalnya, dalam melatih keterampilan menyimak dan berbicara, guru sebenarnya dapat memberikan kegiatan yang berbeda sesuai dengan karakter siswa. Siswa yang senang belajar melalui audio dan visual dapat mendengarkan podcast, sedangkan siswa yang aktif bergerak dapat melakukan wawancara langsung. Hal yang sama juga berlaku dalam keterampilan membaca dan menulis. Guru dapat memberikan pilihan topik yang sesuai dengan minat siswa, seperti masalah lingkungan atau perkembangan teknologi, sehingga tulisan yang dihasilkan benar-benar berasal dari pemikiran mereka sendiri, bukan sekadar menyalin dari sumber lain.
Namun, upaya seperti ini sering terhambat oleh aturan penilaian yang kaku. Guru tidak hanya menghadapi siswa dengan latar belakang yang beragam, tetapi juga harus mengikuti sistem penilaian yang menuntut keseragaman. Penilaian yang berbeda sesuai kemampuan siswa kadang dianggap tidak adil, padahal keadilan dalam pendidikan justru berarti memberikan penilaian sesuai perkembangan masing-masing individu. Jika sistem tidak memberi ruang untuk penilaian yang lebih fleksibel, guru biasanya akan kembali menggunakan cara mengajar yang sama untuk semua siswa.
Oleh karena itu, perbaikan perlu dilakukan secara menyeluruh. Menguatkan peran guru bahasa Indonesia bukan hanya dengan memperkenalkan aplikasi atau metode baru, tetapi dengan memberi kesempatan kepada guru untuk fokus pada tugas utamanya, yaitu membimbing siswa agar mampu berpikir dan memahami makna. Jika guru terus dibebani pekerjaan administratif dan aturan penilaian yang tidak mempertimbangkan kondisi siswa, maka tidak mengherankan apabila banyak orang mampu membaca, tetapi masih kesulitan memahami isi bacaan.